728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Sunday, 16 March 2014

Belajar Dari Nabi Ibrahim (part1); Debu pembakaran menjadi ikan

Siapa tak kenal Nabi Ibrahim as. Beliau adalah Nabi besar yang diakui oleh tiga agama Samawi. Dari putra beliau, Ishaq as. terlahir nabi-nabi dari bangsa Yahudi. Dan dari keturunan putra beliau Ismail as. lahir baginda Nabi Muhammad Saw. dari bangsa Arab.

Posisi Nabi Ibrahim pun bukan main-main. Beliau termasuk di jajaran Nabi yang paling Top yang disebut Ulul Azmi.

Di dalam al-Qur’an, hanya ada dua kata Uswatun Hasanah yang disematkan kepada dua Nabi, yang pertama Uswatun Hasanah disematkan kepada Nabi Muhammad Saw. (Qs. Al-Ahzab:21), dan yang terakhir Uswatun Hasanah adalah Nabiyullah Ibrahim as. (Qs. Al-Mumtahanah : 4).

Uswatun Hasanah sendiri sering diartikan dengan Suri Tauladan alias seseorang yang benar-benar layak dijadikan contoh untuk ditiru dan diikuti.

Nabi Ibrahim adalah putera Azar. Ada banyak versi dimana dia beliau lahir, namun mayoritas sejarawan menyatakan beliau lahir di kawasan Babilonia yang saat itu dikuasai oleh Raja dzolim yang bernama Namrud bin Kan’an.

Sebelum Nabi Ibrahim dilahirkan, Raja Namrud mendapatkan pertanda bahwa pada tahun itu akan lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan merampas tahtanya. Oleh sebab itu, Raja ini mengeluarkan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir pada tahun itu.

Ibu Nabi Ibrahim yang bernama Buna binti Karbina yang saat itu sedang hamil, pergi bersembunyi karena kekhawatiran bayi yang akan dilahirkannya adalah laki-laki. Maka Nabi Ibrahim pun dilahirkan di dalam sebuah Goa persembunyian, goa tempat kelahiran nabi Ibrahim ini ada di kota Sanliurfa, atau sering disebut Urfa, sebuah kota besar di Turki.
Cak Gopar di depan Pintu Goa persembunyian tempat Nabi Ibrahim dilahirkan
Para peziarah menghadap goa tempat Nabi Ibrahim dilahirkan
Ibrahim kecil semakin dewasa, kisah pencariannya akan Tuhan yang Paling Kuasa telah populer hingga kini. Dan akhir pencariannya itu berhenti pada kebenaran, bahwa Allah Sang Pencipta Matahari dan Bulan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Beliau akhirnya diangkat menjadi seorang Nabi oleh Allah yang bertugas menyampaikan risalah-risalah Tauhid. Nabi Ibrahim diutus untuk berdakwah kepada kaum Ur yang saat itu menyembah berhala berupa patug-patung berukuran Raksasa.

Sebagaimana nabi-nabi lain, Dakwah Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk bertauhid kepada Allah swt berjalan alot, cemoohan dan hinaan diterima dari kaum yang didakwahinya.

Hingga suatu saat, tibalah musim berburu. Pada musim berburu ini, semua laki-laki penduduk kaumnya akan pergi meninggalkan kota untuk berburu bersama raja mereka, Namrud bin Kanaan. Hal ini dijadikan kesempatan untuk Nabi Ibrahim untuk berdakwah dengan hikmah yang cerdas.

Ketika semua orang pergi berburu, Nabi Ibrahim justru mendatangi pusat penyembahan berhala kaumnya, Di sana terdapat banyak patung-patung sesembahan dengan perangkat makanan sesajian.

“Mengapa kalian tidak makan dan tidak bicara” teriak Nabi Ibrahim mengejek patung-patung yang ada di sekelilingnya.

Tak lama kemudian, beliau menghancurkan patung-patung tersebut dengan kapak besar yang telah disiapkan sebelumnya. Hanya satu patung yang paling besar yang tidak beliau hancurkan, dan di leher patung terbesar inilah kapak dikalungkan oleh Nabi Ibrahim. Sisa-sisa Patung-patung tersebut hingga kini masih ada di kota Adiyaman, Turki, di kawasan Nemruz Dagi alias Gunung Namrudz.
Salah satu patung berhala di lokasi persembahan Raja Namrud
Di lokasi inilah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala Kaumnya
Maka setelah kembali dari perburuan, terkejutlah semua kaumnya. Keterkejutan ini diceritakan oleh al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 59-69.

“Siapa yang melakukan perbuatan ini kepada tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang yang dholim.” Ujar salah seorang dari kaumnya.

Setelah diselidiki, tuduhan pun mengarah kepada pemuda yang bernama Ibrahim. Beliau pun dihadirkan di tengah khalayak kaumnya untuk diadili. Namun sebaliknya, tak sedikitpun Ibrahim khawatir. Justru inilah yang beliau nanti-nanti, berdakwah dengan hikmah nan gamblang.

“Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?” tanya seseorang dari mereka sebagaimana diceritakan surat al-Anbiya’ ayat 62

Nabi Ibrahim pun menjawab dengan jawaban cerdas mengajak kaumnya untuk berpikir. Hal ini juga diceritakan dalam surat al-Anbiya ayat 63.

“Sebenarnya patung terbesar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara” ujar Nabi Ibrahim.

Jawaban Nabi Ibrahim ini sembari menunjuk Patung terbesar yang dengan jelas tengah mengalungi kapak besar bekas menghancurkan patung-patung lainnya.

Jawaban yang mengandung hujjah inipun tidak dapat merekah bantah, karena kenyataannya memang benar patung-patung itu tidak bisa berbicara dan berbuat apapun.

Dari sidang itu pun diputuskan, bahwa Nabi Ibrahim harus dibakar. Semua orang mengumpulkan kayu bahan bakar, bahkan diceritakan, perempuan-perempuan hamil pun ikut mengumpulkan kayu dengan harapan mengharap berkah dan ampunan dari berhala mereka. Begitu banyaknya kayu bakar yang akan membakar Nabi Ibrahim sehingga tumpukan kayu seperti sebuah bukit besar.

Maka saat itu pun tiba, di tengah bukit kayu bakar itu Nabi Ibrahim diletakkan. Semua orang menyaksikan peristiwa itu dengan hati puas sembari menghina sang Nabi. Api kecil dinyalakan di salah satu sisi, tidak lama kemudian api menyebar melalap tumpukan kayu kering itu. Allah swt. tidak diam melihat hambanya nan sholeh diperlakukan seperti itu, mukjizat pun diturunkan. Allah swt. memerintahkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim untuk menjadi dingin dan menyelamatkan hambanya tersebut. Allah swt. berfiman :
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" (QS. Al-Anbiya’ :69)

Nabi Ibrahim pun tidak mempan dibakar dan selamat. Peristiwa mukjizat yang disaksikan kaum Ur ini banyak membuka hati atas kebenaran Nabi Ibrahim. Bahkan salah diceritakan pula, putri raja Namrud bin Kana’an langsung mengakui kebenaran dakwah Nabi Ibrahim, akibatnya putri raja tersebut pun membuat ayahnya murka dan mengjar putrinya sendiri untuk dieksekusi juga.
Cak Gopar berdiri tepat di titik Nabi Ibrahim dibakar
Konon ketika Allah Swt. memerintahkan api menjadi dingin, maka di saat itu api di seluruh dunia yang sedang menyala tiba-tiba padam dan tidak ada seorangpun yang dapat menyalakan api.

Dan kini, tempat lokasi tempat pembakaran Nabi Ibrahim hinga kini masih ada. Bahkan abu bekas pembakaran Nabi Ibrahim tersebut bertebangan dan menjadi ikan. Ikan yang dipercaya jelmaan dari bekas abu pembakaran nabi Ibrahim ini pun hingga kini masih ada di kolam tepat di samping pembakaran Nabi Ibrahim. Konon para ilmuwan sudah meneliti ikan-ikan di kolam tersebut, dan diketahui bahwa jenis ikan tersebut adalah jenis ikan purba yang tidak pernah ditemukan di tempat lain di duni ini. Wallahu a’lam.
Cak Gopar dengan backgorund kolam tempat ikan yang konon dari pembakaran Nabi Ibrahim
Inilah ikan-ikan yang konon berasal dari debu kayu bakar yang membakar Nabi Ibrahim as

Bersambung ke PART 2 



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

6 blogger-facebook:

  1. banyakin cerita ini yub... gw suka...

    ReplyDelete
  2. Mau tanya بمهمهوب /مهمهوب & مخت mahmahuubin & mughtin apa ini termasuk bahasabahasa suryani Kalau memang bahasa suryani.. Artinya apa mohon infonya

    ReplyDelete
  3. Mau tanya بمهمهوب /مهمهوب & مخت mahmahuubin & mughtin apa ini termasuk bahasabahasa suryani Kalau memang bahasa suryani.. Artinya apa mohon infonya

    ReplyDelete
  4. desa ur itu di irak trus goa nya di turky, saya masih bingung antara jarak nya jauh amat ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kisah lahirnya nabi Ibrahim dan di mana letak dakwah awal beliau ada beberapa versi memang, ada versi Turki dan ada versi Irak. Adapun Yang saya ceritakan disini adalah versi Turki...

      Lokasi goa tempat lahir beliau hingga beliau dibakar terletak di kota URFA, di Turki.
      Banyak sejarawan menjelaskan beliau dulu dakwah di kaum UR.... dari segi penyebutan nama antara "UR" dan "URFA sangat dekat.

      Jadi kaum UR yang saya tulis di sini itu di Turki. Bukan di Irak.

      Semoga bisa difahami. Wallahu a'lam

      Delete
  5. Kisahnya cukup menarik gus...

    ReplyDelete

Item Reviewed: Belajar Dari Nabi Ibrahim (part1); Debu pembakaran menjadi ikan Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar