728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Monday, 9 December 2013

Malaikat dalam al-Qur'an

Pengertian Malaikat

Dalam Bahasa arab, kata malaikat (ملائكة) adalah bentuk jama’ dari kata malk (ملك). Adapun huruf ta’ pada kata malaikat adalah untuk mengokohkan/menguatkan bahwa malaikat adalah kelompok/banyak. Terjadi perbedaan pendapat tentang asal kata malk (ملك). Menurut Abu Ubaidah kata malk adalah bentuk mif’al dari kata لأك yang berarti arsal atau mengutus. Sedangkan al-Kasa’i mengatakan bahwa terjadi maqlub wazan dari wazan mif’al menjadi mi’fal, sehingga yang asal katanya adalah ma’lak (مألك) yang berarti risalah atau utusan kini karena terjadi maqlub makaniy tersebut maka menjadi mal’ak (ملأك). Sedangkan menurut Ibn Kaisan kata malk (ملك) yang mempunyai arti kekuatan ( القوة ). Ini sebagaimana firman Allah Swt. :
عليها ملائكة غلاظ شداد

“…penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras…” (QS. At-Tahrim : 6).

 Sedangkan secara terminologi dalam al-qur’an malaikat adalah Makhluk Allah yang mempunyai ketaatan mutlak terhadap Allah.

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

 “… tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”. (QS. At-Tahrim : 6).

 Lebih lanjut untuk mengetahui malaikat dalam bentuk produksinya, kita juga dapat mengutip beberapa hadits yang menjelaskan tentang penciptaan malaikat. Dari Siti Aisyah RAh, Rasulullah Saw. bersabda :
خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من مارج من نار وخلق آدم مما وصف لكم

“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api neraka, dan Adam diciptakan sebagaimana kalian (diciptakan). (HR. Muslim)

 Secara umum malaikat adalah sebagaimana pendapat ibn ‘Asyur dalam kitabnya at-Tahrir wa at-Tanwir :
الملائكة مخلوقات نورانية سماوية مجبولة على الخير قادرة على التشكل في خرق العادة

 Malaikat adalah makhluk cahaya dari langit yang diciptakan untuk kebaikan yang mampu berubah wujud diluar kebiasaan.

Istilah malaikat dalam Al-Qur’an

 Al-Qur’an memakai kata ‘malaikat’ sebanyak 73 kali dalam bentuk jama’ dan 10 kali dalam bentuk mufrod (tunggal) yakni kata malk. Namun Al-Qur’an juga menyebutkan Malaikat dengan berbagai nama untuk menunjuk malaikat tertentu. Misalnya untuk malaikat yang menyiksa di dalam neraka al-Qur’an memakai kata ‘zabaniyyah’ (QS. Al-‘Alaq : 18), malaikat pencatat amal manusia al-Qur’an memakai kata ‘Kiraman katibin’ (QS. Al-Infithar : 11) dll.

Malaikat Jibril disebut al-Qur’an hanya tiga kali, yaitu pada QS. Al-Baqoroh : 97, QS. 98 dan QS. At-Tahrim : 4. Namun al-Qur’an juga banyak menggunakan sebutan lain untuk menunjuk malaikat Jibril, misalnya : Ruhul amin, Ruhul Qudus, dll.

Penyebutan malaikat di dalam al-Qur’an dalam suatu ayat terkadang berisi tentang keimanan (dalam hal ini ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa malaikat adalah salah satu yang wajib diimani), tugas malaikat, sifat malaikat, jumlah malaikat pada suatu keadaan, dll.

Tentang keimanan misalnya al-Qur’an menyebutkan :

 وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

 “…... barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ : 136).”

Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa malaikat adalah salah satu yang harus diimani oleh umat Islam, yang nantinya hal ini kemudian menjadi salah satu bagian dari rukun iman.

Al-Qur’an juga banyak menyebutkan tentang sifat malaikat, misalnya sifat malaikat penjaga neraka :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 6).

 Dalam ayat diatas, al-Qur’an menyebutkan bahwa malaikat penjaga neraka mempunyai sifat kasar dan keras. Hal ini karena karakter dasar malaikat adalah taat kepada Allah, sehingga ketika malaikat tersebut bertugas sebagai penjaga neraka yang menyiksa manusia sebagai pertanggungjawabannya di akhirat maka malaikat tersebut juga harus bersifat keras. Hal ini berbeda dengan malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga surga, misalnya ayat :

 الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik] oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum (Salam sejahtera bagimu), masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang Telah kamu kerjakan". (QS. An-Nahl:32)

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa setiap manusia dijaga oleh malaikat yang menjaganya :

 لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Al-Ra’d : 11)

Untuk jumlah malaikat sendiri sangat banyak sekali, hanya Allah yang tahu berapa jumlah pastinya, namun beberapa ayat dalam al-Qur’an menyebutkan jumlah mereka dalam suatu keadaan tertentu.

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ  .بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

 “(ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?

Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (QS. Al-Ra’d : 124-125)

Ayat diatas berkaitan dengan perang Badar, yang mana dalam perang tersebut Allah telah membantu tentara umat muslim dengan beribu-ribu malaikat. Sehingga walaupun jumlah tentara muslim sangat sedikit dibandingkan tentara kafir, tapi tentara muslim dapat memenangkan perang tersebut.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

 “(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".(QS. Al-Anfal : 9)

Malaikat menurut manusia

Sebagaimana yang kita maklumi, malaikat adalah makhluk ghaib. Manusia sudah sejak dahulu percaya terhadap malaikat. Namun karena malaikat adalah makhluk ghaib maka disana muncullah anggapan-anggapan miring tentang malaikat. Hal ini telah diceritakan oleh al-Qur’an.

Para mufassir mengatakan bahwa ada tiga bentuk kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang kafir, yaitu :

  1. Menisbahkan seorang anak kepada Allah

  2. Mengatakan bahwa Allah mengambil anak perempuan

  3. Mengatakan bahwa malaikat adalah perempuan

Dari ketiga bentuk kekufuran diatas, yang ingin dibahas adalah pendapat ketiga, yakni pendapat yang mengatakan bahwa malaikat berjenis kelamin perempuan. Ada tiga ayat di dalam al-Qur’an yang menceritakan bahwa orang-orang musyrik berpendapat bahwa malaikat itu berjenis kelamin perempuan, yaitu QS. Al-Isra’ : 40, QS. As-Shoffat : 150, dan QS. Al-Zukhruf : 19.

 وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

 “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.” (QS. Az-Zukhruf : 19)

Pada ayat ini diceritakan bahwa orang-orang musyrik menjadikan malaikat yang notabene adalah ‘ibadur Rahman (Makhluk Allah) adalah berjenis kelamin perempuan. Terhadap pendapat ini, masih dalam ayat yang sama Allah bertanya اشهدوا خلقهم ؟ , pertanyaan senada juga disebutkan dalam surat as-Shoffat ayat 150 :

أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُون

“Atau apakah kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?”

Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu sehingga bisa mengatakan bahwa malaikat itu perempuan, dan pada ayat yang sama Allah juga mengancam mereka karena pendapat mereka itu ستكتب شهادتهم و يسالون bahwa nanti di akhirat mereka akan diminta pertanggungjwaban atas pendapat mereka itu.

Yang menarik disini ialah, ternyata dibalik pendapat bahwa malaikat berjenis kelamin perempaun adalah sebenarnya mereka ingin menghina dan merendahkan Allah.

 أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا

Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya). (QS. Al-Isra’ : 40)

Sebagaiman yang kita ketahui, bahwa bangsa arab dulu sangat mengidam-idamkan anak laki-laki dan merendahkan anak perempuan, bahkan pada masa awal kenabian nabi Muhammad saw. orang-orang kafir Quraisy membunuh anak perempuan mereka dengan cara dikubur hidup-hidup. Maka disini jelas sangat menghina Allah karena mereka mengharapkan anak laki-laki sementara mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai anak perempuan, selain itu juga mengatakan bahwa malaikat berjenis kelamin perempuan, bukankah bagi mereka pada saat itu memiliki anak perempuan adalah suatu kehinaan.

Sekarang mari kiat lihat pendapat disekeliling kita tentang malaikat. Walaupun berbeda dengan pendapat orang-orang zaman dahulu, namun kita sudah banyak teracuni baik oleh cerita-cerita israiliyyat ataupun daya imajinasi kita sendiri. Sehingga banyak dari kita yang mulai mengira-ngira bentuk asli malaikat bahkan sudah banyak gambar-gambar yang dipercaya sebagai gambar malaikat.

Misalnya, al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa malaikat memilik sayap. Di lain pihak, agama Nasrani juga berpendapat sama. Namun banyak dari kita secara tidak langsung menyetujui dan membenarkan bentuk malaikat yang digambarkan oleh orang-orang Nasrani yang mungkin didapatkan dari informasi dalam kitabnya. Mungkin hal-hal semacam inilah merupakan benih-benih kesesatan kita berani menggambarkan hal-hal yang bersifat ghaib.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 blogger-facebook:

Item Reviewed: Malaikat dalam al-Qur'an Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar