728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Monday, 24 February 2014

Bab 1 : Enam tahun yang lalu, ketika idealisme masih meresap dalamdaging.

Bab sebelumnya, klik DI SINI.

Pagi itu sebenarnya sangat cerah. Namun Jakarta tetaplah Jakarta, macet tetaplah macet. Dimana letak keindahan pagi yang cerah bila asap sudah mewarnai udara di langit Jakarta?. Dimana letak ketenangan jika pagi yang cerah seperti itu sudah tercemar oleh suara bising klakson yang tak pernah berhenti sahut-sahutan?.
Kehidupan seolah tak pernah istirahat di kota itu. Hari ini adalah hari pertama Pujangga melangkahkan kakinya menuju kampus Islam yang kini berada di hadapannya. Peci hitam, baju hem putih, celana hitam, dan sepatu hitam mengkilat membuatnya nampak sangat rapi. Namun topi badut, dasi dari kertas berwarna hijau norak, kalung besar terbuat dari kertas karton yang diatasnya tertulis namanya dan berbagai atribut aneh lainnya membuatnya nampak konyol. Beruntung Pujangga tidak berpenampilan aneh sendiri di kampus itu, seluruh mahasiswa baru berpakaian tak kalah konyol darinya. Beginilah suasana orientasi mahasiswa baru di kampus itu.

Pujangga menghentikan langkahnya, ia berdiri di depan gerbang utama kampus. Sebelum dia meneruskan melangkah masuk, terlebih dulu dia ingin menatap lama gedung megah di depannya itu.

“Ini kampusku!” ujarnya dalam hati mantap. Pikirannya melayang penuh dengan harapan apa yang akan dia lakukan selama berada di dalamnya kelak. Dia pejamkan matanya erat, tangannya mengepal kuat, dadanya bergemuruh, wajah Abah dan Ummi terbayang dihadapannya.

“Kelak ketika aku sudah lulus kuliah akan kutatap kembali gedung-gedung ini. Allah…, luruskan niatku, kuatkan niatku, Bismillah…” yakin batinnya.

Kembali ia membuka mata. Dengan penuh kebanggaan Pujangga melangkahkan kakinya masuk ke kampus barunya itu, baru satu langkah dan....

Breeggg.

Gusti Allah…” kaget Pujangga.

Sorry” ucap seorang gadis yang tidak sengaja menyenggolnya.

“Aku yang seharusnya minta maaf”  sambut Pujangga cepat sambil membungkuk mengambil buku-buku gadis itu yang berjatuhan. Cerita klasik memang.

Ketika Pujangga berdiri tegak untuk mengembalikan buku-bukunya dia langsung terperangah, dia terdiam sejenak. Pujangga tidak pernah berhadapan dengan perempuan sedekat ini. Sepasang mata indah kebiru-biruan didepannya sangat tajam menatapnya. Takjub.

Thank’s berat ya” ucap gadis itu menerima buku-buku miliknya dari tangan Pujangga. Pujangga tersadar kembali dari ketakjubannya.

“Sekali lagi saya minta maaf mbak”  ucap Pujangga sembari menundukkan kepala tak berani menatapnya lagi.

“O gak apa-apa bang, kan aku yang nyenggol situ, aku yang harus minta maaf”

Untuk beberapa detik Pujangga hanya diam terhipnotis melihat gadis cantik yang kelihatan seperti anak gaul itu. Gadis cantik seperti itu sebelumnya hanya bisa dia lihat di layar televisi.

“Fatma” lanjut gadis itu sambil mengulurkan tangan mengenalkan diri.

Melihat uluran tangan itu, Pujangga diam beberapa detik lagi. Ragu.

“Pujangga” jawab Pujangga kaku perlahan menyambut tangan gadis di hadapannya.

Ada sebagian sisi jiwanya yang menjerit ketika Pujangga menyentuh tangan gadis itu untuk bersalaman. Dan entah Pujangga tidak tahu tangannya yang dingin atau tangan gadis yang bernama Fatma itu yang hangat. Cepat-cepat Pujangga menarik tangannya kembali sambil beristighfar dalam hati.

“Pujangga?” tanya Fatma merasa aneh.

“Ya, itu nama saya, Muhammamd Pujangga Mahabbatullah” jawab Pujangga.

“Woww, That’s a good name, keren banget nama kamu” puji Fatma sambil tersenyum indah. “Muhammad sang pujangga cinta Allah, begitu kan arti namamu?” tanyanya kembali.

“Ya, kurang lebih seperti itulah”

“Fatma attakey, itu nama lengkapku”

“Namamu juga keren”

“Kata ustadz, namaku ini mencerminkan sikapku” tambahnya lagi masih senyam-senyum penuh canda. Lubang lesung pipinya menambah cantik ketika ia tersenyum.

“Maksudnya?”

“Ya. Fatma attakey. Fatma adalah puteri Nabi, sedang Attaakey adalah nama keluargaku. Attakey berasal dari bahasa Arab, attaqi, saya bertakwa. Itu arti namaku” jelasnya.

“Subhanallah, nama yang sangat indah. Fatma Attakey” ulang Pujangga menyebutkan nama kenalannya itu. Kagum.

Mereka berdua berjalan bersama sambil menanyakan berbagai hal masing-masing. Ini pertamakali dalam hidup Pujangga berjalan berdua bersama perempuan, apalagi yang baru dikenalnya seperti itu. Tapi entah mengapa Fatma begitu mudahnya membawa Pujangga dalam suasana akrab.

Di desanya dulu memang Pujangga adalah pemuda yang mudah bergaul dengan siapapun, bahkan cap ‘preman desa’ bersemat pada dirinya. Namun ada salah satu kelemahannya dalam bergaul, sejak kecil dia paling tidak berani berhadapan dengan makhluk tuhan yang bernama perempuan. Hal inilah yang justru membuat gadisi-gadis di desanya berani mengganggunya karena mereka tahu bahwa dia tidak akan berani membalasnya.

Pujangga malu kepada teman-teman lelaki sebayanya. Bagaimana mungkin pemuda sebandel dia tidak berani berhadapan dengan perempuan. Diperlakukan seperti itu Pujangga akhirnya meminta Abah agar dirinya pergi nyantri ke pesantren di Pasuruan agar dia bisa hidup tanpa gangguan perempuan. Permintaan Pujangga itu membuat Abah terharu, bukan terharu karena Pujangga tidak berani dengan perempuan, tapi karena Abah berharap anaknya menjadi penggantinya kelak sebagai guru ngaji di desanya. Seminggu kemudian Pujangga sudah dipenjara di sebuah pesantren di Pasuruan selama tujuh tahun. Tapi kalau memang dasarnya sudah bandel dan niatnya ke pesantren supaya tidak bertemu perempuan, maka tidak aneh kalau di pesantren kebandelannya malah menjadi-jadi.

Akhirnya Pujangga dan Fatma berpisah ketika acara orientasi akan di mulai di masing-masing Fakultas. Pujangga terdaftar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam, sedangkan Fatma masuk di Jurusan Filsafat.

“Besok kita ketemu lagi ya” pinta Fatma sebelum berpisah.

“Boleh” jawab Pujangga senang.

Entah apa yang dirasakan Pujangga, ia terkadang tersenyum sendiri setelah berpisah dengan perempuan yang baru dikenalnya itu, ada kebanggaan namun ada juga rasa takut. Bangga karena dia perempuan pertama yang cukup lama bicara dengannya dan dia tak takut dengan perempuan lagi seperti di desanya dulu, tapi juga ada rasa takut, dosakah ketika dalam hati dia benar-benar mengagumi kecantikannya. Tatapan mata birunya masih sangat jelas menempel di ingatannya. Halus kulit putihnya ketika berjabat tangan tadi masih terasa di kulit tangannya.

“Akkhhhh....Astaghfirullahal’adzim....” teriak hati Pujangga.

Hari-hari pertama di Jakarta bukanlah hal yang mudah bagi Pujangga. Apalagi bila malam datang dan dia belum tidur. Bayangan Setiap sudut kamar di rumahnya jelas sangat dia ingat. Kebandelannya terhadap Chandradimuka yang sering dia usilin justru membuat rasa kangennya tak tertahankan. Amuk dan bentak Abah dia ingat betul bahwa itu semua justru menampakkan rasa kasih sayang dan cinta Abah kepadanya. Begitu juga dengan senyum Ummi yang bagi Pujangga Ummi adalah perempuan paling lembut dan tercantik.

Ada satu kenangan lagi yang membuat Pujangga makin tak kuat menahan kangennya. Tragedi kayu goreng, begitu dia mengenangnya. Dia teringat dengan kayu kecil yang dia sembunyikan bertahun-tahun sejak ia kecil di kolong lemari di kamarnya. Dia lakukan itu karena jengkel dengan Abah yang sering memukul pantatnya dengan kayu itu bila tidak pergi mengaji. Dia menamakan kayu itu dengan ‘kayu goreng’, karena memang bila Abah memukul pantatnya dengan kayu itu maka pantatnya akan terasa panas seperti digoreng. Maka tak ayal lagi, ketika suatu saat Abah keluar rumah, ia punmenyembunyikan kayu sialan itu yang kemudian ia simpan agar Abah tak memukul dengan kayu itu lagi. Dan kemarin, sebelum pergi ke Jakarta dia sempat mengembalikan kayu itu kepada Abah, Abah tersenyum ketika menerimanya dan mengacak-acak gemas rambut anak pertamanya itu. Namun entah mengapa sekarang ketika dia sudah dewasa, dan tidak mungkin lagi dipukul bila Abah marah malah membuatnya kangen untuk merasakan kembali panas kayu di pantatnya. Ya, kini dia kangen dengan pukulan Abah itu. Bila rasa kangennya memuncak, dia pun miscall handpone Abahnya. Dengan cukup di miscall seperti itu Abah akan segera menelpon balik, itu salah satu trik supaya pulsa tidak terkuras. Dia lepaskan rasa kangennya kepada keluarganya di rumah lewat telpon. Bukannya rasa kangen sedikit terobati dengan ditelpon, tetapi malah membuat kangennya makin menjadi-jadi, maka tak ayal lagi pemuda bandel kelas kampung itu pun bisa megeluarkan air mata dengan senggukan-senggukan berusaha menahan agar tak terdengar pakde dan bude di luar kamar.

Sedikit demi sedikit dia berusaha mengatasi rasa kangennya itu agar jangan sampai berlarut-larut. Namun untuk beradaptasi dengan keadaan sekitar juga bukan hal yang gampang baginya. Melihat bude Ali yang memang sangat mirip dengan Ummi setiap hari malah membuatnya makin tidak betah, justru itu sering membuatnya terpaksa pergi ke kamarnya untuk menangis sendirian karena tidak tahan kangen dengan Ummi. Untuk alasan adaptasi inilah akhirnya Pujangga meminta izin kepada pakde dan bude Ali untuk sewa kamar kos di dekat kampus saja, selain itu agar tidak repot bertemu dengan macet di jalanan setiap pagi ketika dia berangkat kuliah. Awalnya bude Ali merasa berat. Namun Pujangga berusaha menerangkan baik-baik kepada keduanya.

“Ya sudah kalau itu memang keputusanmu” ucap bude. “Tapi ingat!, ini Jakarta tole. Jaga pergaulanmu jangan sampai rusak.”

“Jangan lupa sering-sering main ke sini. Kalau ada apa-apa jangan malu-malu bilang sama pakde dan bude disini” pesan pakde.

“Belajar yang rajin!. Jangan betah-betah kuliah” pesan bude lagi. “Maksudnya cepat-cepat diselesaikan kuliahmu itu!. Buatlah Abah dan Ummi bangga dengan keberhasilanmu nanti.”

Pujangga memegang pesan keramat pakde dan budenya itu kuat-kuat, karena memang tidak ada saudara lagi di kota ini selain mereka berdua.

Dua hari kemudian Pujangga sudah pindah kos di sebuah rumah besar di Cirendeu dekat dengan kampusnya. Mpok Lohan nama pemilik kamar kos, sering mengajak Pujangga ngobrol sebagaimana dengan mahasiswa lain. Pujangga merasa terhibur dengan kehadiran Mpok Lohan dan teman-teman yang juga sewa kos di rumah itu. Sebagaimana kebanyakan orang yang baru datang di Jakarta, Pujangga pun sedikit banyak belajar ber‘gue-elu’ biar kelihatan seperti anak Jakarta yang dulu bila ia tonton di televis di desanya, anak Jakarta itu potret anak modern. Dan pada Mpok Lohan yang asli orang Betawi itulah Pujangga sering mengasah cara bicaranya agar tidak kelihatan katro alias ndeso.

Sebenarnya nama aslinya adalah ibu ‘Rohana’. Dijuluki ibu ‘lohan’ bukan karena tubuh gemuknya yang mirip ikan lohan, tapi karena dulu pernah ada mahasiswa yang juga sewa kamar kos disana yang tidak bisa mengucapkan huruf R, sehingga mahasiswa itu selalu memanggil Mpok Rohana terdengar seperti Mpok Lohana, yang lama-kelamaan lebih enak di panggil Mpok Lohan. Sebutan ini pun berlanjut sampai Pujangga tinggal disana. Dan Mpok Lohan tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Mpok Lohan adalah perempuan kaya yang sudah cukup tua. Menurut cerita tetangga sekitar, Pak Hamid nama suami Mpok Lohan adalah orang berpendidikan tinggi dan salah satu dosen di beberapa perguruan tinggi negeri, sedangkan Mpok Lohan muda adalah anak yatim piatu yang diangkat menjadi anak oleh ibu suaminya sejak kecil. Tresno jalaran soko kulino, Hamid dan Lohan jatuh cinta karena tinggal serumah yang mau tidak mau selalu bertemu setiap waktu. Akhirnya keduanya dinikahkan oleh ibunya karena takut fitnah. Sayang setelah seminggu pernikahan keduanya, ibu pak Hamid meninggal dunia. Keduanya pun terpuruk dalam kesedihan ditinggal orang tua mereka. Dan entah apa rencana tuhan, sebulan kemudian pak Hamid menyusul ibunya tersebut karena sebuah kecelakaan. Mpok Lohan yang masih pengantin baru itu pun sakit-sakitan karena sedih merasa menjadi yatim dan tak punya siapa-siapa lagi. Beruntung setelah berjuang melawan kesedihannya sendiri akhirnya dia bisa sabar dan ikhlas menerima itu semua. Dan lebih beruntung lagi karena suami dan ibunya itu adalah orang paling kaya di kampung itu, sehingga warisan bermilyar-milyar menjadi milik Mpok Lohan. Banyak pemuda yang melamarnya tapi ditolak semua oleh Mpok Lohan, karena Mpok Lohan merasa suaminya masih hidup di hatinya, dia tidak mau membagi cintanya. Selain itu dia juga takut jangan-jangan orang-orang yang melamarnya hanya mengincar warisan dari suaminya. Karena bingung mau dibuat apa warisan sebanyak itu dan juga Mpok Lohan tidak punya banyak keahlian, akhirnya warisan itu dibuat untuk memperbesar rumahnya dan memperbanyak kamar didalamnya untuk disewakan kepada mahasiswa. Dengan adanya mahasiswa-mahasiswa di rumahnya itu, selain dapat penghasilan setiap bulan Mpok Lohan sedikit demi sedikit melupakan kesedihan akibat ditinggal dua orang yang dicintainya itu.

Hari-hari terus berjalan. Pujangga dan Fatma menjadi teman dekat. Pujangga aktif di ODAPUS alias Organisasi Dakwah Kampus sedangkan Fatma aktif di Bunda Setia, sebuah organisasi mahasiswa yang memperjuangkan hak dan aspirasi perempuan, dan di dalamnya dia mendirikan jurnal kampus ‘Inilah perempuan’, sebuah jurnal yang mengaspirasikan hak-hak perempuan, Fatma menjadi redaktur di jurnal itu. Dan dari keakraban inilah sedikit banyak Pujangga mengenal latar belakang Fatma. Mungkin alasan mengapa Fatma cantik seperti itu karena ternyata ia adalah gadis keturunan Turki, almarhum kakeknya adalah staff duta besar Turki untuk Indonesia. Kemudian putrinya yang juga asli orang Turki yang tidak lain adalah ibu Fatma menikah dengan orang Indonesia, sehingga ketika keluarganya kembali ke Turki karena kontrak kerjanya selesai, ibunya tetap tinggal di Indonesia dan mempunyai satu putri yakni Fatma sendiri. Fatma hanya pernah ke tanah air ibunya itu satu kali saja, karena disana ia masih mempunyai banyak saudara termasuk pamannya yang tidak lain adalah satu-satunya kakak dari ibunya.

Namun kadang ada yang mengganjal di hati Pujangga ketika dia berjalan berdua dengan Fatma. Dia merasa semua teman-temannya di ODAPUS melihatnya dengan pandangan miring, pandangan yang menampakkan ketidak setujuan mereka atas pertemanan itu, mungkin begitu juga dengan teman-teman Fatma. Bagaimana tidak, Pujangga yang selalu memakai baju muslim sederhana, memakai peci putih dan selalu berpakaian rapi berjalan dengan Fatma, seorang perempuan yang mengenakan celana jeans, walaupun dia masih memakai kerudung apa adanya dengan sedikit rambut dikeluarkan di atas dahinya. Pujangga tahu ini adalah pemandangan yang sangat paradok, tapi dia harus bagaimana menyikapinya. Dengan penampilan seperti itu Fatma tidak merugikannya, apalagi sampai membuat Pujangga bernafsu. Sama sekali tidak. Begitu juga dengan Fatma yang tidak pernah mempermasalahkannya. Sebenarnya masih banyak perbedaan diantara mereka berdua.  Mereka juga sering berdebat tentang masalah apapun namun selalu berakhir dengan baik-baik saja dan mereka masih tetap menjadi teman dekat dengan menghargai semua pendapat masing-masing. Sampai suatu hari ada kejadian yang membuat Fatma sangat marah dengan teman-teman Pujangga itu.

Suatu saat Fatma pernah datang ke Basecamp ODAPUS untuk mencari Pujangga. Fatma dipersilahkan teman-teman Pujangga untuk menunggu disana karena Pujangga masih keluar sebentar. Di basecamp itu banyak teman-teman Pujangga, semua laki-laki mengenakan baju koko rapi, sebagian ada yang memakai celana panjang hingga diatas mata kaki, ada juga yang memelihara jenggot sampai panjang tapi tersisir rapi. Sedangkan yang perempuan memakai baju muslim panjang dan jilbab lebar, malah ada juga yang memakai cadar untuk menutup wajahnya. Bagus memang, Fatma pun tidak mempermasalahkannya.

Fatma hanya duduk saja menunggu di kursi. Namun sebenarnya dia merasa risih juga lama-lama duduk disana karena tahu bahwa semua mata di ruangan itu memperhatikannya dengan pandangan aneh. Cukup lama dia hanya bengong sendirian tanpa ada yang menghiraukan. Semua ikhwan dan akhwat hanya meliriknya diam-diam. Entah apa yang mereka pikirkan melihat perempuan yang mengenakan jeans dan kerudung yang terkesan asal-asalan itu ada di depan mereka.

“Assalamualaikum” sapa Mas jamal ketua ODAPUS menghampirinya.

“Waalaikumsalam” jawab Fatma sumringah karena akhirnya ada juga yang mau menemaninya ngobrol.

Fatma kenal dengan mas Jamal karena dia aktivis dakwah di kampus itu. Begitu juga dengan mas Jamal mengenal Fatma karena dia sering melihatnya berjalan bersama Pujangga dan dari artikel-artikel yang pernah ditulisnya di Jurnal ‘inilah perempuan’ yang Fatma dirikan. Namun keduanya baru pertama kali ini bertemu langsung. Fatma sangat senang sekali bisa bertemu langsung dengannya, tapi berbeda dengan Mas Jamal, nampak dari raut mukanya ia tidak suka dengan kehadiran Fatma disana. Fatma pun menata kembali sikapnya, ia bersikap seperti biasa dan lebih sopan.

“Maaf mbak Fatma. Saya tahu mbak Fatma ini adalah aktivis jender di kampus ini. Tapi apa mbak tidak memikirkan bahwa mbak Fatma ini kuliah di kampus Islam, apa mbak tidak merasa bahwa mbak mencoreng nama kampus dan agama mbak sendiri dengan berpakaian seperti ini, dengan rambut yang tidak semuanya tertutup jilbab seperti ini?.” Ucapan Jamal sangat menusuk Fatma.

“Kita tahu bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Jadi janganlah mbak menambah kerendahan itu dengan berpakaian tidak selayaknya seperti ini” serang mas Jamal tiba-tiba yang itu berarti selama ini dalam dada mas Jamal ada rasa tidak suka dengan Fatma dan mungkin ini kesempatannya untuk langsung mendampratnya. Entah tidak suka karena mungkin dia beranggapan bahwa Fatma berusaha mempengaruhi Pujangga atau tidak suka karena artikel-artikelnya yang sangat sensitif jender itu.

Pertanyaan itu membuat Fatma merasa jantungnya ditusuk dengan jarum. Nafasnya tertahan sesaat. Dia sangat kaget mendengar pertanyaan konyol dari orang yang sama sekali tidak akrab dengannya itu. Padahal awalnya dia sangat menghormati semua orang yang ada di ruangan itu karena nampak sopan dan rapi. Terlebih kepada mas Jamal.

“Lalu apa yang seharusnya saya lakukan?” tanya Fatma berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya.

“Mbak Fatma adalah seorang muslimah. Sudah seharusnya memegang teguh syariat Islam. Bukankah syariat kita melarang kita telanjang?. Nah, pakaian mbak seperti ini dalam syariat kita sama dengan telanjang karena memperjelas bentuk tubuh mbak sendiri” mas Jamal mencoba menjelaskan panjang lebar. Fatma masih berusaha untuk menahan emosinya yang semakin panas.

“Sudah seharusnya mbak Fatma bertaubat atas semua ini dan cepat-cepat berhijrah!” lanjut mas Jamal lirih.

“Bila saya tidak merasa bahwa apa yang saya lakukan ini bukan dosa maka apa yang akan terjadi?” pancing Fatma.

“Berarti mbak Fatma adalah penolak syariat. Itu dosa besar.” tuduh mas Jamal mantap penuh keyakinan dengan nada yang kembali tinggi.

Apa yang bergelombang di dada Fatma saat itu bukanlah rasa takut, sama sekali bukan. Justru rasa terlecehkannya yang butuh penyaluran. Meski tampang seperti ustadz tapi ternyata kini bagi Fatma mas Jamal sama sekali tak bermoral. Fatma tidak tahan mendengar tuduhan kejam dari orang yang ada dihadapannya itu.

Fatma langsung berdiri dengan mata agak melotot menatap menantang mas Jamal. Semua yang ada di ruang itu terperangah memperhatikan mereka berdua penuh kekhawatiran, meraba-raba apa yang akan terjadi berikutnya.

“Maaf mas Jamal yang merasa dirinya paling Islami. Memang pengetahuan saya tentang agama saya sangat sedikit. Namun bukan berarti saya bodoh dan tidak mengerti apa yang saya lakukan. Setahu saya Syariat diturunkan untuk mengatur umat agar bermoral. Sekarang pikirkanlah apakah tuduhan kejam anda terhadap saya itu bermoral?. Apakah merasa hanya diri anda yang benar dan orang lain salah adalah bermoral?. Saya tidak butuh jawaban mas Jamal atas pertanyaan saya ini karena saya tahu pasti mas akan tetap merasa benar. Terimakasih atas dakwahnya” Fatma pergi tergesa-gesa meninggalkan ruang itu dengan penuh kemarahan.

Ketika Fatma keluar dari pintu ruang itu Pujangga baru datang. Dia bingung melihat Fatma yang jalan tergesa-gesa itu. Dia menatap mas Jamal penuh tanda Tanya mencari jawaban. Sedang mas Jamal langsung berdiri melihat sikap Fatma.

“Mbak Fatma! Tunggu!” teriak mas Jamal memanggil Fatma. Namun tak sedikitpun Fatma menggubris panggilannya.

“Astaghfirullahal adzim. Ya Allah maafkanlah dia karena sungguh dia masih belum tahu” doa mas Jamal lirih masih tidak sadar apa yang barusan telah ia lakukan.

Setelah Pujangga menatap mas Jamal penuh tanda tanya apa yang telah terjadi namun seisi ruangan itu hanya diam saja, Pujangga pun berlari mengejar Fatma yang belum jauh itu.

“Apa yang terjadi Fatma?” tanya Pujangga terengah-engah.

Fatma diam saja dengan bibir yang kelihatan merengut menampakkan kekesalannya. Wajah cantiknya tertutupi oleh kemarahan. Dadanya naik turun masih mencoba menahan ledakan emosi yang belum tuntas.

“Coba kamu nasehati ketuamu itu” ucap Fatma akhirnya. “Masa punya tampang seperti ustadz tapi moralnya bejat. Beraninya dia nuduh aku sebagai penolak syariat. Ditambah lagi dia bilang aku ini makhluk berderajat rendah. Kurang ajar sekali dia”.

Pujangga mendengarkan.

“Sungguh mulutnya sangat kotor sekali. Mungkin juga najis yang tak bisa disucikan” ucap Fatma sekenanya.

Pujangga kaget mendengar Fatma yang cantik itu bisa bicara bicara sekasar itu. Ia diam saja memberi peluang agar Fatma bebas memuntahkan rasa kesalnya. Fatma terus marah mencak-mencak hingga nampak buih tersisa di sudut bibirnya. Begitulah sifat perempuan. Konon mereka lebih mengikuti perasaan daripada pikiran. Sifat aslinya akan keluar jika sudah marah dan belum tersalurkan. Dan Pujangga siap menjadi tempat penyaluran sementara.

Malamnya, Fatma duduk sendiri di kamar, kejadian tadi siang masih melekat terngiang-ngiang diingatannya. Dia tidak tahan bila telah dilecehkan seperti itu. Dia tidak bisa mendiamkan hal yang berbau pelecehan, apalagi jika itu diatasnamkan embel-embel agama.

“Bagaimana caranya memberi pelajaran orang itu agar mulut busuknya lebih dijaga?” pikir Fatma dalam hati.

Jiwa aktivisnya makin terasa panas. Dahinya berkerut memusatkan pikiran, serius sekali kelihatannya. Mondar-mandir di kamar yang cukup luas. Dan akhirnya ia duduk dan mulai menari-narikan jemarinya diatas keyboard komputer.

Setelah selesai uneg-uneg-nya tertulis di layar komputer. Lega. Dia menggeser kursi ke depan jendela kamarnya untuk mencari angin. Fatma melihat bintang-bintang yang seakan berkedipan kepadanya. Dari kamar yang ada di lantai dua rumahnya itu ia dapat melihat langit lebih indah. Hembusan angin malam yang dingin mengibaskan rambut indahnya yang membawa aroma wangi. Matanya sayup-sayup mulai tertutup, ia tertidur di depan jendela sembari duduk dan bermimpi wajah Pujangga hadir menghiasi langit malam menggantikan bintang yang baru saja ia saksikan. Pujangga mengedipkan mata kepadanya. Fatma tersenyum dengan menikmati mimpi itu, senyum indahnya kali ini mengganti wajah kesal tadi. Rupanya sangat cantik sekali Fatma dengan keadaan tidur sambil tersenyum seperti itu. Suasana hati seperti apa yang mewarnai hati Fatma saat itu?, ada yang bilang bahwa mimpi pada saat kita tidur adalah gambaran suasana hati kita.

Esoknya,

“Kapan jurnal diterbitkan?, kalau masih bisa aku punya tulisan, tolong dimuat” tanya Fatma kepada Santi via sms di pagi itu.  Santi adalah temannya yang juga aktif di jurnal.

Sudah dua hari berlalu kejadian yang membuatnya Fatma kesal itu terjadi, namun Pujangga dan Fatma tidak pernah bertemu ataupun saling memberi kabar dalam dua hari itu. Padahal biasanya satu hari saja mereka tidak bertemu pasti mereka merasa ada yang ganjil. Kejadian itu membuat Pujangga merasa bahwa Fatma marah juga padanya sehingga Pujangga memilih mendiamkan masalah itu terlebih dahulu, Pujangga berpikir akan menemui Fatma lagi jika hatinya dirasa redah. Padahal sebaliknya, Fatma merasa bersalah dan kasihan dengan Pujangga yang menjadi sasaran untuk memuaskan emosinya di hari. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mencari Pujangga terlebih dahulu.

“Assalamu alaikum” sapa Fatma sembari menepuk keras pundak Pujangga yang duduk sendiri membaca buku di taman kampus. Segelas kopi susu disamping Pujangga Fatma minum dengan seenaknya tanpa izin.

“Wa alaikum salam” jawab Pujangga.

“Ke mana aja? Kok gak ngasih kabar?” tanya Fatma sok akrab seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

“O, sudah sembuh toh marahnya.” Ucap Pujangga bercanda.

Mendengar itu Fatma menunduk malu, tapi rasa malunya kali ini nampak seperti ingin dimanja, buru-buru ia menata sikapnya kembali.

“Enak aja, aku sudah biasa dengan orang seperti temanmu itu. Tapi udah terbalaskan kok, aku jadi tenang sekarang” jawab Fatma santai.

“Sudah terbalaskan?. Emang sudah kamu apakan mas Jamal?” tanya Pujangga heran.

“Ada dech…, mau tahu aja” jawab Fatma sok imut. “Entar juga tahu sendiri.”
*  *  *  *  *

Sementara itu di basecamp ODAPUS, mas Jamal duduk tegak berpikir serius. Semua orang disana tahu bahwa mas Jamal sedang marah. Tangan kanannya memegang bulpen yang dipukul-pukulkan pelan di atas meja di depannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah jurnal. Terkadang dadanya sedikit naik-turun seperti menahan sebuah ledakan. Wajahnya juga sedikit memerah seperti menahan marah. Teman-temannya yang ada ditempat itu hanya berani melirik diam-diam karena mencium aura yang tidak mengenakkan bila mencoba bertanya kepadanya.

Suasana semakin berubah di ruang itu ketika Pujangga baru datang.

“Baca artikel ini!, semoga kamu sadar atas ukhuwahmu selama ini dengan Fatma” ucap mas Jamal dengan nada tinggi kepada Pujangga.

Pujangga menerima jurnal itu. Dia cari artikel yang dimaksud mas Jamal di dalamnya.

“Moralitas. Sebuah refleksi yang mudah-mudahan menjadi reaksi” eja Pujangga dalam hati membaca sebuah judul artikel.

Laki-laki mana yang tak pernah mendengar atau bahkan mungkin meyakini pendapat yang mengatakan bahwa perempuan “tidak sederajat” atau bahkan “lebih rendah” dibanding laki-laki. Saya sangat menentang sikap seorang muslim kolot seperti ini. Kita sebagai mahasiswa yang menjadi agen of change ditambah lagi dengan embel-embel ‘Islam’ di kampus seharusnya malu jika tidak tidak kritis dengan istilah klasik yang masih bertahan sampai sekarang ini.

            Berawal dari ‘ngobrol santai’ dengan seorang lelaki yang awalnya sangat saya hormati (semoga orang yang saya maksud membaca artikel ini), namun siapa tahu apa yang terpendam dalam hatinya yang ternyata dia tidak suka dengan saya. Obrolan menjadi sangat menarik ketika lelaki tersebut mulai semangat menceramahi saya. Dan lebih terhenyak lagi ketika lelaki dihadapan saya itu tiba-tiba saja menuduh saya sebagai pendosa dan penolak syariah hanya karena menurutnya saya memakai jilbab dengan tidak benar. “Mencoreng Agama”, begitu kata lelaki tersebut. Diam saya mungkin dianggap sebagai pembenaran terhadap apa yang diucapkannya, sehingga mungkin dia lebih berani lancang mengecap perempuan ‘lebih rendah’.

            Dilihat perbedaannya memang lelaki dan perempuan berbeda. Tetapi perbedaannya tidak lebih hanya sebatas fisik belaka. Namun entah bagaimana awalnya anggapan perempuan lebih rendah memang sudah ada sejak dahulu. Inilah yang membuat perasaan perempuan terluka. Bila kita mau kritis dan objektif, selain bentuk fisik sebenarnya apa yang membedakan laki-laki dan perempuan?, tidak ada. Mungkin bagi orang yang tidak setuju dengan pendapat ini akan berkata “bukankah Tuhan memang lebih mengistimewakan hak laki-laki daripada perempuan sebagaimana banyak yang Dia firman-kan dalam kitab-Nya”. Maka disini saya perlu tegaskan bahwa itu semua hanya sebatas penafsiran manusia dalam rangka meraba-raba maksud tuhan yang tersirat dari kitab-Nya tersebut, yang mau tidak mau itu bisa jadi benar bisa jadi salah. Bukan berarti saya mengatakan kitab itu salah, tetapi saya tegaskan disini “pemahaman” manusia terhadap kitab-Nya itulah yang bisa salah bisa juga benar. Tapi saya yakin bahwa tuhan itu Maha Adil. “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik” begitu salah satu firman Tuhan yang saya ketahui. Bukankah tuhan membedakan manusia hanya dari taqwanya?.

            Sangat naif sekali bila istilah “lebih rendah” hanya didominasi kaum lelaki dalam memandang perempuan. Tapi mengapa istilah tersebut tidak bisa digunakan perempuan untuk memandang laki-laki?. Bagi saya istilah ini sangat berbahaya. Laki-laki yang meyakini istilah ini bisa-bisa menjadikannya sebagai alasan untuk memperkosa hak-hak perempuan.

            Bila kita jujur, sebenarnya istilah ‘lebih rendah’ ini hanya cocok digunakan untuk iblis atau setan. Karena memang setan adalah pembangkang tuhan yang mengganggu manusia untuk sejalan dengannya membangkang perintah tuhan. Nah, Manusia yang terpengaruh oleh rayuan setan pasti tak bermoral. Dan orang yang yang tak bermoral itulah yang seharusnya kita cap ‘lebih rendah’. Rasa-rasanya ‘makhluk rendah’ bila kita paksakan setelah melihat realitas yanga ada, justru lebih cocok untuk kita sandangkan pada laki-laki, karena memang tindak kriminal atau pelecehan sering dilakukan kaum laki-laki terhadap perempuan daripada sebaliknya. Begitu juga dengan sikap teman ngobrol saya tadi, mungkin istilah ‘lebih rendah’ lebih cocok untuk dia karena menuduh tanpa menjunjung tinggi moralitas.

Pujangga terbelalak ketika kemudian membaca catatan kaki yang tertulis, *) Penulis adalah pimpinan redaksi Jurnal ‘Inilah Perempuan’. Pujangga menutup jurnal itu dan menatap mas Jamal yang duduk di depannya.

Pujangga merasa gelisah setelah membacanya. Bukan gelisah karena tahu bahwa isi dari tulisan itu sangat menyinggung orang yang kini duduk di depannya. Tapi gelisah karena merasakan apa yang dirasakan Fatma ketika didamprat oleh mas Jamal beberapa hari lalu.

“Nah, setelah apa yang kamu baca barusan” mas Jamal membuka pembicaraan. “Bagaimana pandanganmu tentang Fatma sekarang ?.”

Pujangga tahu dari pertanyaan itu sebenarnya mas Jamal ingin mendapat dukungan pembenaran darinya dan menyalahkan Fatma.

“Mengapa orang ini tidak sadar-sadar juga” pikir Pujangga pada diri sendiri.

“Kenapa kamu diam saja?” tanya mas Jamal lagi.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap mas Jamal” ucap Pujangga “Saya rasa apa yang ditulis Fatma itu ada benarnya. Sebaiknya mas Jamal lebih bijak menghadapi ini semua, ya anggap saja ini adalah sebuah kritikan yang membangun untuk mas Jamal”

Mas Jamal menganga kaget dengan jawaban Pujangga. Bagaimana mungkin juniornya ini tidak memihak kepadanya.

“Ada benarnya gimana?. Ini yang saya khawatirkan selama ini. Kamu sekarang mulai terpengaruh dengan dia” ucap mas Jamal dengan suara tinggi.

“Mas Jamal, saya bukanlah orang bodoh yang mudah terpengaruh dengan orang lain. Seharusnya saya yang lebih mengkhawatirkan mas Jamal karena ternyata mas ini tidak sadar-sadar juga” balas Pujangga.

“Apa?. Kamu mengatakan saya tidak sadar-sadar?. Tidak sadar atas apa?” bentak mas Jamal.

“Bagaimana mungkin mas Jamal sadar bila selalu merasa benar. Dengan sikap mas seperti itu kritik apapun akan mental dari telinga mas” jawab Pujangga.

“Sekarang saya tanya” lanjut Pujangga. “Dimana letak kesalahan Fatma? Bukankah benar apa yang dikatakannya bahwa yang dilihat Allah adalah kualitas taqwa?, bukankah derajat rendah juga bisa disandang oleh laki-laki bila tidak menjunjung moralitas?” serang Pujangga dengan deretan pertanyaan.

Sementara itu mas Jamal hanya diam saja. Entah diam karena tidak kuat menahan emosi atau karena memang malu untuk mengakuinya. Sesaat ruangan itu hening.

“Jilbab tidak dapat dijadikan sebagai ukuran integritas moral mas Jamal” ucap Pujangga dengan nada lebih rendah dari sebelumnya. “Toh banyak juga yang berjilbab tapi tak bermoral karena memang jilbabnya dipakai karena terpaksa. Berbeda dengan Fatma. Saya mau bergaul dengannya bukan karena jilbabnya, tapi memang hatinya baik. Hatinya berjilbab.”

“Ah, bagaimana mungkin hatinya berjilbab? Bila hati berjilbab pasti orangnya juga berjilbab dengan benar” jawab mas Jamal menyangkal.

Pujangga sesaat diam. Bukan diam karena jawaban konyol dari orang yang ada di depannya itu, tapi diam karena jengkel dan merasa susah bicara dengan orang yang keras kepala itu.

“Percuma bicara dengan kamu mas Jamal. Percuma berbicara dengan orang yang selalu merasa benar. Percuma berbicara dengan orang yang mencari-cari alasan untuk membenarkan alasannya” ucap Pujangga kesal sembari membalikkan badan melangkah  meninggalkan mas Jamal agar pembicaraan tidak semakin panas.

“Mau ke mana kamu?” tanya mas Jamal dengan nada yang mulai tinggi lagi.

“Ada pepatah arab mengatakan, “tarkul jawaab ‘alal-jaahili jawaabun” jawaban untuk pertanyaan orang bodoh adalah dengan meninggalkannya” jawab Pujangga santai tanpa membalikkan badan.

“Apa ?!!!” teriak mas Jamal memegang dan menarik bahu Pujangga yang memaksa badannya berbalik kembali menghadapnya. “Jadi kamu anggap aku bodoh?”.

“Ya!” jawab Pujangga tegas sekenanya.

Plllaaakkk!. Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi Pujangga. Namun bukan Pujangga namanya bila diperlakukan begitu hanya diam saja. Kerah baju mas Jamal langsung diangkat agak tinggi dengan tangan kiri Pujangga.

Plllaaakk, plaaakkkk!. Pujangga balas mendaratkan tangannya dua kali di pipi seniornya itu. Tubuh mas Jamal gemetar ketakutan karena memang badan Pujangga lebih besar dan berotot daripada dia, dia tidak menyangka Pujangga berani melakukannya.

Diancuk. Lu kira gua kagak berani ama lu? Jangan blagu gitu dong!” bentak Pujangga yang entah kenapa tiba-tiba saja dialek Jakarta-nya yang baru dipelajarinya keluar ditambah misuh-misuh ala Suroboyoan.

“Sorry aja bos gua balikin tamparan lu dua kali. Yang satu buat jihad membela diri sendiri, yang satu lagi buat Fatma. Puas?!!!” lanjut Pujangga masih dengan lagak anak Jakarta yang kemudian melepas cengkraman tangannya dan menurunkan mas Jamal.

Pujangga keluar dari ruangan itu dengan senyum puas yang agak aneh. Sedangkan mas Jamal masih diam berdiri memegang pipinya yang berdenyut-denyut memerah kaget dengan apa yang barusan menimpa dirinya. Dia juga malu dengan semua anggota ODAPUS yang terperangah melihat kejadian itu.

Sejak kejadian itu. Bukannya Pujangga jarang ke basecamp tapi dia malah makin sering. Tapi jangankan bicara dengan Pujangga, menatapnya saja mas Jamal tidak berani lagi. Rupanya Pujangga sengaja bersikap begitu ingin membuat mas Jamal agar lebih hati-hati berurusan dengannya. Begitu juga teman-temannya di ODAPUS, semuanya menjadi sungkan kepada Pujangga, lebih tepatnya takut. Namun lama-kelamaan didiamkan oleh teman-teman pasti sangat tidak mengenakkan perasaan. Bila ada yang bicara dengannya mungkin itu hanyalah terpaksa, karena Pujangga yang terlebih dulu membuka pembicaraan. Perasaan tidak enak seperti itu bila hanya didiamkan maka lama-lama akan terasa makin sakit, harus dimuntahkan sekalian supaya selesai. Seperti bisul yang bila dibiarkan saja akan terasa sakit, tapi kalau sudah meletus terasa maknyoss tenan.

Akhirnya Pujangga tidak pernah lagi mau datang ke basecamp ODAPUS. Sebenarnya meninggalkan basecamp itu membuat hati Pujangga terasa sedikit pahit. Dia kehilangan banyak teman. Tapi apa gunanya teman bila tak bisa saling memberi nasehat seperti mas Jamal, bila dinasehati kok malah marah.

“Yo wes! Biarkan saja.” Paksanya pada diri sendiri suatu hari. Ia memang sering melamun atas perasaan pahit meninggalkan teman-temannya itu.

“Lagi ngapain?” tanya Fatma suatu hari. “daripada bengong gini mending ikut aku yok!”.

Melihat Pujangga sering melamun sendiri tanpa ada kegiatan yang berarti, Fatma yang peka terhadap perasaan Pujangga itu akhirnya berusaha untuk lebih dekat lagi dengannya untuk mengikis perasaan pahitnya. Basecamp Bunda Setia tempat nongkrong buat mengerjakan jurnal ‘Inilah perempuan’ menjadi obat bagi Pujangga.

“Ayo masuk !” ucap Fatma suatu hari ketika mengajak Pujangga masuk ke basecampnya untuk pertama kali.

“Nggak ah,” ucap Pujangga “aku kan bukan perempuan” ucapnya lagi sambil menunjuk pintu di depannya yang ternyata ada papan kecil coklat bertuliskan ‘WOMEN  ONLY’.

“Ha ha ha, bisa aja kamu” tawa Fatma “Ah kamu ini, gituan aja diperhatiin. Maksud tulisan itu, tempat ini cuma buat ngomongin gimana membela hak-hak perempuan.”

Ada perasaan lain yang bertambah di sudut hati Fatma sejak merasa lelaki ini lebih membelanya daripada mas Jamal. Apalagi kedekatannya ini makin membuat tahu bagaimana sifat asli Pujangga. Tidak hanya bentuk fisiknya sebagai lak-laki yang memang kekar, tapi sifatnya yang baik dan otaknya yang encer itu makin membuat Fatma tidak bisa tidak memperhatikannya. Perhatian Fatma terhadap Pujangga pun semakin bertambah. Benih cintakah yang tumbuh di sudut hati Fatma itu?, mungkin. Siapa yang sadar akan getar hati yang baru berupa benih itu. Fatma pun selalu mencoba menepisnya bila rasa itu bergetar di hatinya.

“Cowokmu?,” bisik Rini teman Fatma.

“Kalau iya kenapa, kalau nggak juga kenapa?” tanya Fatma bercanda.

“Kalau nggak, aku siap daftar jadi ceweknya”

Walu itu hanya bercanda, mendengar kata seperti itu Fatma merasa tidak nyaman. Alasan inilah yang entah mengapa membuat Fatma berpikir bagaimana supaya dia kelihatan sebagai ‘milik’ Pujangga. Warna hati yang bagaimanakah yang membuatnya mempunyai alasan seperti itu?.

“Dulu dia pernah memukul seseorang demi membelaku” ucap Fatma datar. “Kau tahu kan bagaimana perasaan seorang lelaki bila membela perempuan sampai seperti itu?. Jelas?.”

Rini tidak mengomentari jawaban temannya yang nampak serius itu. Dia tidak inigin angannya membumbung tinggi. Dia tahu apa yang ada di hati Fatma melalui matanya. Sedangkan Fatma tertawa geli ketika sempat melihat raut wajah Rini dari cermin di dinding ketika dia berbalik keluar.

Bunda Setia bukan hanya obat bagi Pujangga. Tidak perlu terlalu lama bagi Pujangga berkubang dalam kesedihan meninggalkan ODAPUS. Pujangga kini merasa cocok memasuki dunia barunya ini. Diskusi-diskusi kecil sering ia ikuti untuk membahas tekanan-tekanan yang dialami oleh perempuan. Dia melihat banyak ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Tulisan-tulisannya pun sering muncul tidak hanya di ‘inilah Perempuan’, bahkan buletin-buletin lain di kampus itu sering memuat artikel tulisannya. Semua teman-temannya di Bunda Setia bangga terhadapnya, bangga karena Bunda Setia makin dikenal dan diakui di kalangan akademisi kampus. Otomatis nama Pujangga pun meroket ke luar kampus, entah ia memang merencanakan ‘go international’ tidak hanya di dalam kampus atau tidak, tapi ia memang sering terjun langsung ke luar untuk bergabung dengan LSM-LSM feminist lain untuk menangani kasus-kasus yang melecehkan perempuan. Misalnya ketika dia baru aktif di dunia barunya ini baru dua bulan, Pujangga semangat mengikuti kasus yang terjadi pada seorang perempuan direktur sebuah corporation yang ternyata pengidap AIDS, perempuan ini bernama Ibu Dinda. Setelah diketahui ternyata Ibu Dinda mengidap AIDS, suaminya yang pemabuk berat itu menuduh dia adalah wanita kotor, sering selingkuh dan pelacur murahan. Tapi setelah diselidiki lebih lanjut ternyata penyakit bu Dinda ini berasal dari suaminya yang menurut banyak saksi sering jajan sembarangan di lokalisasi.

Bukannya keadaan berbalik, namun anehnya mengapa Ibu Dinda tetap yang harus menelan pil pahit dari keluarganya. Ibu Dinda dituduh keluarganya tidak becus mengurus suaminya sampai si suami lebih memilih jajan di luar daripada dengan dia. Begitu juga dengan masyarakat dan rekan-rekan kerjanya yang kemudian mengucilkannya karena jijik dengan penyakitnya itu. Bu Dinda sudah tidak kuat lagi dengan masalah itu, dia pun menuntut cerai dengan suaminya. Namun apa yang terjadi? Ternyata suaminya yang pengangguran ini memang tidak tahu malu, dia terang-terangan tidak mau cerai sebelum Ibu Dinda menyerahkan rumah yang mereka tinggali selama ini kepada suaminya itu. Padahal jelas rumah itu hasil jerih payah Ibu Dinda. Awalnya jelas Ibu Dinda tidak sebodoh itu menyerahkannya begitu mudah. Namun semakin dia menolak semakin susah juga proses perceraiaan itu selesai, karena sudah tidak kuat berlarut-larut dalam masalah ini, toh Bu Dinda juga masih kaya dan berpenghasilan dari corporationnya itu, akhirnya ia pun menyetujui permintaan bekas suaminya, memberikan rumah hasil jerih payahnya kepada suaminya.

Pujangga merasa terpanggil pada masalah ini. Ia pun mendekati Ibu Dinda dan menasehatinya agar membuka kembali perkara harta gonogini di pengadilan, berat memang bagi Ibu Dinda membuka kembali perkara itu, karena itu berarti dia berurusan dengan bekas suaminya kembali. Namun akhirnya dia mengikuti nasehat Pujangga yang bersungguh-sungguh itu.

Keseriusan Pujangga untuk membantu Ibu Dinda tidak berhenti hanya sampai disitu saja. Dia menghubungi berbagai organisasi dan LSM ke-perempuan-an agar terus mengikuti kasus ini dan turut membantunya. Singkat cerita, Ibu Dinda dimenangkan oleh pengadilan atas perkara ini. Ibu Dinda tetap cerai dengan suaminya dan hartanya tak tersentuh sedikitpun oleh suaminya. Dan yang paling aneh, ketika palu hakim dipukulkan tanda permintaan cerai dikabulkan, tiba-tiba saja suaminya itu merengek-rengek kepada bu Dinda minta dikasihani. Bu dinda kaget tidak menyangka suaminya benar-benar melakukan hal sekonyol itu di ruang pengadilan. Tak ayal lagi para pengunjung yang turut menyaksikan jalannya pengadilan tertawa geli melihat laki-laki kotor tak tahu malu itu. Hati bu Dinda geli dalam hati dia berkata “laki-laki memang makhluk aneh”. Nampak di bibir bu Dinda ada senyum kecil yang bernada melecehkan laki-laki di depannya itu. Ketika melihat senyum bu Dinda itu, suaminya diam dan sangat merasa terlecehkan. Kemudian ia menatap Pujangga di pengadilan itu dan menghampirinya.

“Aku memang orang licik, hina dan bajingan. Tapi aku tetap orang yang punya perasaan. Aku licik hanya terhadap orang yang juga licik, dan istriku yang kau tolong itu adalah salah satunya. Suatu saat kau akan tahu kelicikan dan kekotorannya. Kau akan menyesal anak muda.” Suami bu Dinda lalu berpaling. Pujangga menanggapinya dengan senyum.

“Wah, kamu hebat Pujangga” puji Fatma esoknya “kalau bisa kamu harus menjalin hubungan terus dengan LSM-LSM itu. Kan bagus juga untuk perkembangan Bunda Setia.”

Setelah kejadian itu, semangat dan kepiawaiannya inilah yang membuat Pujangga makin dikenal tidak hanya di kampusnya, tapi LSM-LSM ke-perempuan-an diluar kampus pun mulai melirik sepak terjangnya yang nantinya diajak untuk bergabung. Bahkan sebuah Koran harian Jakarta menulis berita tentang proses pengadilan bu Dinda itu yang pastinya nama Pujangga juga ikut disebut-sebut, maklum perempuan itu termasuk pebisnis ternama, siapa yang tidak tertarik dengan berita tentang bu Dinda bila ia dituduh terkena AIDS dari suaminya dan memproses perceraian.

Perubahan yang terjadi pada dirinya, tidak membuat Pujangga berbangga hati, ia masih merasa seperti Pujangga yang dulu. Sedangkan Fatma, ada yang nampak makin aneh pada hatinya, ia bangga melihat perubahan Pujangga seperti itu, ia bangga menjadi teman dekat Pujangga, tapi semua perubahan yang terjadi pada Pujangga nantinya justru makin membuatnya takut menarik perhatian perempuan lain. Entah kenapa dalam hatinya ia sangat egois ingin Pujangga selalu dekat dengannya. Tapi Fatma sendiri juga merasa rumit dan selalu menolak bila dikatakan apa yang dirasakannya itu adalah cemburu.

Pernah suatu saat ketika Pujangga duduk membaca buku sendirian di taman dekat basecamp tiba-tiba Fatma datang menghampiri dan duduk disampingnya. Melihat Fatma yang datang, Pujangga hanya melihatnya sekilas dan kembali tenang membaca. Namun siapa sangka suasana hati Fatma berubah nampak berbeda ketika menggunakan kesempatan itu untuk memandang wajah Pujangga berlama-lama. Ada berbagai rasa yang menyerang Fatma ketika bebas memandangnya seperti itu. Kagum terhadap ketampanan laki-laki di sampingnya. Bangga bisa berdekatan dengannya. Dan masih banyak lagi rasa yang sulit ia terjemahkan sendiri. Fatma tersenyum bahagia. Siapapun yang melihat raut muka Fatma saat itu pasti juga segera tahu bahwa senyum Fatma itu juga mengandung rasa takut. Takut untuk berjauhan dengan laki-laki yang kini di sampinya. Pujangga meliriknya sesekali, awalnya dia membiarkan Fatma menatapnya seperti itu, namun lama-kelamaan ia merasa risih juga dilihat dengan pandangan menelanjangi oleh Fatma.

“Kecantikan atau ketampanan seseorang itu hanya sebatas kulit” ucap Pujangga tiba-tiba seakan tahu apa yang terlintas di pikiran Fatma. Bukannya malu disindir seperti itu, justru Fatma pun mencoba menutupi sikapnya tadi.

“Idih. Sok tampan kamu!.”

“Ada kecantikan yang sangat luarbiasa dalam setiap diri manusia, namun kecantikan seperti ini sangat sulit untuk dilihat kecuali dengan cinta”. Lanjut Pujangga tanpa memperhatikan ucapan Fatma.
 *   *   *

 “Assalamu alaikum” sapa seorang perempuan di depan pintu rumah Mpok Lohan .

 Wajah cantik dan cara berpakaian perempuan itu mengundang Mpok Lohan untuk bersikap ramah namun penuh curiga. Namun kecurigaan Mpok Lohan berhasil tertutupi oleh senyum khasnya yang seakan penuh keakraban itu. Raut muka perempuan itu pun mengimbangi sikap Mpok Lohan.

“Wa alaikum salam” jawab Mpok Lohan. “Maaf. Ada perlu apa ya?”

“Saya mau bertemu dengan Pujangga. Ada?”

“O, Pujangga. Ade kok. Silahkan masuk dulu neng!”

Perempuan itu melangkah masuk ke sebuah ruang yang dikhususkan untuk para tamu perempuan yang ingin bertemu dengan mahasiswa yang kos di rumah Mpok Lohan.

“Mau minum ape neng?” tanya Mpok Lohan dengan logat Betawi kental.

“Terserah ibu saja. Maaf ngerepotin”

“Ya kagak lah, inikan udeh kewajiban aye” kata Mpok Lohan ramah “Jadi mau yang dingin, hangat atau panas? Atau ingin coba ketige-tigenye?” canda Mpok Lohan memancing ke-akrab-an dengan perempuan itu.

“Emmm, gini aja deh. Saya mau ketiga-tiganya dicampur, diaduk dijadikan satu gelas aja ya bu. Bisa?” balas perempuan itu tak kalah lucunya.

“Ha..ha... Ancur  dong rasenye. Ya udeh, aye panggilin Pujangga dulu ye” kata Mpok Lohan sembari pergi naik ke lantai atas untuk memanggil Pujangga.

Sebelum Mpok Lohan mengetuk pintu kamar Pujangga. Ternyata Pujangga sudah ada di belakang Mpok Lohan tanpa sepengetahuannya.

“Ada apa mpok?” tanya Pujangga lirih.

“Eh ampun...ampun...ampun!” kaget Mpok Lohan yang tidak tahu kalau ternyata yang mau dicarinya sudah ada di belakangnya sambil mengalungkan handuk di lehernya. Rupanya Pujangga baru dari kamar mandi.

“Ah ngagetin mpok aje lu

“Siapa yang ngagetin. Kan saya tanya pelan-pelan”

“Ah, ya udeh kagak usah dibahas. Itu ade yang nunggu di bawah”.

“Siapa mpok?”

Mane mpok tahu!”

“Cowok apa cewek?”

“Nenek-nenek”

“Fatma ya?”

“Bukan”

“Cantik nggak?”

“Ah tanya melulu. Lihat aje ndiri!” jawab Mpok Lohan kesal “Cepet temuin sono!

“Oke. Saya mau ganti baju dulu ya mpok

Iye. Cepetan sono!

Pujangga pun bergegas mengganti pakaiannya menggunakan kaos biru muda favoritnya. Menyisir rambut yang ternyata sudah agak panjang di depan cermin. Dia belum tahu siapa yang mengunjunginya di bawah, dia mengira salah satu temannya. Sementara itu perempuan itu sibuk memainkan jari jempolnya pada hanphone bermain game untuk menghilangkan jenuh.

            “Siapa itu ya?” tanya Pujangga dalam hati ketika dia turun melihat perempuan yang duduk di ruang tamu dari atas tangga “sepertinya aku pernah ketemu”.

“Assalamua alaikum” sapa Pujangga.

Perempuan itu mengangkat kepala dan melihat Pujangga yang tanpa ia sadari  sudah berdiri di depannya itu.

“Wa alaikum salam” jawab perempuan itu.

“Pujangga” seru perempuan itu lirih sembari berdiri.

“O ternyata Ibu Dinda toh. Saya kira siapa tadi”

Segera perempuan itu menekan tombol menu dan tanda (*) pada hanphone yang lalu dimasukkan dalam tas jinjingnya.

“Bagaimana kabarnya?” tanya perempuan itu sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Alhamdulillah kabar saya baik. Ibu sendiri bagaimana?” jawab Pujangga sambil menyambut tangan perempuan itu dengan ringannya.

“Yah seperti yang kamu lihat. Sehat, baik dan benar sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan” jawab Ibu Dinda bercanda.

“Ha..ha..” tawa Pujangga.

“Wah... lagi seneng-seneng nih?” sahut Mpok Lohan tiba-tiba sembari membawa nampan minum. “ini silahkan diminum neng!. Kagak boleh sisa lho minumannye, soalnye kagak bise diangetin lagi

“Biasa Bu Dinda, Mpok Lohan ini memang suka bercanda yang aneh-aneh” ucap Pujangga pada Bu Dinda.

“Mpok Lohan?” tanya bu Dinda merasa aneh dengan nama yang barusan didengarnya itu.

“Iye, Mpok Lohan” sahut Mpok Lohan “Bagus kan nama mpok?. Yah seperti yang neng lihat, mpok emang seperti ikan Lohan yang konon bise ngebawain hoki” mpok Lohan mencoba menjelaskan namanya dengan bangga.

“Hoki apaan mpok?” goda Pujangga “biaya sewa kamar kos kan tetep aja mahal, mana hoki buat saya dan teman-teman yang ngekos disini. Itu mah bencana bukan hoki”

“Gimana sih lu ini. Hoki didepan mate gini kok kagak sadar lu” balas Mpok Lohan sambil melirikkan mata menunjuk ke arah bu Dinda.

Ibu Dinda yang tahu bahwa lirikan Mpok Lohan mengarah kepadanya dan selang satu detik setelah lirikan itu Pujangga juga menoleh kepadanya maka Ibu Dinda pun merasa malu, pipi yang hanya diolesi bedak tipis itu pun mendadak menjadi merah tersipu malu.

“Ya sudah. Mpok mau ke belakang dulu supaye kagak ganggu” ucap Mpok Lohan kemudian.

Mpok Lohan berpaling pergi ke dalam, namun masih sempat saja menggoda Pujangga sambil melirik-lirik ke arah Bu Dinda. Melihat itu, Pujangga meletakkan jari telunjuknya ke atas dahi dan memiringkannya. Mpok Lohan cengar-cengir saja.

“Sebelum saya mengajukan niat tujuan kedatangan saya ke sini” Bu Dinda mulai membuka percakapan “Saya ingin mengajukan terimakasih atas bantuan kamu saat itu.”

Pujangga hanya mesam-mesem saja mendengar kata Bu Dinda. Sebenarnya dalam hatinya biasa-biasa saja dengan apa yang telah dia lakukan pada bu Dinda saat itu karena memang itu tugasnya sebagai aktifis jender. Entah sudah berapa kali Bu Dinda berterimakasih pada Pujangga baik secara langsung, telpon dan lain lain.

“Oleh sebab itu kedatangan saya kali ini menawarkan untuk bergabung” sambung Bu Dinda.

“Bergabung?” tanya Pujangga meyakinkan.

Bu Dindan mengangguk dengan senyum mengiyakan.

“Maksud ibu bergabung apa?” tanya Pujangga lagi

“Sejak masalah rumah tangga saya selesai, alhamdulillah saya makin produktif untuk lebih fokus pada karir saya.” Ucapnya. “Dan tidak lama kemudian saya befikir untuk mencoba membuka anak perusahaan baru di bidang kuliner yang ada dibawah Hubb Corporation yang saya pimpin. Saya membuka restaurant baru”

Pujangga diam memperhatikan apa yang dijelaskan oleh perempuan di depannya itu, dalam hati dia tahu mengarah kemana penjelasan bu Dinda itu. Namun ia tetap diam agar lebih mendapat kejelasan.

“Lalu saya teringat kamu. Saya berfikir kamu dapat memimpin restaurant baru ini sebagai ungkapan terimakasih saya”

Wajah Pujangga menunjukkan ekspresi kaget, namun cepat-cepat ia menata kembali sikapnya. Bu Dinda tersenyum melihat ekspresi itu.

“Bagaimana Pujangga?” tanya Bu dinda

Beberapa detik pertanyaan itu masih belum menemukan jawaban, sedangkan yang ditunggu masih diam saja nampak kebingungan.

“Saya bingung bu” ucap Pujangga akhirnya “Ini seperti mimpi. Saya ini kan cuma orang desa, di rumah cuma bisa nggarap sawah dan mengaji di Musholla. Bagaimana mungkin bisa memimpin sebuah restaurant. Apa ini tidak berlebihan bu?”

“Bukankah hal seperti ini yang banyak diimpikan oleh orang-orang desa yang mengadu nasib di Jakarta?” tanya Bu Dinda “Semua presiden-presiden kita pun semuanya dari desa. Bukan dari desanya yang saya lihat dari kamu. Tapi dari caramu me-lobi LSM-LSM dulu itu bisa kamu terapkan untuk berbisnis, untuk melobi perusahaan-perusahaan lain. Selain itu saya juga melihat semangat yang luar biasa pada diri kamu, saya berpengalaman melihat potensi orang yang berbakat menjadi pemimpin, dan orang itu salah satunya adalah kamu”

Sebenarnya dalam hati Pujangga hal ini sangat berlebihan. Bukannya Pujangga tidak menginginkannya. Bagaimana dia tidak ingin, sekedar bisa ngajar ngaji di Jakarta untuk sekedar nambah biaya hidup di Jakarta seperti yang dia citakan dulu saja dia sudah senang apalagi ini ada tawaran besar. Menjadi pemimpin sebuah restaurant. Ini langkah yang sangat besar baginya.

Pembicaraan itu beberapa detik berhenti. Bu Dinda masih menunggu respon Pujangga, sedangkan Pujangga masih bingung, merasa aneh, takjub dan kagum atas lompatan nasibnya yang akan berubah bila nantinya ia menerima tawaran itu. Raut wajahnya menampakkan bahwa dadanya campur aduk berbunga-bunga bahagia.

Orang desa mana yang tidak berangan-angan bila mendapat posisi yang ditawarkan pada Pujangga itu. Walaupun Pujangga belum menjawab tawaran itu namun isi kepalanya sudah melambung tinggi membayangkan bila ia menerima tawaran itu, pasti beban orang tuanya akan berkurang dan bahkan dia bisa membantu pendidikan adiknya Chandradimuka di desa. Dia membayangkan, sebagai pemimpin restaurant nantinya ia pergi kerja dengan memakai jas dan dasi. Berangan-angan seperti itu membuat Pujangga tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepala kagum dengan apa yang ada dibayanagan itu.

“Kamu menolak?” tanya Bu Dinda yang merespon gelengan kepala Pujangga.

“Bukan begitu bu” jawab Pujangga akhirnya “Ini adalah lompatan nasib saya yang sangat besar, oleh sebab itu saya harus benar-benar mempertimbangkannya”

“Baiklah. Saya dapat mengerti. Kapan saya bisa dapat jawabanmu? Besok?”

“Tiga hari” jawab Pujangga “ Tiga hari lagi akan saya beri jawaban pada ibu.

Bu Dinda tersenyum mendengar jawaban itu. Pujangga mencoba untuk tenang dan tidak tergesa-gesa menjawabnya.

“Baiklah” ucap Bu Dinda “kalau begitu saya mohon undur diri dulu”

“Terimakasih bu”

Perempuan itu melangkah menuju pintu dengan senyum yang sangat menawan, dia yakin Pujangga akan menerima tawarannya. Sedangkan pemuda yang ada di belakangnya itu juga ikut melangkah mengikutinya mengantar hingga keluar pintu dengan raut muka yang masih kebingungan, namun bila dilihat dari senyumnya sangat kelihatan sekali bahwa apa yang dia bingungkan adalah hal yang membuatnya bahagia.

“Saya yakin dengan pilihanku. Jadi saya harap kamu tidak mengecewakan saya Pujangga” ucap perempuan itu sesaat sebelum meninggalkan rumah. Mendengarnya, yang diajak bicara hanya menganggukkan kepala penuh kemantapan.

“Tiga hari bu” jawabnya sederhana.

Setelah kejadian itu, tingkah Pujangga nampak sangat aneh. Untung saja keanehannya itu tidak keluar dari kamarnya sendiri, sehingga yang tahu dengan tingkahnya saat itu hanya Rudi teman samping kamarnya yang dari tadi numpang baca komik Sinchan sambil tiduran diatas kasur Pujangga. Rudi yang pada mulanya senyam-senyum membaca komik lucu itu, tapi lama-kelamaan senyumnya makin menjadi-jadi seperti menahan tawa. Dia ingin tertawa bukan karena cerita keseronokan anak kecil yang menunjukkan gambar kepala gajah di alat kelaminnya dalam komik Sinchan itu. Dia menahan tawanya karena melihat pujangga terkadang duduk sendiri di ujung kasur nampak memikirkan sesuatu, tidak lama kemudian dia berdiri masih dalam pikiran yang sama, kemudian dia mencoba mondar-mandir sambil meninjukan kepalan tangan kanannya ke tangan kirinya, setelah capek mondar-mandir dia kembali duduk, berdiri, mondar-mandir lagi dan begitu terus. Dan akhirnya Rudi tidak kuat, dia tertawa keras sambil melemparkan komik di tangannya ke arah kepala Pujangga yang sedang duduk disampingnya itu.

Ono opo tho? Kalau bingung dan gak mau bagi-bagi masalah ya sekalian saja benturkan kepalamu ke tembok supaya masalahmu langsung selesai.” Ucap Rudi bercanda. Sedang yang diajak ngomong kembali bengong ndomblong setelah melirik sebentar ke arah orang yang nimpuk kepalanya tadi.

“Gara-gara perempuan tadi ya?” tanya Rudi. “Kamu ditembak? Mbok ya diterima saja. Gitu aja kok repot. Wong jelas-jelas dia seksi, montok, seger, dan lain-lain kayak jamu komplit githu kok masih dipikir. Langsung saja kamu minum!”. Lanjut Rudi.

“Ditembak gundulmu” balas Pujangga akhrinya. “Dia itu sudah janda. Masa aku yang masih perjaka ting-ting begini gampang nerima janda”.

“Lha terus apa yang kamu pikirkan?”.

“Saya gak habis pikir Rud, kenapa dia begitu mudahnya menawarkan ke saya ya?”

“Waduh. Kamu ditawarin apa?” ngeres Rudi kaget dan langsung merubah posisi duduknya lebih memperhatikan. “Dia menawarkan diri?”

Melihat reaksi Rudi itu Pujangga hanya geleng-geleng kepala.

“Ah, aku males ngomong sama orang botak berotak ngeres” acuh Pujangga. Mendengar itu Rudi hanya senyum-senyum lalu melempar tubuhnya ke kasur kembali.

BERSAMBUNG.....
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 blogger-facebook:

  1. Tertawa baca kalimat "breggg" di paragraf awal bab ini. Hihihi... khas Abdul Ghaffar sekali.

    ReplyDelete

Item Reviewed: Bab 1 : Enam tahun yang lalu, ketika idealisme masih meresap dalamdaging. Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar