728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Tuesday, 28 January 2014

Surat cintaku, 5 tahun yang lalu

Assalamualaikum Wr. Wb
Ku puji Allah Sang Maha Cinta, yang membolak balikkan hati hambanya yang lemah ini. Ku sampaikan pula sejuta rindu kepada kekasih yang terkasih, Muhammad Sang Nabi, yang telah mengajarkan kita akan cinta-Nya yang sejati.

Dear Mery!,
Bagaimana kabarmu?. Doaku semoga Mery selalu dilimpahkan kebahagiaan, kesehatan, dan semoga terkabul semua cita dan cintamu.

Sebelum lebih jauh menulis surat ini, ingin ku kutip awal kalimat dari isi surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis, innahu min sulaimana wa innahu bismilahir rahmanir rahim, sesungguhnya (surat ini) adalah dari Sulaiman dan sesungguhnya (ditulis) dengan nama Allah yang Maha Pengasih pun Maha Penyayang.

Terinpirasi dari kisah Raja dan Ratu yang diabadikan dalam al-Qur’an itu, kutulis surat ini dengan Menyebut nama-Nya, Sang Maha Cinta, Sang Maha Raja, Sang Maha Suci. Agar apa yang kucurahkan dalam lembaran lembaran ini adalah kejujuran isi hatiku yang beberapa hari ini berteriak-teriak mencari penghiasnya, isi hatiku yang mencari sandaran karena lelah, isi hatiku yang walaupun lelah tapi kini yakin mimilihmu.

Siang itu adalah sebuah waktu yang berbisik tentang cahaya. Di tempat aku duduk seperti biasa seakan menunggu ilham yang lama tak terjamah, aku yang belum pernah bertemu denganmu tak beberapa lama kemudian menuliskan kalimat di atas handphone-ku, kurang lebih tertulis “mbak mery, kalau kuliahmu sudah selesai, aku tunggu kamu di lantai bawah FUF,aku memakai kaos biru bertopi hitam”.

Ingatkah mery dengan waktu itu? Detik pertama ketika kita dipertemukan oleh-Nya?. Tahukah Mery bahwa detik pertemuan kita itu telah lama tercatat di Lauh al-Mahfudz sejak entah berapa juta tahun yang lalu?. Karena pertemuan itu adalah takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Mbak mery, banyak teman bilang kepada saya bahwa saya adalah laki laki yang tak mudah untuk jatuh cinta, dan aku percaya dengan itu, apalagi hati saya baru saja tersesat entah kemana. Tapi sungguh, detik ketika aku pertama kali melihatmu adalah detik dimana semua ucapan teman-temanku itu runtuh, karena pada detik itu juga hati yang telah lama patah ini tiba tiba saja tergoyah karena ada benih sebuah rasa yang telah lama aku tunggu dan harapkan. Benih rasa yang tanpa sopan santun seenaknya tumbuh begitu cepat di hatiku.

Mbak Mery yang baik…, dari awal ketika benih itu tertanam di hatiku, aku tahu bahwa benih itu adalah benih cinta. Dan kini benih itu semakin subur, menyeruak seenaknya di dinding-dinding hatiku. Tahukah mery kenapa? Karena mery lah yang memberinya pupuk rindu dan selalu menyiramnya teratur dengan air kehidupan. Aduhai…. Seandainya semua orang tahu dengan air sakti dari Mery ini… apalah arti air sakti dari dukun cilik Ponari…?. Ah… tak kuhiraukan mereka dengan air Ponari, yang kubutuhkan hanyalah celupan air dari tangan Mery di hati ini.

Mery…, aku ingin sekali menjadi orang yang memegang teguh dengan apa yang aku yakini dan anggap itu benar. Dan salah satu yang aku yakini benar adalah bahwa Mbak mery adalah utusan yang dikirimkan kepadaku untuk ajarkan aku tentang ikhlas. Ingatkah mbak mery cerita tentang doaku yang meminta hal ini?.

Dan…, apakah Mery juga merasakan bahwa sejak pertama kita bertemu, aku yang tak tahu diri ini telah lancang mengirimkan ‘sinyal-sinyal’ cinta kepada Mery?. Ingatkah Mery dengan tulisan-tulisan yang berserakan tak beraturan di dinding itu ; kini semua berubah lebih indah; ini aku dengan hati yang telah lama menunggu; ajarkan aku tentang restu; sms yang tak pernah berhenti selalu ku harapkan; kamu aku pilih; dll…., sungguh semua itu aku tulis dengan abstrak aku tujukan untuk Mery. Entah apakah Mery membaca dan merasakan ‘sinyal’ itu.

Dan…, apakah Mery juga merasakan apa yang terkandung dalam sms-sms yang aku kirimkan untuk Mery yang kadang nampak bodoh dan lebay itu….?, sms tentang bulan yang remang dan gemintang yang tak berani nongol karena malu dengan hatiku yang bercahaya indah dan terang?. Ingatkah Mery tentang semua itu?. Hatiku bercahaya karena penuh harapan kepada Mery.

Mery…, Hatiku jatuh, jatuh tertunduk lemah dihadapanmu. Semua logika kan runtuh bila merasakan apa yang aku rasakan ini. Aku jatuh cinta mery… jatuh cinta… cinta kepadamu. Aku pasrah…. Tak kuasa… bahkan hanya untuk menatapmu lama….

Mery…, aku yang telah tertunduk pasrah dihadapanmu ini kini merasa pasrah jika kau tendang, buang, hujat dan hina… sungguh aku pasrah. Aku terlalu lemah untuk menantangmu. Dan dalam keadaan seperti ini, maafkan aku jika dengan terbacanya surat ini olehmu aku meminta Mery untuk menjadi penghias hatiku… aku meminta mery untuk menjadi perempuan yang akan ajarkan aku tentang arti ikhlas.
Sekali lagi maaf jika aku terlalu lancang… tentu saja mery berhak marah dengan apa yang aku lakukan ini, dan aku telah menyediakan diriku untuk Mery hina karena tak tahu diri ini.

Mungkin sementara ini saja yang ingin kusampaikan dari sedikit tentang apa yang telah ‘berunjuk rasa’ hebat di hatiku karenamu. Aku tunggu keputusanmu, tentu saja aku akan tidak sabar menunggu jawaban dari Mery. Dan semakin lama Mery tidak segera memberi jawaban, selama itu lah aku akan tersiksa dengan perasaan saya sendiri. Jangan ragu untuk mengatakan ‘tidak’ walau sungguh Mery pasti tahu jawaban apa yang kuharapkan dari Mery. Entah apa yang akan terjadi dengan kita esok hari, lusa dan hari-hari ke depan. Entah apa yang telah Dia kehendaki tentang kita.

Aku hanyalah seorang lelaki yang mengatakan cinta…..
Aku hanya berharap, semoga semua berubah lebih indah……

Wassalamualaikum wr. Wb

Ciputat, 8 April 2009
Pecintamu,

Abdul Ghaffar Chodri
  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Surat cintaku, 5 tahun yang lalu Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar