728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Tuesday, 21 April 2015

Tarekat dan Mistisisme Sultan Khilafah Usmaniyyah

Para Sultan Ottoman
Khilafah Usmaniyyah atau Ottoman Empire dengan masa kekuasaan selama 6 abad menjadikannya sebagai kekhalifahan terpanjang dibanding daulah-daulah sebelumya seperti Umayyah dan Abbasiyyah.

Salah satu rahasia masa kekuasaan yang panjang bagi kekhalifahan Usmaniyyah adalah bahwa setiap khalifah atau sultan pada masa Daulah Usmaniyyah (Ottoman) mempunyai Syekh atau guru spriritual yang mereka patuhi dan sangat mereka hormati. Dengan bimbingan para syekh yang dipercaya sebagai para wali Allah inilah Sultan yang berkuasa menapaki jalan Tasawuf. Sebab itu, sudah sangat dimaklumi bahwa istana Ottoman didirikan dengan asas pendidikan berkarakter tasawuf.

Lihat saja misalnya kisah salah satu sultan termasyhur Ottoman, Sultan Muhammad al-Fatih yang telah di-nubuwah-kan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. berabad-abad sebelumnya bahwa Romawi akan ditaklukkan oleh Sultan terbaik, dan pasukannya juga adalah pasukan terbaik. Sejak belia, Sultan Muhammad telah dipersiapkan oleh guru spiritualnya Syekh Ak Syamsuddin, karena beliau tahu betul bahwa yang dimaksud dalam hadis nabi tersebut adalah anak didiknya ini.

Sultan Muhammad Al-Fatih bersama gurunya Syekh Ak Syamsuddin ketika perang penaklukan Konstantinopel
Hal ini terbukti ketika Ottoman menaklukkan Konstantinopel, dengan adanya Syekh Ak Syamsuddin di sampingnya, Sultan Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Dalam masa penaklukan yang berlangsung selama 54 hari itu juga, Syekh Ak Syamsuddin bermimpi bertemu dengan Ayub Al-Anshari, salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw. yang meninggal di sekitar konstatinopel pada masa peperangan antara Bani Umayyah dan Romawi. Sesuai wasiatnya, Syekh Ak Syamsuddin memerintahkan Sultan unutk menggali dan memindahkan makam sahabat Nabi ini di dekat benteng Konstantinopel.
 Cak Gopar Ziarah di Makam Sultan Muhammad al-Fatih
Wasiat sahabat Ayub al-Anshari tersebut adalah :

“Aku mendengar baginda Rasulullah saw mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut dan aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentera seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda.”

Oleh sebab itu, ketika Kontastinopel berhasil ditaklukkan, masjid yang pertama kali dibangun di Istanbul adalah Masjid Sultan Ayub, hal ini sebagai penghormatan kepada sang sahabat Nabi tersebut.

Masing-masing sultan memiliki kisahnya sendiri, Pendiri Ottoman, Sultan Osman Gazi juga memiliki guru spiritual bernama Syekh Edebali. Pada suatu malam Osman gazi bermimpi, dan beliau pun menceritakan perihal mimpinya kepada sang Syekh :

“Wahai Syekh, tadi malam anda ada dalam mimpiku, Aku melihat rembulan keluar dari dadamu. Semakin tinggi, semakin tinggi, lalu ia masuk dalam dadaku. Lantas dari perutku tumbuh pepohonan, pelan-pelan pohon itu tumbuh membesar, daunnya nampak kehijauan, dahan dan ranting tumbuh begitu rumit dan indah hingga mampu memberi keteduhan pada seluruh bumi ini. Ya Syekh apa makna dari mimpiku ini?”. Tanya Osman Gazi.

Pohon Cinar di Bursa, Sultan Orhan Gazi (putra Osman Gazi) pernah didoakan oleh para Darwish disini

Sang Syekh diam beberapa saat, lalu beliau menjawab dengan mata berbinar-binar ;

“Berita baik bagimu!, mimpimu akan menjadi kenyataan, engkau akan menjadi perintis awal berdirinya sebuah kerajaan yang sangat besar. Dalam mimpimu juga mengisyaratkan bahwa aku akan memberikan putriku padamu”.

Sejak pernikahan Osman Gazi dengan putri Syekh Edebali yang bernama Mal Hatun inilah Daulah Usmaniyyah didirikan.
Sultan Osman Gazi Han, Pendiri Daulah Usmaniyyah (Ottoman Empire)
Para sultan kekhalifahan Usmaniyyah semuanya adalah penganut jalan tasawwuf dan memiliki guru Mursyid masing-masing. Namun secara umum, kebanyakan para sultan tersebut adalah penganut Tarekat Khalwatiyyah, Naqshabandiyyah dan Maulawiyyah. Berikut ini rangkuman tarekat dan masyayikh para sultan Usmaniyyah :

Pendiri Ottoman Empire, Sultan Osman Gazi adalah penganut Tarekat Wafaiyyah, dan Syekh Edebali sebagai mursyidnya. Jejak ini juga diikuti oleh kedua puteranya, Sultan Orhan Gazi dan Alauddin Pasya.

Sultan Murat I adalah murid dari Sayyid Muhammad Hammari dari Tebriz, beliau dikenal juga dengan Syekh Postinpus. Untuk pendidikan tasawuf dari gurunya ini, Sultan Murad I membangun sebuah tekke tasawwuf di kota Bursa, tepatnya di Yenisehir.

Sultan Bayazid Yildirim adalah penganut tarekat Nurbahsyiyyah, dengan mursyidnya bernama Sykeh Amir Sultan.

Sultan Muhammad Celebi (Mehmet Celebi) diduga adalah penganut Tarekat Zainiyyah dengan Syekh Molla Fenari sebagai gurunya. Namun beliau juga seringkali mengadakan sohbet atau menghadiri pengajian para syekh Tarekat Bayramiyyah.

Sultan Murad II adalah penganut Tarekat Maulawiyyah dengan Syekh Adil Celebi sebagai mursyidnya. Sultan Murad II adalah salah satu sultan yang dikenal hidup sederhana layaknya para sufi Darwish.

Sultan Muhammad Fatih sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa beliau adalah murid dari Syeh Ak Syamsuddin. Syekh Ak Syamsuddin sendiri adalah khalifah resmi dari Haji Bayrami Wali dari Tarekat Bayramiyyah.

Sultan Bayazid II adalah Sultan yang sangat ketat mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf, bahkan dipercaya bahwa beliau adalah seorang waliyullah karena begitu banyak hal dan karomah yang tampak pada diri sang sultan. Sejak masa muda ketika menjadi putera mahkota, beliau adalah murid dari Syekh Celebi Halife yang merupakan penganut tarekat Khalwatiyyah. Beliau juga sering menghadiri sohbet atau pengajian dengan mursyid tarekat Bayramiyyah yaitu Syekh Baba Yusuf Seferhisari. Yang mana Syekh Baba Yusuf Seferhisari ini adalah ayah dari mursyid tarekat Khalwatiyyah yaitu Syekh Muhammad Iskilibi.

Sultan Yavus Selim adalah penganut Tarekat Zainiyyah dengan Syekh Halimi Celebi sebagi mursyidnya. Sultan ini juga dikenal memiliki banyak karomah seperti ayahnya (Sultan Bayazid II). Beliau juga dikenal sebagi Sultan yang hidup layaknya para sufi Darwish karena memiliki sifat rendah hati dan kehidupan yang sangat sederhana.
Cak Gopar dengan background patung Sultan Sulaiman al-Kanuni
Sultan Sulaiman al-Kanuni adalah saudara sepersusuan dengan Syekh Yahya effendi al-Uwaisyi. Sultan Sulaiman sejak masa mudanya juga berhubungan dengan Amir Khalifah Bukhara yaitu Abdullatif Mahdumi atau Muhammad Nurullah Efendi. Sehingga Sultan Sulaiman al-Kanuni menghadiri sohbet Syekh Nashiruddin Ubaidullah Al–Ahrar dari Samarkand, beliau merupakan syekh besar dalam silsilah Tarekat Naqshabandiyyah. Sultan Sulaiman juga menghadiri sohbet Tarekat Khalwatiyyah dengan Syekh Nuruddin Zade sebagai mursyidnya.



Sultan Selim II yang meninggal pada tahun 1574 adalah murid dari Syekh Sulaiman Amidi dari Diyarbekir. Beliau adalah penganut Tarekat Khalwatiyyah.

Sultan Murad III pada awalnya adalah penganut Tarekat Khalwatiyyah dengan Syekh Husamuddin Ussakki sebagai mursyidnya. Kemudian beliau juga belajar dari seorang ulama Tarekat Naqshabandiyyah yang datang dari daerah ma waroan-nahr (wilayah Bukhara) ke Istanbul, beliau adalah Syekh Ahmad Shodiq Kabili.

Sultan Muhammad III adalah murid Syekh Abdul Majid Siyasi dari Tarekat Khalwatiyyah. Beliau juga diketahui seringkali mengadakan sohbet dengan Syekh Aziz Mahmud Hudai dari Tarekat Khalwatiyyah Jalwatiyyah.
Salah satu adegan Film ketika Sultan Ahmad I berjalan mendampingin gurunya Syekh Aziz Mahmud Hudai
Sultan Muhammad VI adalah sultan yang menganut ajaran tarekat Khalwatiyyah. Pada suatu mimpi ia pergi ke Kilitbehir (satu wilayah di kota Canakkale, Turki) dan menemui Syekh Ahmad Jahidi. Oleh sebab itu, Sultan pun membangun sebuah tekke tasawwuf. Beliau juga mengambil manfaat ilmu dari Syekh Abdul Ahad Nuri dan Syekh Karabasy Wali. Sultan juga seringkali menghadisi sohbet dengan Syekh Recep Anis, seorang Dede dalam tarekat Maulawiyyah.

Sultan Sulaiman II adalah murid Syekh Osman Fazli yang menganut tarekat Khalwatiyyah.

Sultan Ahmed II, Sultan Musthofa II dan Sultan Ahmed III adalah murid dari Syekh Recep Anis, seorang dede Tarekat Maulawiyyah.

Sultan Mahmud I dan saudaranya Sultan Osman III yang meninggal pada 1755 adalah penganut Tarekat Naqshabandiyyah dengan Sayyid Muhammad Muradi sebagai gurunya.

Sultan Musthofa III mendapat pencerahan dari Syekh Beyzade Mustafa effendi yang merupakan penganut Tarekat Naqshabandiyyah.

Sultan Abdul Hamid I adalah murid dari Syekh Muhammad Ziyad Efendi yang merupakan penganut Tarekat Sa’diyyah.

Sultan Selim III adalah murid dari Syekh Mehmet Emin Celebi yang merupakan seorang syekh dalam Tarekat Maulawiyyah. Beliau juga dikenal sebagai Sultan yang sering menghadiri sohbet Syekh Galin.

Sultan Musthofa IV telah banyak diriwayatkan bahwa beliau adalah penganut Tarekat Naqshabandiyyah dan mendapat pencerahan dari Syekh Molla Murad Efendi.

Sultan Mahmud II adalah penganut Tarekat Naqshabandiyyah. Beliau berhubungan dengan Syekh Mehmed Nuri Effendi di Tekke Tasawuf Yahya Efendi.

Sultan Abdul Majid, sebagaimana ayahnya juga adalah penganut Tarekat Naqshabandiyyah. Bahkan beliau juga berpesan agar para murid di tekke tasawuf Ismet Efendi untuk mengadakan hatm-i hâcegân (Khatmil-Khwajagan) setiap malam Jumat di makam yang berada di halaman masjid Sultan Selim. hatm-i hâcegân adalah metode zikir Tarekat Naqsyabandiyyah pada saat itu, yaitu berkumpulnya masyarakat untuk bersama-sama membaca al-Qur’an, sholawat dan berdzikir. Contoh hatm-i hâcegân dapat dilihat di sini :


Sultan Abdul Aziz adalah penganut Tarekat Maulawiyyah dengan Syekh Sadruddin Celebi sebagai guru mursyidnya.

Sultan Abdul Hamid II pada awalnya adalah penganut Tarekat Naqshabandiyyah dengan Syekh Ahmad Ziyauddin Gumushanevi sebagi mursyidnya. Kemudian beliau juga menganut Tarekat Syadiliyyah dan menjadikan Syekh Zafir Efendi sebagai gurunya. Setelah sang guru meninggal, beliau mendapat pencerahan dari Syekh Abdullah Efendi dan Syekh Abul Huda Rifa'i yang merupakan penganut tarekat Qodiriyyah.
Tekke Tasawuf Besiktas Ertugrul yang didirikan Sultan Abdul Hamid II untuk gurunya Syekh Zafir Efendi
Sultan Resyad adalah penganut Tarekat Maulawiyyah dan mempunyai hubungan seorang dede bernama Syekh Salahuddin di Mevlevihane (dergah darwish Maulawiyyah) di Yenikapi. Begitu juga dengan Sultan Murad V, bahkan dalam suatu riwayat Syekh-nya lah yang memberi nama kepada putera Sang Sultan.

Dan Sultan Wahiduddin, sebagaimana ayah dan kakeknya adalah penganut Tarekat Naqsyabandiyyah. Beliau belajar di Tekke Tasawuf di Gumushanevi dari Syekh Ziyauddin Dagestani. Bahkan sepeninggal sang Syekh, Sultan Wahiduddin mengambil tongkat gurunya tersebut sebagai kenang-kenangan.

Wallahu a’lam.

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Tarekat dan Mistisisme Sultan Khilafah Usmaniyyah Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar