728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Friday, 28 February 2014

Bab 2 : Empat tahun kemudian. Jatuh cinta, dan hanya berdiri di ujungnya

Sore itu Pujangga mengenakan jas almamater hijau nampak tergesa-gesa keluar dari aula kampus, Bunda Setia baru saja usai mengadakan seminar di ruang itu. Wajah Pujangga nampak sangat lelah, sejak tadi pagi ia suda ada di kampus, menemui dosen yang akan membimbingnya dalam penulisan skripsi, lalu siang harinya tidak sempat makan siang karena harus segera mengikuti seminar Bunda Setia untuk menjadi moderator di acara itu.

Fatma yang sebenarnya ingin bicara dengan Pujangga, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat Pujangga terburu-buru. Sedikit perih rasa di ulu hatinya, dan bibirnya pun terpaksa sedikit maju merengut kesal. Beberapa teman yang melihat ekspresi wajah Fatma menghampirinya dan mengelus punggungnya seakan mengatakan “Sabar Fatma....!.” Padahal sejak kemarin Fatma dan beberapa teman menyiapkan surprise untuk Pujangga di basecamp nanti malam. Rencananya Fatma akan berbohong kepada Pujangga dengan berbagai alasan agar nanti malam Pujangga bersedia datang di Basecamp Bunda Setia, tapi melihat Pujangga yang langsung ngeluyur seperti itu Fatma hanya bisa menahan kesal.

“Biar saja dulu, nanti kalau kita semua sudah siap kita sms saja untuk satu keperluan agar dia datang ke basecamp. Sudah ah, jelek banget monyong lu.” Goda Rini.

Pujangga berlari kecil sambil membawa beberapa map di tangan kanannya. Setelah tiba di tempat parkir beberapa saat dia menoleh seperti mencari sesuatu, akhirnya dia melangkah ke kiri dan mengambil sesuatu dari kantong celananya. Lalu dia menekan tombol benda yang baru diambilnya itu, dan terdengar bunyi alarm mobil terbuka. Tidak beberapa lama kemudian ia membuka pintu sedan biru muda keluaran terbaru. Mobil itu adalah pemberian bu Dinda untuk Pujangga sebagai pemimpin restaurant yang ada di bawah Hubb corporation. Ia melepaskan jas almamater dan melemparkannya ke kursi sampingnya, duduk dan mulai menyetir keluar kampus.

Hampir satu jam di perjalanan dan tiba-tiba handphonenya berdering menyanyikan lagu iwan fals yang mengkritik wakil rakyat. Lalu ia memasang headset dan berbicara dengan orang yang meneleponnya tersebut sembari terus menyetir.

“assalamualaikum” ucap suara itu.

“Waalaikum salam” jawab Pujangga.

“Sudah di mana kamu?”

“Maaf bu saya terlambat, ini saya dalam perjalanan menuju ke sana. Mungkin tidak sampai 10 menit lagi saya sampai”

“Oke. Kita masih menunggu kamu” ujar perempuan itu. “assalamualaikum”

“Waalaikum salam”.

Tidak beberapa kemudian Pujangga sudah tiba di parkir hotel Syahid yang terletak di jalan Sudirman. Sebelum turun dari mobilnya, Pujangga menggekan jas hitam yang sejak tadi digantung di belakangnya, menggunakan dasi biru tua bergaris putih miring dan menyisir rambutnya sembari menatap cermin kecil di depan. Berpakaian seperti itu Pujangga sangat tampan. Pujangga anak bandel dari desa itu kelihatan lebih gagah dan berwibawa, tampan dan jauh lebih putih dan bersih dibanding Pujangga yang dulu. Pemakan singkong dan jagung itu, kini nampak lebih tinggi dan kekar.

Pujangga turun dari mobil dan melangkah masuk ke hotel.

“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan muda berbaju batik yang berdiri di pintu restaurant hotel tersebut.

“Saya ada meeting dengan Hubb Corporation”

“Mari saya antar, anda sudah ditunggu sejak tadi” jawabnya senyum penuh kesopanan.

Keduanya melangkah menuju ruang meeting yang dimaksud. Melewati jalan yang disepanjang kanan kirinya terdapat alat musik jawa ; gamelan, bonang, gong dan sebagainya. Melihat itu Pujangga teringat waktu kecil dulu dia sering bermain gamelan di desanya.

“Silahkan masuk” ucap perempuan tadi seraya mebukakan pintu ruang meeting di depannya. Pujangga melangkah masuk. Di tengah ruangan tersebut ada meja putih panjang yang dikelilingi sembilan orang, nampak di salah satu ujung meja tersebut duduk bu Dinda. Ketika mereka melihat siapa yang baru datang mereka pun berdiri untuk sekedar menghormati dan berjabat tangan. Kemudian Pujangga duduk di samping ibu Dinda.

“Maaf atas keterlambatan saya” ujarnya mengawali. Lalu ia menoleh ke bu Dinda yang duduk disampingnya.

“Apa bisa langsung saya mulai bu ?”

“Tentu. Silahkan”

Pujangga memulai presentasinya kepada semua yang ada disana. Mulai dari masalah apa yang seharusnya dilakukan oleh Hubb corporation dan semua anak perusahaan yang ada di bawahnya.

Diantara kesepuluh orang yang duduk disana, Ibu Dinda lah yang mempunyai kedudukan tertinggi. Dia pemilik tujuh puluh persen saham di Hubb Corporation dan juga menjadi direktur utamanya. Sedangkan kesembilan orang lainnya termasuk Pujangga memiliki kedudukan yang sama, yakni menjadi CEO masing-masing anak perusahaan. Walaupun Pujangga adalah yang termuda, namun dia adalah orang yang paling disegani setelah bu Dinda, karena mereka melihat bahwa hubungan keduanya sangat dekat, tidak hanya sebagai rekan bisnis, atasan dengan bawahannya ataupun teman. Entah mereka menyebutnya apa, namun mereka faham bahwa ada yang lain di hati bu Dinda terhadap Pujangga. Terkadang Pujangga merasakan juga apa yang disangkakan oleh teman-temannya tersebut tentang dirinya, namun ia akan buru-buru mengusir prasangka itu dari hatinya sendiri.

Sekitar satu jam pemuda lulusan pesantren, yang juga tidak pernah sekolah bisnis itu berdiri presentasi di depan para eksekutif, mimik wajahnya serius mengeluarkan aura ketenangan. Sesekali ia menghadap display dari projektor yang menampilkan sketsa dari flash dan menunjuk layarnya dengan laser merah alat presentasi, sesekali ia menghadap ke depan orang-orang yang ada disana. Apalagi ketika beberapa rekan-rekan bisnis itu mulai bertanya tentang isi prsentasi yang belum difahami, maka ketika Pujangga menjawabnya sangat nampak apa yang diucapkannya didepan orang-orang itu adalah hal-hal yang hebat untuk kemajuan perusahaan. Sungguh berbeda dengan Pujangga yang dulu.

“Mungkin sekian presentasi dari saya” ujarnya menutup “terimakasih.”

Setelah itu, bu Dinda bicara sekedarnya kepada orang-orang yang ada disana untuk menutup resmi acara. Entah kebetulan atau tidak, tepat setelah meeting resmi ditutup oleh bu Dinda, tiba-tiba saja seseorang berpakaian hitam rapi membawa walky talky di tangan kanannya yang menunjukkan bahwa dia adalah security hotel masuk ke ruang tersebut, dia berusaha sesopan mungkin namun dari ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ada sesuatu terjadi.

“Maaf mengganggu. Apa ada yang memiliki mobil BMW bernomer polisi B 6402 XJ ?” tanya orang tersebut.

“Ya saya sendiri. Ada apa dengan mobil saya?” jawab Pujangga.

“Petugas security di tempat parkir mengkabarkan saya bahwa ada yang memecahkan jendela mobil bapak.”

Semua orang yang ada di ruang itu kaget, bahkan ada juga yang sampai terbuka mulutnya, saking kagetnya.

“Hahh..?,.Ayo kita kesana” ucap Pujangga kepada security tadi. “Maaf saya tinggal sebentar” sambungnya menoleh rekan-rekannya.

Sewaktu Pujangga berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya diparkir bersama petugas security tadi, tiba-tiba walky talky tadi terdengar suara.

“empat tiga... empat tiga” suara tersebut

“empat tiga disini. Ganti” balas security tadi

“Ralat. Bukan BMW tadi, tapi BMW disampingnya. Ganti”

“baik. Saya terima”

Pujangga yang tidak begitu mendengarkan pembicaraan orang disampingnya dengan walky talkynya itu ikut berhenti ketika petugas tadi tiba-tiba berhenti.

“Kenapa?”

“maaf pak, seumur hidup saya baru kali ini terjadi seperti ini” ujarnya “sekali lagi saya minta maaf”.

“Ada apa?” Tanya Pujangga aneh.

“Ternyata petugas parkir salah kasih informasi. Mobil bapak tidak kenapa-kenapa. Yang jendelanya pecah adalah mobil sedan disamping mobil bapak”

Mendengar penjelasan tersebut Pujangga sekilas nampak jengkel. Tidak komentar dan lalu membalikkan badan dan terus kembali sendiri ke ruang yang ditinggalkannya tadi. Petugas tadi tidak mengantarnya dan juga berbalik ke tempat tugasnya.

Ketika Pujangga kembali dan membuka pintu ruang meeting tadi, tiba-tiba semua orang yang ada disana sudah berdiri didepan pintu dengan posisi menyambut Pujangga.

“Surpriseee......” teriak mereka sambil melemparkan potongan kecil kertas warna-warni ke arah Pujangga.

“Happy birthday to you.... happy birthday to you.... Happy birthday happy birthday, happy birthday tooooooo youuuuuu.......” teriak mereka menyanyi berantakan disusul dengan tawa terbahak-bahak.

Melihat itu semua, pujangga hanya senyum kaget, bibirnya terbuka kecil, takjub, sambil memegang kening kepalanya serasa tak percaya. Dia baru ingat bahwa sekarang dia sudah memasuki usia ke 25 tahun. Acara sederhana dengan konsep elite itu semuanya sudah diatur oleh bu Dinda. Sebuah pertanyaan besar, mengapa beliau sampai turun tangan sendiri untuk mengadakan surprise party ini? Apakah meeting tadi hanya akal-akalan saja agar Pujangga hadir?. Entahlah.

Di lain tempat, jauh dari keramaian pesta itu. Keadaan sangat berbeda. Sekitar limabelas teman Pujangga berkumpul di basecamp, semuanya nampak sedih melihat Fatma yang duduk di depan kue tart bertuliskan “25 tahun sang Pujangga”. Dan entah sudah berapa lama Rini yang jalan mondar-mandir dari tadi berusaha menelpon Pujangga, tapi sejak tadi ternyata handphone yang dituju tak juga aktif, mungkin dia sengaja tidak mengaktifkannya karena takut mengganggu meeting tadi dan lupa menghidupkan setelah selesai.

Padahal sebelum pergi ke basecamp untuk merayakan ulang tahun Pujangga, Fatma sudah berusaha tampil sebaik mungkin. Tiga jam yang lalu dia masih bingung memilih pakaian di kamarnya. Bi’ Imas pembantu di rumah Fatma menilai pas tidaknya baju yang dipakai Fatma.

“Yang ini bagus nggak bi’?”  tanya Fatma sambil melihat pakaian yang dipakainya di depan cermin. Sedang bi Imas hanya diam layaknya seorang designer menilai baju pengantin disamping cermin yang berukuran besar itu.

“Bagus” jawab bi Imas mantuk-mantuk kecil sok serius.

“Tapi kayaknya kekecilan dech” ucap Fatma akhirnya menilai sendiri. “Kalau yang ini bi’?” lanjutnya.

“Bagus” bi Imas mantuk-mantuk lagi.

“Tapi ini kan sudah sering dipakai, malu”

“Kalau yang ini?” tanyanya lagi.

“Aduh Non Fatma.”  Ucap bi Imas yang akhirnya bosan juga. “Sampean ini tanya tapi dijawab sendiri. Asal tahu saja, sampean itu dasarnya memang sudah cantik. Jangan khawatir Non..., Pasti semua laki-laki terpesona degan sampean”

Mendengar kata bi Imas itu hati Fatma berbunga-bunga. Tak lama kemudian ia terdiam. Nampaknya ada yang terlintas dihatinya. Ia teringat dengan ucapan Pujangga dulu tentang kecantikan.

“Jika aku memang cantik, apa gunanya? toh Pujangga tidak tertarik dengan kecantikan fisik” ujarnya dalam hati.

Bi Imas ikut diam ketika melihat Fatma yang tiba-tiba melamun seperti itu.

“Tapi aku tetap khawatir bi’” ucapnya tiba-tiba. “Dia bukan laki-laki yang hanya melihat kulit, dia bukan laki-laki egois yang mementingkan kecantikan untuk mendapatkannya. Walaupun banyak perempuan yang sebenarnya tertarik dengannya tapi dia menganggap bahwa ketertarikan itu semua hanyalah sebatas tipis kulit”.

Meskipun bi Imas tidak tahu apa yang sebenarnya diucapkan anak majikannya itu, tapi dia melihat kekhawatiran yang berlebihan dalam diri Fatma. Bi Imas hanya diam memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik gadis itu.

Dan kini, setelah ia mencoba berdandan cantik, setelah kekhawatiran itu terlewati tiga jam yang lalu, Fatma hanya duduk merenung di basecamp itu, kekhawatirannya bergelombang dalam dada, bercampur aduk dengan rasa cemburu yang tak jelas, namun semua rasa yang menyesakkan dadanya kini bertumpu pada satu rasa. Kecewa. Tepatnya kecewa kepada Pujangga.

Rasa bosan karena menunggu sedikit demi sedikit mnyelimuti ruang itu, teman-temannya satu persatu sudah mulai keluar dari ruang itu dengan kecewa, tinggal Rini yang masih menemani Fatma sebagai bentuk empati, namun rasa lelah akhirnya memenangkan dan Rini keluar dari ruang itu juga.

“Aku pergi dulu ya Fatma” ucap Rini “Lebih baik kamu juga pulang. Percuma menunggu ketidakjelasan ini”

“Ah gak pa pa. Kamu pulang aja dulu. Saya ingin sendiri sebentar saja”

Tepat ketika Rini melangkahkan kaki keluar pintu, setetes air jatuh di pipi putih perempuan cantik peranakan Turki itu.

“Ya Allah, apa yang kurasa ini?” gumam hatinya “aku kecewa dengannya. Tapi .... kenapa sampai begini.”

“Cemburukah aku? Dengan siapa? dengan ketidak jelasan ini?mengapa aku gila seperti ini” batinnya perang.

“Atau......, ya Allah...., Jatuh cinta kah aku?”

Dan terkadang rasa yang kita ragukan selama ini akan menampakkan ke-maujud-annya pada saat yang tidak disangka-sangka. Fatma tunduk terhadap sebuah rasa yang sangat dalam kepada Pujangga justru pada saat dia kecewa kepadanya. Dia menunduk di depan cinta.

Lalu dia hanya bisa menangis. Dua ekor cicak di dinding ruang itu terdiam. Si jantan melihat ke arah Fatma yang masih duduk di depan kue, dan si betina menggerak-gerakkan ekornya melihat si jantan, nampaknya si betina meminta untuk dicintai namun tak mampu berkata. Tiga makhluk tuhan itu terdiam di ruang itu.

Pujangga kini berlari ke arah Bunda setia. Tadinya Ketika ia baru saja masuk ke kamar kosnya dia baru mengaktifkan hanphonenya. Puluhan sms langsung saja bertubi-tubi datang memenuhi layar lebar benda itu. Entah sms apa yang tertera di layar itu, namun yang jelas Pujangga terperanjat ketika selesai membacanya, yang kemudian ia lakukan adalah berlari ke ke bawah mengambil mobil yang baru saja ia parkirkan untuk pergi lagi ke samping kampus tempat Bunda setia.

Ketika baru saja ia tiba di depan pintu basecamp dan hendak mengucapkan salam, dia terdiam sejenak mendengar sayup-sayup isak tangis kesedihan dalam ruang itu. Namun tak terdengar suara yang mendiamkannya untuk sekedar menasehati untuk sabar. Ia putuskan untuk langsung masuk membuka pintu tanpa salam, dan disana ia melihat teman dekatnya, Fatma duduk sendiri berteman dengan tangis. Fatma masih bersenandung sendiri dengan kesedihannya hingga tak sadar bahwa orang yang ia pikirkan kini melangkah pelan ke arahnya.

“Maafkan saya” ucap Pujangga lirih. Fatma tersadar. Mengangkat perlahan kepalanya menatap ke arah datangnya suara yang sangat ia kenal itu. Pujangga merasakan aura yang sangat aneh ketika melihat raut wajah Fatma. Wajah putihnya memerah menahan perasaan, mata birunya berkaca-kaca dan mata indah yang pernah dilihatnya waktu pertama kali masuk ke kampus itu kini mengalirkan sungai putih yang mengalir di atas pipinya. Bibir merahnya merapat kuat menahan emosinya agar hatinya tak makin menjerit.

“Maafkan saya karena benar-benar tidak tahu rencanamu ini” ujar Pujangga lagi.

Fatma masih diam dan hanya bisa menatap Pujangga. Dia ingin mengatakan bahwa dirinyalah yang salah dan meminta Pujangga jangan meminta maaf seperti itu. Namun itu hanya bisa dia ucapkan dalam hati. Dia takut ketika bibirnya terbuka untuk berkata maka tangisnya akan menjadi-jadi. Bibirnya makin rapat menahan. Sangat pahit hatinya.

“Kenapa diam saja. Jangan membuat saya merasa serba salah seperti ini Fatma. Saya benar-benar minta maaf.”

“Atau kamu tidak mau memaafkan?. Terlalu kecewakah kamu kepadaku?” ujarnya lagi setelah tidak mendapat respon.

“Tidak….., bukan begitu Pujangga” Jawab Fatma akhirnya. Getaran kata-katanya begitu kuat hingga air matanya makin deras. Keheningan menemani beberapa detik.

“Aku hanya bingung...... kenapa.... aku jadi seperti ini” ia makin sesenggukan ketika memaksa untuk terus berkata. Rupanya terlalu banyak hal yang ia ingin katakan tentang perasaannya namun terasa terlalu rumit untuk membahasakannya.

“Aku tak sanggup menutup perasaan ini lebih lama Pujangga. Sungguh….., aku tak sanggup”.

Pujangga diam menyediakan diri sebagai tempat keluhan. Sebenarnya ia sangat tidak tahan melihat teman baiknya menangis sedih seperti itu.

“Tadinyanya aku kecewa denganmu Pujangga. Namun semakin lama aku merenung mencoba untuk merasakan kenapa aku terlalu kecewa seperti ini... kenapa hanya kepadamu.... kenapa aku cemburu.... dan kini baru saja aku tersadar dari perasaan di hatiku yang selama ini aku coba untuk menolaknya.”

Pujangga berusaha memahami apa yang diucapkan temannya itu.

“Aku.....” ucapnya berat.

Fatma menimbang ulang untuk mengatakannya. Lalu ia menarik nafas panjang memenuhi dadanya dengan udara, dan menghembuskannya kembali berlahan namun kuat.

“Aku mencintaimu Pujangga”

Pujangga diam. Mencoba untuk menutup kekagetannya. Hatinya membujuk diri sendiri untuk menganggap bahwa itu hanyalah cinta seorang teman. Tidak lebih.

“Itu hal yang biasa Fatma. Kita adalah teman. Aku rasa dengan teman-teman yang lain juga.....”

“Tidak Pujangga” potong Fatma “Perasaanku kepadamu tidak seperti itu. Aku mencintaimu sebagaimana perempuan mencintai laki-laki”

“Tapi.....”

“Maaf kalau aku berlebihan” potongnya lagi “Aku hanya mencoba untuk jujur pada hatiku sendiri. Aku ingin jujur tentang perasaanku selama ini”

Fatma mencoba membaca hati Pujangga lewat raut mukanya.

Sebenarnya Fatma pun bingung apa yang diinginkannya dengan mengatakan kepada Pujangga. Walau Pujangga adalah laki-laki yang mempunyai perasaan lembut. Namun Fatma tahu bahwa Pujangga bukan seperti laki-laki lain yang terjebak dengan cinta kepada seorang kekasih, yang selalu tunduk kepada kekasihnya atas nama perasaan.

“Aku mengatakannya bukan memintamu untuk menjadi kekasihku. Bukan”

“Lalu ?”

“Aku.....” Fatma mencari jawaban “Mungkin aku hanya ingin kita lebih dekat. Lebih akrab” ujarnya ragu

“Bukankah kita sangat akrab. Bahkan sepertinya kita lebih dekat dibanding dengan teman lain”

“Entahlah Pujangga. Itulah sebenarnya aku juga bingung dengan perasaan ini. Aku merasa kacau dengan diriku sendiri. Aku benar-benar bingung. Mungkin kamu kecewa denganku, kecewa karena aku memberi masalah pada hubungan baik kita ini. Tapi..... Ah... entahlah. Terserah kamu Pujangga. Tapi aku hanyalah seorang gadis didepan seorang pemuda dan hanya meminta untuk dicintai”

Pujangga hanya diam. Merasa aneh. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa ini bisa terjadi. Mengapa bukan perempuan lain. Mengapa ini terjadi pada teman dekatnya. Mengapa harus Fatma. Pujangga tak mau menyakiti perasaan temannya ini.

Melihat Pujangga bertanya-tanya dalam hati seperti itu Fatma memaksakan diri untuk bersikap lebih bijak dan tidak egois. Ia paksakan bibirnya untuk tersenyum mencoba menyapu perasaannya sendiri. Mencoba untuk tidak cengeng di depan orang yang dicintainya itu. Fatma kembali menarik nafas panjang.

“Sudahlah Pujangga. Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa aku bukan memintamu untuk menjadi kekasihku. Aku rasa aku memang egois. Aku berkata seperti ini hanya agar aku lega. Agar Merapi di dadaku keluar. Aku sudah lega mengatakannya padamu. Dan sekarang…, jadikan aku Fatmamu seperti biasa.” Ulu hatinya sempat terasa pahit ketika dia mengatakan kalimat terakhir itu. Dia tetap akan menjadi Fatma yang sama bagi Pujangga.

“Tidak Fatma. Kita sudah lama berteman. Walau aku tidak pengalaman dengan cinta seperti ini, tapi aku tahu bahwa perasaanmu kepadaku yang seperti itu pasti tidak kamu duga juga sebelumnya. Kamu juga tidak ingin perasaan seperti itu menyelimutimu. Aku sebenarnya ingin kamu tetap menganggapku menjadi teman. Namun aku sama sekali tidak punya hak untuk merubah perasaanmu itu, itu sangat egois. Aku akan menjadikanmu tetap sebagai teman. Teman spesialku. Dan kamu juga punya hak sendiri ingin kamu anggap apamu aku ini. Aku menghormati perasaanmu dan aku harap begitu juga kamu dengan perasaanku.”

“Ya. Itu bagus dan aku akan mencoba menjadikanmu sebagai temanku”

Jam dinding berbunyi sebelas kali. Dua cicak di dinding kaget dan lari terbirit-birit. Tak terasa malam semakin hitam.

Ingin membunuh suasana seperti itu, Fatma pun lantas mengambil korek api dan meyalakan lilin yang dari tadi menjadi saksi di atas kue tart.

“Selamat ulang tahun”

Pujangga tersenyum mendengarnya.

“Maukah kamu menyanyikan happy birthday untukku?” pinta Pujangga konyol. Dia harap agar rasa yang meliputi mereka berdua sejak tadi sedikit berkurang oleh lagu bahagia itu.

Tak disangka Fatma mengangguk. Ia menyanyikannya dengan lirih. Mencoba menampakkan kebahagiaan di depan Pujangga. Namun jauh dalam hatinya. Pahit tetaplah pahit. Fatma merasa sengsara. Dadanya sesak, menangis pilu, merana. Dia jatuh cinta tapi hanya bisa berdiri di ujungnya.

“Pejamkan matamu dan berdoalah!” suruh Fatma.

Pujangga menurutinya.

“Allah....., satukan kami dengan cinta-Mu. Namun jika Engkau tak ridho maka pisahkan kami. Kuatkan kami menghadapinya. Dan satukan kami di surga-Mu kelak” bisik hati Pujangga kepada tuhan.

Fatma melihat wajah pemilik kedua mata yang sedang terpejam itu sesaat. Lalu ia ikut berdoa dalam hatinya yang gundah.

“Allah....., ajarkan kami tentang cinta. Ridhoilah kami dengan cinta. Dan kuatkan kami dari pedihnya cinta” doa Fatma.

“Bismillahirrahmanirrahim” Pujangga meniup lilin itu. Terdengar sayup-sayup suara ayam berkokok jauh dari tempat itu. Bukankah suara ayam berkokok adalah tanda datangnya malaikat. Begitulah salah satu sabda nabi Muhammad limabelas abad yang lalu. Dan kokokan ayam tadi mengantarkan kedua doa yang terbang saling berpelukan itu ke langit. Para malaikat menerima kedua doa itu yang lalu merancang sebuah kisah yang kelak akan terjadi. Sebuah takdir tercipta.

Dan hari-hari berikutnya komunikasi antara keduanya terasa aneh. Walaupun berusaha nampak seperti biasa, ingin seperti biasa, namun mereka tidak dapat menutup warna hati.

Terkadang ada lelaki yang mengekspresikan cintanya dengan wajah yang tidak mengenakkan. Walaupun berat baginya, Pujangga mencoba untuk sedikit menjauh dari Fatma. Pikirnya dengan seperti itu akan memberi kesempatan kepada Fatma untuk menganggap bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang tepat untuknya, sehingga cinta yang pernah ada di hatinya akan semakin luntur oleh waktu. Namun tidak seperti yang diharapkannya, yang terjadi malah hati Fatma semakin sakit, dia sudah mencoba sebisa mungkin untuk bersikap biasa, mencoba menerima kenyataan bahwa Pujangga tidak bias menerima seperti yang ia inginkan, tapi mengapa Pujangga mejauhinya seperti itu. Hatinya selalu bertanya. Bencikah dia kepadanya?. Namun Fatma tak mungkin untuk bertanya tentang sikapnya yang berubah itu. Itu akan membuat seolah Fatma menuntut perhatian lebih. Walaupun memang begitu, dan tak bisa melakukan itu, maka yang terjadi hatinya makin tertusuk. Adakah sakit yang lebih nyelekit dibanding diacuhkan cinta?. Ataukah ini tujuan Pujangga menjauhinya. Agar warna hati Fatma berubah?. Tidak. Dia tidak ingin warna hati itu berubah menjadi warna kecewa dan benci.

Kini Bunda setia semakin terasa mati. Tidak lagi mempunyai ruh seperti dahulu. Masa keemasannya kian luntur. Dua orang yang selalu menonjol kini seakan enggan menampakkan diri. Keduanya beralasan ingin lebih fokus pada kuliahnya. Apalagi mereka berdua sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Sedangkan Pujangga ditambah lagi sibuk dengan kerjanya di restaurant.

Teman mereka berdua, Rini, kini makin jengkel dengan tingkah mereka berdua. Menganggap bahwa mereka lari dari kenyataan. Tidak mempunyai komitmen dalam perjuangan.

“Kenapa kamu tidak pernah lagi mengisi artikel Fatma?” tanyanya suatu hari.

“Maaf Rin, aku sekarang sedang skripsi, aku ingin cepat-cepat lulus”

Pertanyaan yang sama juga pernah disampaikan kepada Pujangga. Namun keduanya seakan setali tiga uang.

“Kamu tahukan aku sibuk kerja, harap maklum” jawabnya beralasan

“Ah entahlah. Kenapa kamu dan Fatma jadi seperti ini. Hidup itu bukan hanya belajar dan bekerja. Hidup juga perlu diisi dengan perjuangan dan cinta. Dulu aku kagum dengan kegigihan kalian. Tapi sekarang aku melihat kalian tidak lebih hanya seperti robot yang hidup mekanis, kuliah, kerja, pulang, kuliah, kerja, pulang. Hanya itukah hidup kalian?.” Ucap Rini dengan nada agak tinggi penuh kecewa.

“Baiklah” lanjutnya “Aku capek mengingatkan kalian. Aku tidak ingin terkesan memaksa kalian. Aku dan teman-teman akan terus menjaga Bunda Setia. Ingat!, kita juga dapat hidup tanpa kalian berdua” Ucapnya kesal menumpahkan uneg-unegnya. Dia capek mengingatkan mereka berdua selama ini. Karena bagi Rini pribadi, dulu mereka berdua adalah inspirasinya. Sulit baginya melihat keduanya berubah seperti itu.

Adapun Pujangga dan Fatma. Mereka tahu bahwa mereka salah. Menjadikan kuliah dan kerja sebagai kambing hitam. Namun entah mengapa mereka yang dulu sangat gigih kini sangat susah bangkit dari rasa kecewa. Mereka sendiri juga merasa rumit untuk mengetahui perasaan yang tidak pasti dalam hati mereka. Rasa sesal ini sering membuat mereka melamun.

“Apa kamu ada masalah Pujangga?” tanya bu Dinda ketika mampir di tempat Pujanga bekerja. “Kenapa nampak murung seperti itu?”

“Tidak bu, saya hanya sibuk dengan skripsi saya. Rasanya saya sedikit jenuh. Tapi ini tidak akan berlangsung lama bu”

“Oke. Itu wajar. Saya rasa kamu butuh refreshing Pujangga”

“Mungkin”

“Saya dan beberapa teman sabtu besok ada weekend party kecil-kecilan di Puncak. Bagaimana kalau kamu ikut?”

“Terimakasih bu. Tapi saya rasa tidak perlu. Saya hanya ingin sendiri dulu” Jawab Pujangga. Wajahnya nampak sangat sedih. Bu Dinda melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Pujangga.

“Ada masalah dengan pacar kamu?” tanya bu Dinda menerka.

“Hahaha….” Pujangga tersenyum kecut. “Ah ibu, saya belum punya pacar bu!”

“Lalu kenapa?” paksa bu Dinda.

Pujangga diam tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Pikirannya tiba-tiba melayang.

“Jangan-jangan aku memang mencintainya? Kenapa aku sedih seperti ini?. Ah tidak mungkin” ucapnya pada diri sendiri. Bu Dinda yang masih belum mendapat jawaban tidak menyangka Pujangga sedih seperti itu.

“Tidak tidak tidak.” Bu Dinda menyadarkannya. “Kamu nanti akan makin terpuruk. Ini pasti bukan karena skripsi. Pasti ada beban berat yang kamu pikul. Apa kamu tidak menghargai saya? Kenapa kamu tidak cerita kepada saya?. Sabtu besok kamu harus ikut. Kamu harus menceritakan kepada saya. Saya akan merasa tidak kamu hargai jika kamu ada masalah tapi tidak mau cerita.”

Pujangga tak bisa menolak permintaan itu. Ia pernah berjanji dalam hati berusaha untuk tidak menyakiti dan membuat kecewa perempuan baik yang merubah hidupnya ini. Ia pun pasrah mengikuti ajakan itu. Toh apa salahnya ikut, mudah-mudah nantinya membuatnya jadi lebih baik.

Esoknya ia pergi ke puncak, ke sebuah villa yang alamatnya ditunjukan bu Dinda lewat sms. Ia sengaja berpakaian santai, hanya menggunakan celana jins dan kaos biru muda favoritya, karena kata bu Dinda di villa itu bukan acara formal, hanya sekedar santai dengan beberapa staff Hubb Corporation.

Sudah empat tahun lebih beberapa bulan ia tinggal di Jakarta, tapi ini baru pertama kalinya pergi ke Bogor yang sebenarnya hanya beberapa jam saja jaraknya dari Jakarta. Bila orang di daerah sangat tertarik dengan kota Jakarta, tapi berbeda dengan orang Jakarta yang tertarik datang ke Bogor. Udara segar dirasakan Pujangga ketika mulai memasuki kawasan Bogor. Ia pun tak menyia-nyiakan untuk bernafas dalam-dalam memenuhi dadanya dengan udara. Jendela mobil dia buka lebar-lebar. Ia juga mengendarainya pelan-pelan demi untuk memuaskan mata dengan pemandangan hijau itu. Segar rasanya. Hari itu tak seperti hari sabtu biasanya, Bogor yang pada hari Sabtu dan Minggu biasanya tak pernah bebas dari kemacetan yang kebanyakan diakibatkan oleh kendaraan ber-plat nomer Jakarta, nampaknya entah mengapa hari itu jalanan yang dilalui Pujangga normal-normal saja. Walaupun sama-sama hijau, namun Bogor sangat berbeda dengan desanya. Udara Bogor jelas jauh lebih baik. Hijaunya pun seakan abadi dengan pohon-pohon tinggi. Sedangkan di desanya, warna hijau berasal dari sawah, sehingga bila musim panen tiba maka pemandangan sawah berubah menjadi kuning.

“Saudara-saudara” ucap bu Dinda mengawali pidato yang tak formal itu “Hidup ini indah. Seindah pemandangan alam yang kita saksikan ini. Kita mencintai keindahan, kita mencintai kecantikan”

Semua tersenyum. Bahagia rasanya bila kita mendengarkan tentang keindahan.

“Namun yang diherankan,” lanjut perempuan itu “mengapa kita yang mencintai keindahan ini dengan mudahnya merusak alam ini. Di jakarta misalnya, Pohon-pohon ditebang untuk jalan Bus way. Jalan diperlebar bukannya mengurangi kemacetan malah membuatnya makin parah, yang lalu memperbanyak emisi yang turut meracuni udara kita. Kita jenuh dengan Jakarta, kita jenuh dengan kemacetan, udara panas, bising dan berbagai keruwetan lainnya. Sekarang kita boleh tersenyum melihat ternyata alam yang indah masih ada, ternyata udara segar masih mempunyai tempat, ternyata keindahan masih bisa kita lihat. Nikmatilah Bogor ini, nikmatilah sebelum mungkin sepuluh tahun lagi kita juga yang akan merusaknya”

Semuanya tersenyum mendengar guyon sindiran itu.

Pidato singkat namun terkesan guyon itu terus berlanjut. Semuanya bahagia. Makan-makan dimulai setelah itu. Saling melemparkan joke-joke, ramai sekali. Ada sekitar 30 orang yang hadir di tempat itu. Villa yang sangat besar. Halamannya yang hijau lebih luas dibanding villa itu, di belakangnya ada kolam renang luas yang bersih. Di sisi kolam itulah mereka semua berkumpul. Ada yang membawa istrinya, pacar bahkan ada juga yang membawa selingkuhannya.

Suasana yang luar biasa itu membuat Pujangga seakan lupa dengan permasalahannya sesaat. Ia tertawa melihat seorang rekan kerjanya yang berdiri di depan semua orang dan bicara tak karuan, entah mabuk atau memang sudah gila, laki-laki itu memberikan cerita humor yang sebenarnya lebih terkesan cerita vulgar tentang pengalaman konyolnya berselingkuh. Semua orang tertawa melihatnya, begitu juga Pujangga. Tanpa dia ketahui, Bu dinda diam-diam memperhatikannya. Ketika pandangan mata Pujangga tak sengaja bertemu dengan matanya, ada lintasan hati yang bergerak aneh dalam hati Pujangga. Bu Dinda menghampiri Pujangga.

“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Apa kita bisa bicara empat mata ?” tanya bu Dinda menjelang sore.

“of course I can”

“oke. Nanti setelah maghrib kamu datang langsung ke kamarku ya”

Sesaat Pujangga merasa agak aneh. Mengapa harus di kamar? Toh teman-teman yang lain sedang jalan-jalan ke luar menikmati pemandangan di sekitar. Namun ia lekas menghapus kecurigaannya itu. Tidak mungkin orang yang dia hormati itu melakukan hal yang tidak benar.

Malamnya, Ketika bulan menelan senja jingga, Pujangga menuju kamar bu dinda di ujung Villa itu. Melewati kamar-kamar rekan kerjanya yang nampaknya sedang ditinggal pergi. Terasa sepi sekali. Udara sejuk bogor menembus dinding-dinding Villa mewah itu.

“tok tok tok” Pujangga mengetuk pintu kamar Bu Dinda “Assalamualaikum bu Dinda”

Lama tak terdengar jawaban. Setelah berkali-kali mengetuk pintu akhirnya pintu mulai terbuka. Seorang perempuan hanya berbalut handuk menutupi dada sampai atas tumit ada di depannya.

“Maaf Pujangga, saya baru mandi. Silahkan masuk. Saya mau ganti baju dulu” ucap Bu Dinda singkat disusul lari kecil kembali ke kamar mandi. Pujangga ingin menolak, lebih baik menunggunya diluar, tapi belum sempat ia bicara Bu Dinda sudah kembali ke kamar mandi, akhirnya ia masuk di ruang Bu Dinda itu. Berbeda dengan kamarnya, kamar Bu dinda jauh lebih besar, ada kamar mandinya sendiri, dapur dan ruang tamu. Di ruang tamu inilah Pujangga duduk menunggu. Dan sekitar sepuluh menit Pujangga menunggu Bu Dinda akhirnya keluar membawa dua gelas minuman, Sangat cantik. Memakai baju tidur tipis halus berwarna pink, rambut masih basah membawa wangi shampoo. Ia menghampiri Pujangga dan duduk di sebelahnya. Parfum Perempuan itu sangat menusuk. Pujangga serba salah, ia merasa terjebak dalam suasana seperti itu.

“Silahkan minum dulu” ucap Bu Dinda. Senyum menghiasi bibir merah tanpa lipstick itu. Pujangga meminumnya.

“Bagaimana?”

“Enak bu”

Mendengar jawaban itu senyum Bu Dinda makin lebar. Dia tetap hanya melihat Pujangga. Sementara itu Pujangga pun hanya bisa menatapnya juga, entah mengapa kepala Pujangga tiba-tiba pusing. Bu Dinda di depannya nampak semakin cantik, secantik perempuan yang ia idamkan jauh di lubuk hatinya. Samar-samar senyum bu Dinda nampak seperti senyum menggoda. Pujangga semakin pusing, ia merasa ringan, merasa tubuhnya akan ambruk, namun perempuan di depannya masih saja senyum, senyum yang sulit diterjemahkan. Tak lama kemudian Bu dinda semakin mendekatinya, semakin dekat. Pujangga tak kuat lagi, tubuhnya ambruk, dan Bu Dinda yang ada di depannya langsung memeluk. Memeluknya dengan erat.

Pujangga bermimpi bertemu dengan seorang putri cantik mengenakan baju putih tipis di sebuah taman hijau. Pujangga mendekatinya, begitu juga sang putri. Mereka berpegangan tangan erat. Putri tersebut mencoba menciumnya, namun Pujangga teringat bahwa itu masih belum boleh dilakukannya, sang Putri terlihat semakin memaksa untuk menciumnya. Pujangga terbangun dari mimpi itu, namun tubuhnya tetap terasa lemas, kepalanya pusing dan terasa sangat berat. Pandangannya kabur. Dan dalam pandangan kabur itulah samar-samar Pujangga melihat sosok putri dalam mimpinya tadi berubah menjadi Bu Dinda yang kini dalam keadaan telanjang bulat menghampirinya, Pujangga ingin memberontak, ingin lari, tapi ia tak bisa, tubuhnya terlalu lemah. Dan pada malam yang dingin itulah Pujangga sang pembela perempuan diracuni agar ambruk oleh perempuan yang ia hormati, ia diperkosa dan tak sanggup memberontak. Bu Dinda yang selalu ia coba tidak mencurigainya kini mendengus seenaknya di atas tubuhnya, Pujangga menangis, hatinya pedih sekali.

Wajah Abah terlintas di benak Pujangga.

“Abah….” Hatinya pilu.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 blogger-facebook:

  1. Allah aku terhempas... masih ingat makan di KFC, gw ama adith disuruh baca dan mengkritisi... xixixi

    ReplyDelete
  2. enak aja gw baca tahu...

    ReplyDelete

Item Reviewed: Bab 2 : Empat tahun kemudian. Jatuh cinta, dan hanya berdiri di ujungnya Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar