728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Thursday, 13 March 2014

Bahasa Suryani : Dari Mantra, Azimat Hingga Ayat al-Qur’an

Bagi siapa saja yang menggeluti dunia mistik-supranatural, sepertinya tidak akan asing dengan mantra-mantra yang konon diambil dari bahasa Suryani. Saya pernah dapat ijazah berupa mantra dari seorang guru, katanya menggunakan Bahasa Suryani, bahasanya campur aduk antara bahasa Melayu berirama dan bahasa Jawa, tapi akan sulit untuk difahami pengertiannya secara utuh. Ketika saya tanya bahasa Suryani itu bahasa apa? Beliau menjawab enteng, bahasanya Malaikat!. Entah itu jawaban benar atau becanda. Namun jika memang beliau serius menganggap mantra tersebut menggunakan bahasa Suryani, nampaknya itu kurang tepat, hal ini karena Bahasa Suryani mempunyai bunyi kalimat seperti bahasa Arab tapi tidak bisa diartikan meskipun ada maknanya.

Bahasa Suryani tidak sekedar digunakan di dunia supranatural, bahkan bahasa ini juga sering digunakan pada dunia tasawuf oleh kelompok-kelompok mistis tertentu. Contoh kalimatnya : bi ajin ahujin jalajalyu tu jaljalat dibaca dengan ritme dan cara tertentu.

Syekh Abdul Jalil atau yang biasa disebut Datuk Sanggul, seorang ulama Tasawuf pada abad ke 18 di Banjar, Kalimantan. Pada sebuah puisinya Saraba Ampat (Serba Empat) bait ke empat beliau sedikit menyinggung tentang bahasa ini.
Jabar Ail asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran Alloh itu artinya
Jalalulloh bahasa Arabnya

Pada puisi tersebut, Datuk Sanggul menyebut bahwa kata “Jabar Ail” adalah bahasa Suryani, yang dalam bahasa Arab berarti “Jalalullah” atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti“Keagungan Allah”. Dalam bahasa Suryani, Jabar bermakna Keagungan, dan Ail bermakna Allah.

Sama seperti Datuk Sanggul, Syekh Abu al-Qosim al-Asfahani dalam kitabnya menjelaskan nama-nama malaikat yang kita kenal ternyata berasal dari bahasa Suryani. Misalnya. Beliau menukil perkataan Sahabat Ibnu Abbas Ra. bahwa kata “Jibril” berasal dari Bahasa Suryani, kata Jibr berarti Hamba, dan Ail berarti Allah. (Lihat Mufrodat alfadz al-Quran, I, hlm.58).

Selain digunakan sebagai mantra, kata-kata Bahasa Suryani juga seringkali digunakan sebagai semacam azimat dan ditulis dalam huruf Arab. Misalnya, lafadz Kabikaj, dulu sewaktu masih mengaji di pesantren seringkali kitab-kitab kuning oleh santri pemiliknya ditulis dengan kata tersebut dengan huruf arab menjadi : كبيكج   (baca : Kabikaj).

Mitos yang berkembang, sebuah kitab yang di cover depan atau belakangnya ditulis dengan lafadz kabikaj tadi, maka tidak akan ada serangga yang mampu merusaknya. Sehingga kitab tersebut akan awet.

Dan nampaknya kepercayaan ini bukan omong kosong, karena pada banyak manuskrip kitab-kitab kuno seringkali ditemukan lafadz kabikaj ini.

Sebuah manuskrip dengan cover bertuliskan lafadz : Ya Kabikaj
Cover kitab kedokteran Syarh Thobi'ah al-Insan dengan cover terulis lafadz : Ihfadz Hadzal Kitab Ya Kabikaj
Setelah diselidiki, terjadi transfer kesalahpahaman kepada santri-santri yang rajin nulis lafadz Kabikaj di cover kitab kuningnya itu. Kabikaj adalah sejenis tumbuhan dalam Bahasa Suryani. Tumbuhan Kabikaj ini sangat tidak disukai oleh serangga. Oleh sebab itu, orang-orang dahulu ketika menulis kitab maka di bagian covernya seringkali ditulis lafadz Kabikaj ini dengan tinta yang dibuat dari tumbuhan Kabikaj dengan harapan kitab yang ditulisnya terhindar dari serangga yang akan merusak.

Apa sebenarnya Bahasa Suryani itu ?

Menurut Syekh Ahmad Muhammad Ali al-Jamal dalam sebuah tulisannya yange berjudul al-Qur’an wa Lughat al-Suryaniyyah yang diterbitkan di Majalah Universitas al-Azhar tahun 2007 menjelaskan, bahwa Bahasa Suryani adalah bahasa yang diketahui sebagai bahasa Bangsa Aram dan digunakan hingga pada masa Masehi. Bangsa Aram sendiri adalah keturunan Aram bin Saam bin Nuh as. Dan bangsa ini juga menempati suatu negeri yang di dalam Taurat di sebut Negeri Aram. Negeri ini kini diketahui dahulun meliputi daerah Syam dan Irak.

Bahasa Suryani digunakan luas di Negeri Aram dan kemudian menyebar ke negeri-negeri sekitar seperti Asia Kecil dan Armenia, kemudian bahasa ini juga sampai ke negeri China dan India. Bahkan (bangsa) Yahudi pun pernah lebih mengutamakan pemakaian bahasa ini dari pada bahasa Ibrani mereka, dengan bahasa Suryani ini mereka bercakap-cakap dan menulis sebagian kitab-kitab suci. Bahkan konon al-Masih sendiri berbicara dengan bahasa ini kepada murid-muridnya. (Lihat : Samir Abduh , al-Suryan Qodiman wa Haditsan hlm.25)

Dari sini saya menyimpulkan, bahasa Suryani adalah bahasa mati (karena kini tidak ada satu negara pun yang aktif menggunakannya) namun dalam dunia mistis, kalimat-kalimat bahasa Suryani masih sering digunakan. Tentu akan sangat menarik jika ada penelitian yang mengkaji bagaimana bahasa yang sangat kuno ini masuk ke dunia mistis khusunya si Indonesia.

Penjelasan tentang tumbuhan Kabikaj
Ketika al-Qur’an menggunakan kata dari Bahasa Suryani

Walaupun termasuk bahasa yang sudah mati, bukan berarti bahasa ini benar-benar punah. Hal ini sebagaimana hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah memerintahkan sahabat Zaid bin Tsabit Ra. untuk mempelajari Bahasa Suryani.
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

Dari Zaid bin Tsabit berkata : Rasulullah Saw. memerintahkanku agar saya mempelajari Bahasa Suryani. (HR. Tirmidzi)

Adapun mengenai al-Qur’an menggunakan beberapa kata dalam bahasa Suryani, hal ini menjadi perdebatan.

Imam al-Thobari dalam Tafsirnya Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Qur’an, terhadap surat Maryam ayat 24. Beliau mengutip pendapat Imam Mujahid yang mengatakan bahwa lafadz Sariyya pada ayat tersebut adalah bahasa Suryani yang berarti Sungai. Pendapat ini senada dengan Imam al-Dhohhak yang menyatakan Sariyya adalah Bahasa Suryani yang bermakna Jadwal Shogir (anak sungai yang kecil).

Syekh Ahmad Muhammad Ali al-Jamal dalam tulisannya di Majalah Universitas al-Azhar berjudul al-Quran wa Lughatu al-Suryaniyyah memberikan contoh-contoh lafadz dalam al-Qura’an yang konon diambil dari Bahasa Suryani. Misalnya beliau menjelaskan panjang lebar tentang lafadz Maryam dalam al-Qur’an, menurutnya lafadz yang merujuk Ibu dari baginda Nabi Isa as, ini berasal dari bahasa bagsa Aram (Suryani), yaitu dari kata Maray/Mari yang berarti ar-Rabb (tuhan) dan Ama yang bermakna al-Umma (ibu) yang kemudian di-arab-kan menjadi Maryam.

Hal-hal seperti ini seringkali menjadi pertanyaan ketika masuk dalam ilmu tafsir lebih dalam. Misalnya dua lafadz “Ilyas” pada surat al-Shaffat ayat 123 dan lafadz “Ilyasiin” pada ayat 130 sering menimbulkan pertanyaan, mengapa lafadz “ílyas” yang menggunakan bentuk mufrod (tunggal) sedangkan pada ayat selanjutnya menggunakan lafadz “ilyasiin” yang terkesan menggunakan bentuk jama’ (plural). Apakah Nabi Ilyas as. itu ada banyak sehingga al-Qur’an menggunakan bentuk plural pada ayat 130 ini?. Jawabnya tentu saja tidak, menurut Imam az-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kassyaaf, penambahan huruf ya dan nun dalam lafadz Ilyasiin adalah bahasa Suryani yang bermakna plural dan mengarah kepada kaumnya. Sehingga lafadz ilyaasiin bukanlah mengarah kepada Nabi Ilyas secara individu, tapi kepada man aaman bihi min qoumihi (orang-orang dari kaum Ilyas yang beriman).

UPDATE (16/7/2016)

Mengutip dari buku Arap Edebiyat Târihi, Câhiliye Dönemi, halaman 31 karya Prof. Kenan Demirayak, teman saya mas Dicky Rahmat Pauzi yang lagi kuliah di Turki dengan fokus kajian bahasa, dia menambahkan :
Bahasa Aram adalah bagian dari Selatan Barat Bahasa-Bahasa Sâmî (Smith), bahasa tersebut konon timbul ketika banjir yang melanda Nabi Nuh AS bersama tiga putranya Hâm, Sâm dan Yafes surut dan mereka pun berpencar kepenjuru dunia. Bahasa Aram sendiri salah satu bahasa yang melahirkan dua anak bahasa yaitu Bahasa Aram Timur dan Aram Barat, selanjutnya dari Bahasa Aram Timur lahir tiga bahasa yaitu Bahasa SURYÂNÎ, Bâbil Âram dan Manda. Sedang dari Bahasa Âram Barat lahir empat bahasa yaitu Bahasa Nabat, Pamira, Âram Palestina Yahudi dan Âram Palestina Isewi. 
Semakin menarik aja....

Wallahu a’lam bissowaab.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 blogger-facebook:

Item Reviewed: Bahasa Suryani : Dari Mantra, Azimat Hingga Ayat al-Qur’an Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar