728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Wednesday, 18 December 2013

Aditya Ranggadani : Cerita Sang Pemimpi

Adit,
Ceritamu beberapa tahun lalu begitu melekat dalam imajinasiku. Hingga suatu malam, di depan teras gedung yang setahun kita tinggal bersama itu kau bercerita tentang sebuah pengalaman indah. Tentang perjalananmu ke negeri para dewa, pulau dewata, Bali!.

Berawal dari kota dingin Malang, bersama dengan dua orang temanmu, satu adalah penjaga wartel, dan satu lagi adalah pengamen jalanan sejati. Sedangkan kamu sendiri adalah pemerah susu sapi yang bekerja setiap pagi dan sore hari.

Diantara seribu sebab, ada satu sebab yang membuat emosimu meledak, lalu kamu bersepakat dengan teman-temanmu itu untuk minggat ke negeri antah berantah. Ketika rencana itu matang, dengan modal beberapa lembar uang patungan dan satu gitar, berangkatlah kalian dengan kereta api menuju Banyuwangi, lalu berlayar dengan kapal ferry menuju pulau impian, Bali.

Maaf kalau aku salah bercerita, karena ceritamu sudah bercampur dengan imajinasiku. Seingatku kalian sampai di pantai kuta di sore hari pertama kali di sana, ketika melihat gemuruh ombak (atau entah melihat bule-bule setengah telanjang itu) kalian bertiga berteriak kegirangan, membuat lomba lari tanpa aturan menuju lautan yang terkenal di dunia itu. Tawa lepas seakan melepas semua lelah, semua penat, dan semua sisa emosi yang pernah terjadi di kota Malang.

Malam mulai menghadang, basah kuyup  oleh air asin lautan. Ketika kalian melepas lelah di pasir pantai itu, dengan dada ngos-ngosan naik-turun sembari tiduran, kalian baru sadar…. “lantas apa yang akan kita lakukan di sini kawan?!”

Singkat cerita, perjalanan minggat tanpa tujuan itu dilanjutkan di sebuah kotak kamar kos-kosan yang kalian sewa per-bulan, tentu saja kalian berani menyewa kamar kos itu karena harganya yang sangat murah, dan karena harga sewanya yang murah itulah wajar juga kalau kamar itu adalah kamar kotor yang ternyata adalah bekas dapur pemilik kosan. Hanya ada selembar  tikar dan satu kompor minyak disana. Hari-hari pertama dengan uang yang ada kalian hanya mengisi perut dengan mie goring dan mie rebus.

Dengan perut lapar dan kehidupan yang mendesak (saya katakan mendesak, karena kalau hidup hanya begitu-begitu saja maka tak lama lagi kalian akan mati hehehe), kalian pun memutar otak untuk mendapatkan uang. Bagaimana caranya, uang sudah menipis dan satu-satunya modal adalah gitar si teman pengamen mu.

Sejak saat itu, bertiga kalian setiap hari keluar meneriakkan suara-suara sumbang yang tidak enak itu di seluruh pulau Bali. Awal-awal bernyanyi di jalanan kalian tidak PD karena ternyata penyanyi-penyanyi jalanan di sana semua keren-keren banget, sedangkan kalian?.... oh my good, gak ada tampang!!!. Namun perut yang selalu lapar tetap menuntut kalian untuk cari uang dengan cara itu. “Penghasilannya lumyan far, di sana kalau ngasih uang gedhe-ghede:” ceritamu dengan bangga kepadaku.

Entah sudah minggu ke berapa kalian hidup di jalanan dan kotak kamar kos kumuh itu, si pemerah susu dan penjaga wartel pun sudah bosan bernyanyi. Setelah kesana-kemari mencari cara lain, akhirnya kau dapatkan juga jalan lain. Ada satu kafe yang baru dibuka di suatu tempat, setiap malam kamu jadi pelayan di kafe itu. Dan setiap pulang ke kosan, selalu saja kamu mengambil jatah makanan dari kafe untuk dua temanmu di kosan. Kali ini kalian tak lagi melulu makan mie seperti dulu, karena uang dari menyanyi dan makanan gratis sisa kafe membuat kalian tidur kekenyangan sembari terus mimpi indah pada setiap malam.

Dan entah sudah minggu ke berapa, profesimu sudah berganti lagi. Kamu tak menjadi pelayan lagi di kafe. Bermula dari tawaran kerja seorang majikan Bakso, akhirnya kamu dan teman si penjaga wartel itu mendatangi Boss Bakso, si Boss ini mempunyai banyak gerobak bakso dan setiap gerobak dipegang oleh satu karyawannya yang akan berkeliling di tiap gang-gang dan kampung. Peta penjualan  sudah dibagikan agar dalam satu kampung tidak bertemu dengan gerobak lain bermerk Bakso yang sama. Hingga suatu hari, pekerjaan sebagai penjual bakso keliling pun kau lakoni, dan baru kali ini aku dengar ada satu gerobak bakso yang dijual dengan dua orang, Ya, itu hanya gerobak baksomu. Karena alasan baru pertamakali menjual bakso seperti ini, maka kamupun diizinkan berjualan berda dengan temanmu itu.

“Ternyata dorong gerobak bakso itu berat far” ceritamu di malam itu dengan semangat.

Hari pertama menjual bakso, kamu dan temanmu akhirnya menemui satu kesulitan. Ketika kamu sedang asyik-asyiknya mendorong gerobak masuk ke sebuah gang sepi dan di samping kanan-kiri hanya ada dinding rumah. Tiba-tiba seekor anjing menghadang di depan gerobak. Kamu dan temanmupun tak berkutik, tak bisa mundur untuk kembali karena gerobak bakso sungguh berat, juga makin tak berani jika terus maju ke depan karena ada anjing sialan itu, dasar anjing!. Keputusan pun sudah ditentukan, dua penjual bakso ini hanya diam di tempat sembari menunggu hingga ada orang yang kebetulan lewat dan berkenan untuk membantu kalian mengusir anjing itu. Selesai lah masalah anjing di hari pertama ini,,,,,

Masih cerita tentang hari pertama kali menjual bakso, kali ini kamu bercerita tentang kekurangajaranmu hingga membuatku nyaris muntah untuk membayangkannya. Begini ceritanya: Entah sudah berapa kampung dan gang yang kau telusuri untuk berjualan bakso, hingga pada suatu gang sempit dan juga sepi  kamu menemui kesulitan kedua. Ada polisi tidur yang begitu mengganggu, susah sekali mendorong gerobak bakso itu untuk melewati polisi tidur, akhirnya dengan temanmu itu berhitung satu sampai tiga untuk mendorong keras-keras. Apa yang terjadi….. damn!!! Gerobak tak juga berhasil melewati polisi tidur sialan itu justru gerobak baksomu jatuh menyamping, bola-bola bakso pun berjatuhan…. Dan parahnya bola-bola bakso itu banyak juga yang jatuh ke Got (saluran pembuangan air) yang ada disepanjang jalan itu. Jengkel, takut, muak bercampur aduk di dada kalian, hari pertama sudah sesial ini, lalu bagaimana nanti kalau ditanya si Boss penjual Bakso, tentu saja dia tak mau rugi dan kalian lah yang harus mengganti setiap bola bakso itu. Pikiran melayang mencari ide, akhirnya ide cemerlang (yang bagiku menjijaykan) muncul dari kepala imajinatif mu. Celingak-celinguk tak ada orang di sepanjang jalan itu, bersama dengan temanmu kamu punguti lagi bola-bola daging enak itu dari jalanan dan saluran pembuangan air. Sialan sekali kamu dit, kau cuci bilas bakso-bakso itu, kau masukkan kembali ke gerobakmu dan kembali kamu jual bakso itu. Dengan deritamu di hari pertama menjual bakso itu, akhirnya hari itu juga menjadi hari terakhir kamu menjual bakso.

Hari-hari berikutnya, akhirnya kalian kembali bersama menjadi penyanyi jalanan meneriakkan suara-suara sumbar itu, dengan modal yang masih sama,gitar milik teman si pengamen, dan tepukan tangan kalian sebagai campuran musik untuk membuat nyanyian kalian “sedikit” merdu di telinga orang-orang.

Entah berapa bulan kalian seperti itu, walau tanpa tujuan, perjalanan ini selalu saja banyak tawa-tawa kegirangan di kamar kotak kosan itu. Dit masihkan kau ingat dengan nyanyian-nyanyian dan tawa-tawa itu?! Indah bukan….

Bosan pun melanda kalian, hingga lagi-lagi diantara ribuan sebab ada satu sebab yang membuat kalian rindu untuk kembali pulang. Sebelum pulang, kalian membeli cat semprot untuk menuliskan kata-kata jorok di dinding kamar kos itu, pergi pun kalian tak izin dan tak bayar bulan terakhir sewa kosan. Berangkatlah kalian pulang,,,, akhir cerita mereka ke Malang, dan kamu pun kembali ke Jakarta.

Di Jakarta kamu mengukir cerita kembali, kamu terus saja menyanyi, bahkan kamu sudah punya band yang kalau tidak salah bernama “InfraRed”, padahal saat itu sudah zamannya Bluetooth, dan sekarang sudah zamannya Wireless…

Entah beraliran apa group bandmu itu, sampai-sampai dengan muka jelekmu itu kamu masih saja pede bertingkah aneh memakai baju dan celana ketat berwarna norak dengan dasi super pendek masuk kampus. Uh dit, ketika aku melihatmu dengan dandan-an norak seperti itu, aku lari menghindar darimu, ogah banget dit, norak…. Kesurupan aliran musik apakah kamu saat itu. Salah satu lagu yang kau banggakan juga bercerita aneh, tentang spongeBob. OMG, sesuatu banget yah,,,,,

Oia dit, aku juga masih ingat, Kamu guru pertama kali yang mengajari saya bermain gitar dan bernyanyi. Sayang dit, ajaran-ajaranmu itu tak kuteruskan sampai saat ini, jamari-jemariku yang gemuk dan pendek ini selalu enggan memeluk dan menari-nari di atas gitar. Tapi aku juga bersyukur karena kalau aku teruskan bernyanyi dan bergitar bisa-bisa nanti aku berpakaian gila dan norak seperti yang kamu lakukan. Ihhh,,,,, ogah banget.

Adit,

Dari Malang, Bali, Jakarta, Pare…. Dan kini kau ada di China duduk membaca cerita ini sembari mungkin menyimpulkan senyum terkembang di bibirmu (Jangan lebar-lebar senyumnya!!! Bauuu).

Bukankah semua cerita ini, perjalanan ini, hingga saat ini adalah mimpi-mimpi indah?! Mimpi yang ketika kau menerawangnya kembali selalu saja membuatmu tersimpul malu, senang, dan bahagia.

Karena mimpi-mimpi ini pula, hingga suatu malam (di Indonesia) kita mengobrol dengan ketikan-ketikan jemari di ruang Maya, dan dalam obrolan itu dengan mantap bin yakin kau katakan padaku dari China: “Ini semua adalah MIMPI!!!”

Teruslah bermimpi kawan, teruslah bermimpi se bebas-bebasnya…. Karena ketika ada suatu hal yang tidak bebas kau lakukan di dunia nyata, dan nyatanya hal itu masih bebas kau lakukan di ruang mimpi dan imaji. Bahkan ketika kau kabarkan disana sedang dingin, lalu aku iming-imingi kamu dengan nasi goreng panas yang lezatnya bukan main, kau pun ber-DAMN kepadaku karena tak kuasa rindunya makanan itu. Maka saat itu harusnya kau melepas kembali jurus imaji untuk membayangkan nasi goreng panas ala Jakarta itu. Hahaha.,,,, mampuslah kau lama tak menikmati nasi goreng!

Teruslah bernyanyi, teruslah menari, teruslah bermimpi….

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Aditya Ranggadani : Cerita Sang Pemimpi Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar