728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Tuesday, 9 September 2014

Muhammadun-Ha-Illallah

Cak Sudrun lagi galau, sudah 3 bulan ia jatuh cinta kepada bunga desa Mbak Denok Tukiyem anak juragan angkot. Masalahnya bukan cinta bertepuk tangan, karena Cak Sudrun yakin benar bahwa Mbak Denok Tukiyem sebenarnya juga mencintai Sudrun sejak pandangan pertama ketika mereka berdua saling bertabrakan ala film India. Cak Sudrun hanya khawatir kalau Om Juno Baghdad, Ayah dari Mbak Denok Tukiyem yang terkenal menakutkan itu akan menolak lamarannya.

Apalagi sudah masyhur di desa Margi Dhowo bahwa kekayaan Om Juno Baghdad itu didapatkan dari pesugihan Ratu Kalajengking yang bersemayam di pekuburan kuno desa setempat. Sedangkan Cak Sudrun walaupun kadang terlihat begundal, namun masyarakat sudah me-mafhumi-nya sebagai seorang santri jebolan pesantren Kiyai Duladi.

“Apa maksud kedatanganmu ke sini Drun?” Tanya Om Juno kepada Sudrun yang sudah membulatkan tekat untuk berani melamar Mbak Denok Tukiyem, gadis pujaannya.

“Saya jatuh cinta kepada putri panjenengan om, Mbak denok Tukiyem”. Jawab Cak Sudrun sedikit grogi menjelaskan maksud kedatangannya. Om Juno Baghdad sedikit kaget dan sekilas wajahnya Nampak memandang sinis.

“Saya serius om, nggak mau main-main. Kiranya Om Juno menerima, saya akan berusaha membahagiakan Mbak denok Tukiyem baik di dunia maupun di akhirat nanti”. Lanjut Cak Sudrun menjelaskan.

“Sampean punya modal apa untuk membahagiakan puteriku?.” Tantang Om Juno. “Coba itu lihat di halaman rumahku, ada sekitar 70 mobil angkot yang berjejer rapi. Sampean satu saja nggak punya, gitu kok mau bahagiakan si Denok” Hina Om Juno penuh sinis.

Cak Sudrun tertunduk lesu di hadapan Om Juno Baghdad. Keringat dingin Nampak jelas keluar dari pori-pori wajahnya.

“Memangnya….” Lanjut Om Juno. “Kamu sekarang kerjaannya apa sih Drun?”.

“Saya cuma petani Om. Ya sambil mengajar ngaji anak-anak desa di Masjid” jawab Cak Sudrun.

Wajah Om Juno makin sinis.

“Sebentar ya” Ujar Om Juno sembari beranjak ke bagian dalam rumahnya.

Sekitar lima menit kemudian, Om Juno datang kembali dengan tertawa ke ruang tamu sembari membawa karung kecil.

“Lihat ini drun” ujar Om Juno menunjukkan isi karung yang dibawanya kepada Cak Sudrun.

Cak Sudrun bergidik geli campur ketakutan setelah melihat isi karung tersebut ternyata adalah kumpulan Kalajengking hitam berbuntut merah.

Makin jelaslah omongan orang, jangan-jangan benar Om Juno ini penganut ilmu sesat dan mengikuti ritual pesugihan hamba dari Ratu Siluman Kalajengking Pekuburan Kuno Desa Margi Dhowo.

“Sudrun” panggil Om Juno sambil tertawa geli melihat Cak Sudrun yang ketakutan itu. “Begini saja, kalau kamu bisa mencarikan untuk saya banyak kalajengking yang lebih besar dan menyeramkan dari kalajengking-kalajengking punyaku, maka lamaranmu akan saya masukkan dalam daftar pelamar Denok Tumiyem yang perlu diperhitungkan”

Cak Sudrun masih menunduk.
***

Sepulang dari rumah Om Juno, Cak Sudrun langsung mendatangi Cak Gopar untuk mencurhatkan kejadian tadi.

Dari curhatan Cak Sudrun itu, Cak Gopar mengajak untuk bersama-sama menemui guru mereka, Kiyai Duladi. Siapa tahu dari Kiyai Duladi yang terkenal nyentrik dan aneh itu nanti Cak Sudrun akan mendapatkan doa-doa tertentu untuk melunakkan hati Om Juno Baghdad itu.
***

Baru saja Cak Gopar dan Cak Sudrun menginjak halaman rumah Kiyai Duladi. Serta merta Kiyai Duladi nyelonong keluar dari pintu rumah sambil teriak keras kea rah Cak Gopar dan Cak Sudrun.

“Sudrun!!!” Teriak Kiyai Duladi.

“Kamu segera cari kuburan orang yang jarang sholat. Kamu gali kuburannya…. Dan ambil sedikit saja kain kafan orang yang jarang sholat tadi beserta apa yang mengerubutinya. Lalu serahkan kepada bapak dari gadis pujaanmu itu” Jelas Kiyai Duladi.

Cak Gopar dan Cak Sudrun pun kaget dan memahami dengan jelas jalan keluar yang diperintahkan Kiya Duladi itu.
***

Esoknya Cak Sudrun berjalan sendirian ke luar desa untuk mencari kuburan sesuai perintah Kiyai Duladi. Hari beranjak siang, namun kuburan orang yang jarang sholat tidak mudah untuk ditemui. Tentu saja Cak Sudrun tidak bisa menggali sembarang kuburan orang untuk mengamalkan perintah Kiyai Duladi.

Ketika Cak Sudrun sedang duduk istirahat di tepi jalan setapak untuk melepas lelah. Tiba-tiba dari kejauhan Nampak tidak lebih dari sepuluh orang mengangkat dan memikul keranda sembari mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah sebagaimana ketika masyarakat desa setempat mengiringi jenazah untuk diantarkan ke tempat perisitirahatan terakhir.

Namun semakin kumpulan pengantar jenazah itu dekat, Cak Sudrun dengan jelas bahwa kalimat thoyyibah yang diucapkan Kiyai dan para pengantar jenazah itu salah.

“Laa ilaaha illallah… Laa ilaaha illallah… Laa ilaaha illallah MUHAMMADUN-HA-ILLALLAH…”

Mendengar kalimat thoyyibah yang salah diucapkan tersebut, terbersit sesuatu dalam hati Cak Sudrun.

“Wah ini yang mati kayaknya orang nggak beres ini. Yang ngantar mengiringi aja Cuma sedikit”. Ujarnya dalam hati sembari tersenyum renyah.

Tak lama kemudian, Cak Sudrun pun mengikuti iring-iringan jenazah tersebut sampai di perkuburan.

Singkat cerita, ketika jenazah sudah di masukkan ke dalam liang lahat, dan para pengantar beranjak pulang. Cak Sudrun menghampiri Kiyai yang memimpin iringa-iringan tadi.

“Kiyai. Mohon maaf ya kiyai….” Ujar Cak Sudrun kepada orang yang di duganya kiyai itu.

Orang yang diajak bicara hanya menatap ke wajah Cak Sudrun menanti pembicaraan selanjutnya.

“Tadi sampean mimpin iring-iringan jenazah kok bacaan kalimat thoyyibah-nya tidak benar. Yang benar itu bukan Muhammadun-ha-illallah,,,, tapi Muhammadun Rasulullah”. Jelas Cak Sudrun panjang lebar.

Bukannya tersinggung, Sang Kiyai cuma terkekeh pelan sembari mendekati Cak Sudrun untuk sedikit berbisik.

“Saya ini bukan kiyai” Ujar orang tadi membuka penjelasan.

“Orang yang mati ini adalah preman kampung, banyak yang nggak suka sama ini orang…. Ditambah dia nggak pernah sholat tapi selalu ganggu orang yang mau sholat menuju masjid. Jadi tadi itu nggak ada yang mau nganter dia ke kuburan”.

Sejenak sang “kiyai” menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang dengar.

“Gak ada satu pun warga desa yang mau menyolatkan dan mengantarkan si mayit. Jadi untuk menutup aib, keluarganya meminta saya jadi kiyai dadakan buat mengurusi orang ini sampai di kuburan” Jelasnya lagi.

Cak Sudrun pun yang memahami sebab keganjilan yang ia lihat itu pun hanya mengangguk.

“Oh gitu ya. Yaudah kalau gitu saya mau ziarah ke kuburan tadi untuk mendoakan”.

Tak lama kemudian, Cak Sudrun pun duduk bersila tepat di pinggir tempat peristirahatan orang yang baru saja di di kubur tadi. Sesekali ia menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Kadang Cak Sudrun pun Nampak pura-pura mengangkat ke dua tangannya berpura-pura berdoa.

Setelah dipastikan tidak ada orang yang melihatnya. Cak Sudrun menjalankan aksinya, secepat mungkin ia menggali kuburan baru itu. Dan alangkah kagetnya ketika melihat jenazah itu sudah dikerumuti banyak kalajengking dan beberapa ular hitam yang melilit tubuhnya.

Tekad Cak Sudrun sudah bulat, walaupun dia merinding ketakuta melihat pemandangan itu, Cak Sudrun bergegas menggunting kain kafan si jenazah se-dapat mungkin. Ia kemudian melompat ke atas dan menutup kembali liang lahat tadi sekenanya.

Sembari meninggalkan kuburan, kain kafan tadi terburu-buru ia masukkan ke dalam karung yang telah ia siapkan sebagaimana pesan Kiyai Duladi.
***

Esoknya,

Cak Sudrun Nampak gagah. Ia berjalan ke rumah Om Juno Baghdad denga aura kepercayaan diri yang luar biasa. Nampak ia membawa karung terikat yang hanya sudrun mengetahui isinya.

Sebenarnya Cak Sudrun merasa heran, karung itu kemarin hanya di isinya dengan kain kafan, namun tadi pagi ia melihat karung itu nampak di penuhi oleh sesuatu, tidak mungkin jika hanya selembar kain bisa membuat karung itu Nampak penuh. Ketika Cak Sudrun membuka karung it, sekali lagi pemandangan yang membuatnya takut terulang kembali, namun tak lama kemudian wajah Cak Sudrun sumringah karena mulai memahami apa yang diperintahkan Kiyai Duladi kemarin.
***

“Apa itu yang kamu bawa Drun?” Tanya Om Juno Baghdad kepada Sudrun yang sudah duduk penuh senyum di depannya itu.

“Ini pesenan Om Juno kemarin agar saya masuk daftar pelamar Mbak Denok Tukiyem yang patut diperhitungkan” jelas Cak Sudrun.

“Mana… perlihatkan ke saya!” Pinta Om Juno penasaran. Mana mungkin ada kalajengking yang lebih menyeramkan daripada kalajengking miliknya.

Cak Sudrun pun membuka karung yang sejak tadi ia bawa dan memperlihatkan isinya kepada Om Juno.

“Ini Om” ujar pendek Cak Sudrun sambil mengarahkan karung ke depan Om Juno.

Om Juno sangat terperangah melihat kumpulan kalajengking hitam yang super besar itu. Tidak pernah ia melihat kalajengking yang sebesar dan menyeramkan seperti yang dibawa oleh Cak Sudrun itu. Kalajengking-kalajengking itu sedang mengerumuni lipatan kain putih yang ada dalam karung.

“Gimana kamu nangkep kalajengking-kalajengkin sebesar ini Drun?” Tanya Om Juno penasaran. “Dan ini kain apa yang dikerumuni?”.

“Oh itu Om. Itu Kain kafan” jawab Cak Sudrun. “Jadi kemarin ada orang yang selama hidupnya jarang sholat baru meninggal. Baru sekitar satu jam dikubur saya gali kuburannya dan saya ambil kain kafannya. Kata Kiyai Duladi, orang yang jarang sholat di kuburan nanti akan dikerubuti kalajengking dan ular. Jadi saya ambil kain kafannya sedikit, saya taruh di karung ini… eh gak tau gimana ceritanya,  pas tadi pagi kalajengking yang berkerumun di kain kafan ini malah makin banyak”. Jelas Cak Sudrun panjang lebar.

Cerita Cak Sudrun ternyata membuat Om Juno Baghdad ketakutan. Entah apa yang ada dalam pikirnya.

“Jadi ini kain kafan orang yang jarang sholat?” tanyanya lagi. “Orang yang jarang sholat akan dikerumuni hewan seseram ini nanti?”.

“Iya Om, Begitu penjelasan Kiyai Duladi yang dulu pernah dijelaskan ke saya”.

“Sudrun. Kamu ini kan santrinya Kiyai Duladi. Bisa nggak ngajari saya cara sholat?”

“Tentu saja bisa om”

“Oke. Nggak usah panjang lebar. Besok kamu menikah dengan Puteriku Denok Tumiyem. Tapi kamu harus ngajari saya cara sholat sampe bisa ya!”.

Cak Sudrun terngangah. Ternyata cara dari Kiyai Duladi ampuh mandraguna untuk menaklukkan hati Om Juno Baghdad. Dan besok Cak Sudrun akan menikah dengan bunga desa incarannya, Mbak Denok Tumiyem.
***

Di dalam neraka terdapat suatu lembah (hutan) yang bernama Lamlam. Di dalamnya ada seekor ular yang sangat besar, sebesar leher unta dan panjangnya seperti satu bulan perjalanan. Ular itu diciptakan untuk menyiksa orang-orang yang meninggalkan shalat.

Di dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa di sana ada suatu padang yang bernama Jubul Huzn. Di sana ada rumah-rumah kalajengking, dan setiap kalajengking besarnya sama dengan keledai. Dan kalajengking itu diciptakan untuk menyiksa orang-orang yang meninggalkan shalat

Akan muncul seekor ular yang bernama Sujaul Aqra, ia akan berkata kepada si mati dengan suaranya bagai halilintar: “Aku disuruh oleh Allah memukulmu sebab meninggalkan Sholat dari Subuh hingga Dhuhur, kemudian dari Dhuhur ke Asar, dari Asar ke Maghrib dan dari Maghrib ke Isya’ hingga Subuh”. Ia dipukul dari waktu Subuh hingga naik matahari, kemudian dipukul dan dibenturkan hingga terjungkal ke perut bumi karena meninggalkan Sholat Dhuhur. Kemudian dipukul lagi karena meninggalkan Sholat Asar, begitulah seterusnya dari Ashar ke Maghrib, dari Maghrib ke waktu Isya’ hingga ke waktu Subuh lagi. Demikianlah seterusnya siksaan oleh Sujaul Aqra hingga hari Qiamat.

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Muhammadun-Ha-Illallah Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar