728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Monday, 9 December 2013

Pro-kontra ke-ma’shum-an malaikat

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa malaikat adalah malaikat yang karakter aslinya mutlak selalu patuh terhadap Allah Swt. Sehingga dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka makhluk yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya, dan tidak mendurhakai-Nya (QS.at-Tahrim: 6). Namun ada beberapa ayat yang menimbulkan penafsiran berbeda tentang ke-ma’shum-an malaikat, ada yang mengatakan bahwa malaikat itu ma’shum dan ada juga yang mengatakan bahwa malaikat tidak ma’shum.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 34).

Yang menjadi pro-kontra terhadap ayat ini adalah ketika malaikat diperintahkan untuk bersujud (menghormati) nabi Adam maka mereka semua bersujud kecuali Iblis. Disini dengan jelas Allah memerintahkan hanya kepada malaikat (ini didukung dengan munasabah (korelasi) dengan ayat-ayat sebelumnya tentang dialog Allah dan Malaikat berkenaan penciptaan nabi Adam), namun ada yang tidak mau menjalankan perintah Allah ini, yakni Iblis. Dari sini kemudian banyak timbul pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya Iblis adalah salah satu malaikat. Karena malaikat yang bernama iblis ini tidak mau bersujud sebagaimana yang diperintahkan Allah, maka sebagian dari kita beranggapan ternyata malaikat ada juga yang durhaka terhadap Allah, yakni Iblis.

Namun mayoritas ulama’ tetap bertahan berpendapat bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang ma’shum, sedangkan Iblis dalam ayat diatas bukan termasuk dari golongan malaikat tetapi termasuk dalam golongan jin, hal ini sebagaimana dalam al-al-Qur’an :

إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

 “…….kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50).

 Dari kedua pendapat ini, Muhammad Sayyid Thonthowiy dalam kitabnya at-Tafsir al-Wasith mengutip pendapat Imam Ibn Qoyyim yang mencoba mengkorelasikan kedua pendapat ini, beliau mengatakan mengenai permasalahan ini bahwa sebenarnya kedua pendapat adalah pendapat yang sama (tidak bertentangan), Iblis itu sama dengan malaikat dalam hal bentuknya, bukan dari materi/unsur pembentuknya, karena malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan iblis diciptakan dari api. Sehingga dari sini menafikan Iblis dari golongan malaikat dan menetapkan bahwa adanya iblis pada ayat tersebut tidak dalam satu tempat. Dalam bahasa arab ini seperti kita mengatakan : حضر بنو فلان إلا محمدا pada ucapan seperti ini bermakana bahwa Muhammad bukanlah dari golongan bani fulan, tapi dapat difahami bahwa Muhammad adalah bertetangga dengan bani Fulan.

Selain permasalah diatas, ada satu ayat lagi yang menjadi pro-kontra dalam penafsirannya berkaitan dengan malaikat, dan kisah ini sangat populer di masyarakat, yakni kisah malaikat Harut dan Marut.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa] yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102).

Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa malaikat yang diceritakan dalam ayat ini, yakni harut marut telah durhaka kepada Allah dan juga telah mengajarkan sihir kepada manusia. Bahkan kisah durhaka dua malaikat ini juga dinyatakan oleh banyak hadits. Misalnya ada satu hadits yang cukup panjang menceritakan tentang kisah ini :

Diriwayatkan dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Ketika nabi Adam diturunkan ke bumi, maka malaikat berkata : “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?, padahala kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu”.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Malaikat berkata : “Kami lebih patuh dan taat kepada-Mu dari pada keturunan Adam”.

Allah berfirman : “ Panggillah ke mari dua orang malaikat. Aku akan turunkan mereka ke bumi hingga kamu dapat melihat apa yang akan dilakukan kedua malaikat tersebut”.

Malaikat menjawab : “Tuhanku, biarlah Harut dan Marut saja yang melakukannya”

Harut dan Marut pun diturunkan ke bumi. Lalu Allah menciptakan seorang wanita dari bunga (Zahrah) yang sangat cantik. Zahrah pun mendatangi kedua malaikat tersebut untuk menggodanya.

Kedua malaikat tersebut tertarik dengan kecantikan Zahrah sehingga muncullah keinginan terhadapnya.

Zahrah berkata, “Tidak, demi Allah, kecuali jika kamu mengucapkan kalimat musyrik”

Kedua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah, sedikit pun kami tidak mau mempersekutukan Allah untuk selama-lamanya!”.

Zahrah meninggalkan mereka berdua. Beberapa saat kemudian, dia kembali lagi membawa anak kecil.

Ketika mendekati kedua malaikat itu Zahrah berkata, “Tidak demi Allah, sebelum kamu bersedia membunuh anak kecil ini!”

Kedua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah selamanya kami tidak akan membunuhnya!”

Zahrah meninggalkan mereka dan datang kembali sambil membawa segelas arak. Setelah menyapa malaikat, Zahrah berkata, “Tidak, demi Allah, sebelum kamu berdua minum arak ini!”

Akhirnya kedua malaikat itu meminumnya hingga mabuk dan kemudian mereka berzina dengan Zahrah sebelum membunuh anak kecil itu.

Ketika kedua malaikat itu sadar, Zahrah berkata, “Demi Allah, ketika kamu dalam keadaan mabuk tadi, kamu sudah melakukan semua yang sudah kamu tolak sebelum ini.”

Akhirnya Harut-Marut diperintah untuk memilih antara siksa dunia atau di akhirat. Keduanya memilih siksaan di dunia.

Diriwayatkan Makhul dari Mu’adz, ketika kedua malaikat itu sadar, maka datanglah dari sisi Allah malaikat Jibril kepada mereka.

Pada saat Jibril datang, keduanya menangis dan Jibril ikut menangis sambil berkata, “Cobaan apakah yang membuat kamu hanyut seperti ini?”

Mendengar ucapan Jibril itu, tangisan keduanya menjadi semakin kuat. Jibril berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu sudah memerintahkan kepada kamu untuk memilih antara azab di dunia atau azab di akhirat.”

Maka tahulah mereka dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi dan sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua hamba-Nya. Kedua malaikat itu akhirnya memilih hukuman di dunia dan menyerahkan nasibnya kepada kehendak Allah.

Perawi hadis itu berkata, “Harut dan Marut pada saat itu berada di wilayah Babilonia Mereka digantung di antara dua gunung pada sebuah gua bawah tanah. Setiap hari mereka disiksa hingga pagi.”

Ketika berita hukuman itu diketahui malaikat yang lain, mereka mengepak-ngepakkan sayap sambil berdoa di Baitullah: “Ya Allah, ampunilah anak cucu Adam karena kami kagum bagaimana mereka dapat beribadah dan taat kepada Allah, padahal mereka dikelilingi beberapa kesenangan dan kelezatan.”

Al-Kalabi berkata, “Kemudian malaikat pun senantiasa memohonkan ampun kepada Allah untuk anak cucu Adam. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohon ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.”

Hadits diatas adalah salah satu hadits yang menerangkan tentang kisah malaikat harut dan marut, masih banyak lagi hadits yang senada dengan kisah diatas yang keshahihannya sangat diragukan.

Dr. Mohammad bin Muhammad Abu Syahbah di dalam kitabnya "al-Israiliyyat wa al-Maudhu'aat fi Kutub al-Tafsir" menerangkan bahwa kisah tersebut sebagai salah satu daripada kisah-kisah Israiliyyat yang masuk ke dalam kitab-kitab umat Islam.

Dalam kitab tersebut beliau juga mengutip pendapat para ulama’ mengenai kisah ini, diantaranya Imam Abu al-Farj bin al-Jauzi, al-Syihab al-'Iraqi mengatakan : "Siapa yang beri'tiqad dalam kisah Harut dan Marut bahwasanya mereka berdua adalah malaikat yang diazab atas kesalahan mereka, maka orang itu kafir terhadap Allah yang maha agung.". Demikian juga yang menolak kisah ini ialah al-Imam al-Qadhi 'Iyadh, al-Hafidz 'Imaduddin Ibn Kathir dan lain-lain.

Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah di dalam kitabnya tersebut mencoba menafsirkan ayat 102 surah al-Baqarah yang menyebutkan tentang Harut dan Marut itu. Sebenarnya sebab yang membawa turunnya ayat tersebut ialah ketika setan-setan itu mencuri berita dari langit, mereka menyampaikan berita tersebut dengan tambahan-tambahan kepada para dukun Yahudi yang menulisnya di dalam kitab-kitab mereka, lalu mereka mengajarkannya kepada manusia. Sehingga pada zaman Nabi Sulaiman orang menganggap ilmu tersebut adalah dari Nabi Sulaiman. Lalu pendeta-pendeta Yahudi mengatakan dengan ilmu tersebutlah Nabi sulaiman dapat menundukkan insan, jin dan angin yang mengikut perintahnya. Inilah perangai Yahudi yang senantiasa merendahkan para Nabi dengan pembohongan-pembohongan mereka. Karena itu Allah berfirman :

….وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْر…..

"Dan tidaklah Sulaiman itu kafir, akan tetapi para syaitanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (QS.al-Baqarah : 102)

Lalu terusan ayat itu Allah berfirman :

……وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوت…..

"Dan tidaklah diturunkan kepada dua Malaikat di Babil, Harut dan Marut... "

Yang dimaksud apa yang diturunkan kepada dua malaikat dalam ayat tersebut ialah ilmu sihir yang diturunkan melalui mereka supaya mereka ajarkan kepada manusia dengan tujuan agar manusia dapat membedakan antara sihir dan mukjizat Nabi Sulaiman. Maka apa yang terjadi pada Nabi Sulaiman itu bukanlah sihir akan tetapi mukjizat kenabian daripara ALLAH swt. Dua malaikat tersebut itu ialah Harut dan Marut yang telah mengingatkan manusia terhadap sihir tersebut, ALLAH berfirman :

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُر

"Dan tidaklah mereka berdua (Harut dan Marut) mengajarkan seorang manusiapun melainkan mereka berdua berkata : "Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".

Demikianlah yang penulis fahami dari kitab al-Israiliyyat wa al-Maudhu'aat fi Kutub al-Tafsir. Dalam kitab ini jelas mufassir yakni Dr. Mohammad bin Muhammad Abu Syahbah mencoba meluruskan kisah tentang dua malaikat tersebut. Dari yang telah diterangkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada malaikat yang durhaka kepada Allah, karena mereka tidak mempunyai nafsu dan juga tidak berjenis kelamin seperti manusia.

Iman terhadap malaikat


آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Malaikat adalah salah satu yang wajib diimani oleh setiap muslim, karena malaikat termasuk di dalam rukun iman. Adapun bentuk beriman kepada malaikat terdapat dua macam, yaitu Iman secara ajmal dan iman secara tafshil. Adapun cara beriman dengan ajmal adalah : seorang hamba yang beriman bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang suci dan mulia, mereka bukan untuk disembah. Mereka diberi tugas khusus oleh Allah untuk menyampaikan risalah-risalah kepada makhluk-makhluk-Nya. Sedangkan beriman secara tafshil adalah : beriman terhadap segala apa yang telah dikabarkan Allah melalui-kitab-kitabnya dan yang telah dikabarkan oleh Nabi Saw dalam sunnahnya berkaitan tentang keadaan malaikat, baik itu sifat-sifatnya ataupun penciptaanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (QS.al-Nisa’ : 136)



Potensi Malaikat

Dalam mengkaji tentang potensi yang diberikan Allah kepada malaikat, dalam tulisan ini penulis lebih ingin mengkaji dengan corak tafsir bil ilmi (tafsir dari sudut pangdang tekhnologi). Walaupun sebagian ulama’ tidak setuju (bukan berarti tidak boleh atau mengharamkan)  dengan penafsiran al-Qur’an dari sisi saint atau tekhnologi. Mereka berpendapat bahwa upaya penafsiraan al-Qur’an dengan corak ini sangat berbahaya, karena ilmu pengetahuan adalah sebuah proses penemuan-penemuan yang bersifat empirik, relatif dan terus berubah menuju penyempurnaan, sehingga bila kita mengkaji al-Qur’an dari sudut pandang ini maka kita tidak akan pernah menemukan pemahaman yang final terhadap al-Qur’an. Namun dengan pemahaman bahwa semua penafsiran tidak bersifat mutlak dan hanya meraba-raba maksud dari firman Allah, penulis tetap merasa lebih menarik bila dalam hal potensi malaikat ini dikaji dengan corak tafsir bil ‘ilmi.

Ada seorang teman pernah bertanya kepada penulis bukankah Allah Maha Kuasa dan mampu untuk berbuat segala sesuatu?, Lantas mengapa Allah menciptakan malaikat yang mempunyai tugas-tugas tertentu, bukankah Allah sendiri sangat mampu untuk melakukan tugas-tugas tersebut karena Dia Maha Kuasa?. Saat itu penulis menjawab memang benar Allah dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan malaikat, namun masalahnya manusialah yang tidak mampu dan terlalu ringkih untuk berinteraksi langsung dengan Allah, begitu juga panca indera kita sangat lemah untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Contohnya kisah nabi Musa yang diceritakan dalam al-Qur’an atas tuntutan kaumnya untuk melihat Allah secara langsung, Nabi Musa pun naik ke atas gunung berdo’a untuk engabulkan tuntutan tersebut. Namun apa yang terjadi? Gunung-gunung disekitar nabi Musa hancur dan nabi Musa pun pingsan.

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS.al-A’raf : 143)



Dari ayat diatas dapat diketahui bukan akrena Allah tidak mampu berkomunikasi dengan makhluk-Nya  yang bernama manusia ini, namun sebaliknya, badan manusialah yang terlalu lemah berhadapan dengan Allah, jangankan dengan Allah, dengan Matahari yang notabene juga ciptaan-Nya saja manusia akan hancur kepanasan bila dihadapkan. Maka dari itu, ada mekanisme tertentu untuk berkomunikasi langsung dengan-Nya, salah satunya adalah melewati malaikat.

 وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. Asy-Syura: 51)

Malaikat adalah makhluk Allah yang badannya diciptakan dari cahaya. Kemudian badan tersebut diberi Ruh oleh Allah, maka jadilah makhluk malaikat.

Pernah juga seorang teman bertanya mengenai ledakan WTC di Washington yang memakan ribuan korban meninggal. Teman tadi bertanya bagaimana cara malaikat maut mencabut nyawa orang-orang yang mati bersamaan di dalam gedung tertinggi itu?

Karena badannya terbuat dari cahaya, maka malaikat memiliki berbagai keunggulan, jauh diatas manusia atau makhluk Allah lainnya. Bahkan dalam ilmu Fisika Modern diketahui bahwa kecepatan tertinggi di alam semesta ini adalah cahaya. Tidak ada kecepatan lain yang lebih tinggi darinya, yakni 300.000 km per detik. Misalnya jika mau, malaikat dapat bergerak mengelilingi bumi sebanyak 8 kali dalam satu detik saja. Apa lagi hanya mencabut nyawa dalam satu gedung. Pekerjaan yang sangat mudah bagi malaikat. Dan kalau benar Nabi Muhammad menggunakan kecepatan cahaya pada waktu isra’ ditemani oleh Malaikat Jibril dan buroq, jarak yang ditempuh dari Masjidil Haram ke Masjidiil Aqsho hanya 0.005 detik, karena jarak antara keduanya hanya sekitar 1500 km.

Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat lantas memiliki berbagai kelebihan. Diantaranya malaikat memiliki waktu yang sangat panjang dibandingkan dengan waktu manusia. Terjadilah relativitas waktu, sebagaimana diinformasikan Allah dalam al-Qur’an.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. Al-Ma’arij: 4)

Pada ayat di atas, secara eksplisit Allah menginformasikan kita bahwa sehari bagi malaikat adalah sama seperti 50.000 tahun bagi manusia. Mengapa ini dapat terjadi? Ilmu Fisika modern dijelaskan bahwa bagi makhluk yang bergerak mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan bergerak lamban baginya.

‘Keanehan’ waktu ini digambarkan oleh Einstein lewat teorinya yang terkenal : Paradoks si kembar. Dalam teori ini, Einstein mengatakan jika ada dua orang kembar yang bergerak dengan kecepatan berbeda, maka waktu bagi keduanya berjalan berbeda juga.

Katakanlah si A dan si B adalah dua orang kembar. Si A tetap tinggal di bumi, sedangkan si B berkelana ke angkasa luar meninggalkan bumi dengan kecepatan mendekati cahaya. Maka seandainya si B melakukan perjalanan tersebut selama 1 jam saja, maka ketika dia kembali ke Bumi ia akan menemukan saudara kembarnya sudah sangat tua.

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Pro-kontra ke-ma’shum-an malaikat Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar