728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Sunday, 20 September 2015

Belajar dari nabi Ibrahim (Part2); mengorbankan keikhlasan dalam ujian


Baca PART 1
Setelah peristiwa dibakarnya Nabi Ibrahim as. hidup-hidup. Kemudian Nabiyullah Ibrahim as. diperintah oleh Allah untuk meninggalkan kota Ur dan hijrah ke Syam untuk melanjutkan dakwahnya. Penamaan Negeri Syam saat ini kini merujuk ke empat negara yang meliputi : Suriah, Palestina, Jordania dan Lebanon. Adapun hijrahnya Nabi Ibrahim as. Ke Syam tepatnya di kawasan Palestina saat ini.
Di Palestina inilah beliau berdakwah dan sebuah riwayat menceritakan di sini beliau menikah dengan seorang perempuan cantik bernama Siti Sarah.
Lama beliau di palestina, dan pada suatu waktu Allah kembali memerintahkan Nabi Ibrahim untuk pergi ke Mesir yang saat itu dikuasai seorang raja dzolim yang dikenal senang menikahi perempuan-perempuan cantik sekalipun perempuan tersebut talah memiliki suami.
Setibanya di Mesir, kecantikan Siti Sarah pun tersiar. Raja Mesir tertarik dengan kecantikan Siti Sarah. Namun Allah menolong istri Nabi Ibrahim ini, setiap Raja Mesir hendak mendekati Siti Sarah… tiba-tiba saja badan sang Raja beku dan tidak bisa digerakkan. Kejadian ini berkali-kali terjadi. Atas kejadian inilah sang Raja segan kepada Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, justru ia memberikan seorang budak perempuan bernama Siti Hajar. Tak lama di Mesir, Nabi Ibrahim, Siti Sarah dan Siti Hajar kembali ke Palestina.
Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini, bahwa sungguh Allah akan selalu menolong hamba-Nya yang beriman yang berdakwah di jalan Allah. Sungguh ujian keimanan memang berat, namun orang yang beriman pasti akan dapat melalui segala ujian dengan pertolongan Allah.
Palestina Saat ini

Telah masyhur dalam kisah Nabi Ibrahim, bahwa beliau sudah berumur lanjut. Namun pernikahannya dengan Siti Sarah tak juga memiliki keturunan yang diharapkan dapat melanjutkan risalah tauhid ini. Nabi Ibrahim senantiasa tak putus asa berdoa kepada Allah, doa ini diabadikan dalam al-Qur’an :
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. (QS. As-Shoffat : 100)

Apa hikmah yang dapat diambil dari doa Nabi Ibrahim ini?. Mungkin ada diantara kita yang hingga saat ini masih belum diberi amanah keturunan, maka janganlah putus asa untuk tetap berdoa. Tidak sekedar berdoa meminta dianugerahi keturunan, tapi jangan lupa sebagaimana doa nabi Ibrahim mintalah keturunan yang SHOLEH. Karena kemuliaan seseorang baik di dunia maupun di akhirat bisa jadi didapatkan dari karena kesholehan seorang anak, dan sebaliknya celakanya seseorang bisa juga diakibatkan karena keturunan yang misalnya tidak diajarkan tentang ajaran Islam dengan benar.
Sang istri tak tega melihat keadaan ini, seorang suami tentu saja ingin memiliki keturunan. Maka Siti Sarah meminta suaminya untuk menikah lagi dengan perempuan lain. Nabi Ibrahim pun setuju, apalagi sang istri telah mengizinkannya. Maka Siti Sarah pun meminta Siti Hajar al-Qibtiyyah, seorang budak dari bangsa Mesir untuk menjadi madunya, menikah dengan Nabi Ibrahim as.
Lukisan dari Bani Hasan di Mesir menunjukkan perjalanan suku nomaden dari Suriah ke Palestina Memberikan kita gambaran tentang penampilan suku Sarah dan Ibrahim
Dengan pernikahannya dengan Siti Hajar ini, tak butuh waktu lama dengan izin Allah…. Nabi Ibrahim dianugerahi dengan seorang putera bernama Ismail yang kelak akan meneruskan dakwah tauhidnya dan diangkat oleh Allah sebagai seorang Nabi.
Kegembiraan nabi Ibrahim ini diceritakan dalam al-Qur’an :

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
 Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. 

Melihat Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dengan buah hatinya begitu bahagia, maka timbullah kesedihan dan kecemburuan dalam hati Siti Sarah yang telah bertahun-tahun bersama Nabi Ibrahim namun belum dikarunia keturunan. Maka Siti Sarah pun menjelaskan perasaannya kepada suaminya, dan meminta agar Nabi Ibrahim membawa pergi jauh Siti Hajar dan Puteranya, Ismail alaihissalam. Dan permintaan ini pun diperintahkan oleh Allah pula.
Nabi Ibrahim pun pergi bersama dengan Siti Hajar yang menggendong bayinya ; Ismail. Mereka pergi dari Palestina menuju ke sebuah lembah yang berada di padang pasir kering, tempat ini saat ini dikenal dengan kota Mekkah.
Setibanya di sisi Ka’bah yang saat itu masih berupa pondasi, maka Ibrahim pun meninggalkan Siti Hajar dan bayinya di sisi Ka’bah dengan sedikit bekal.
Nabi Ibrahim beranjak pergi meninggalkan kedua orang yang dicintainya tersebut. Sang istri bertanya :
“Wahai nabiyullah… apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat asing ini?”
Nabi Ibrahim tak mampu untuk menjawab, dadanya dipenuhi perasaan antah berantah. Kesedihan begitu berat. 
Berkali-kali Siti Hajar bertanya, namun tak sepatah jawaban pun keluar dari lisan Nabi Ibrahim karena begitu beratnya beban perasaan di dada beliau.
Hingga akhirnya Siti Hajar bertanya dengan pertanyaan berbeda :
“Hal Allah amaruka bi hadza?.... Apakah Allah yang telah memerintahkanmu dengan perkara ini?”
Nabi menjawab : “Iya. Ini adalah  perintah Allah wahai istriku”
“Jika demikian halnya, maka aku yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan kami” ujar Ibunda Siti Hajar.
Nabi Ibrahim melangkah pergi. Di balik salah satu bukit, Nabi Ibrahim memandang jauh anak dan istrinya yang ada di sisi Ka’bah. Pedih benar hati Nabi Ibrahim. Beliaupun mengangkat keduatangannya untuk berdoa, doa ini diabadikan dalam al-Qur’an :
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs. Ibrahim : 37)

Ilustrasi Pembangunan Kabah pada Zaman Ibrahim
Apa hikmah besar yang dapat diambil dari kisah ini? Nabi Ibrahim diuji dengan ujian yang begitu berat, meninggalkan istri yang beliau cintai, meninggalkan puteranya yang selama ini beliau idamkan-idamkan. Beliau meninggalkan di tempat asing yang gersang sebagai ujian keimanan untuk mengharap ridho Allah dan beliau menjelaskan perkara ini beliau lakukan dengan harapan agar dzurriyah beliau, keluarga beliau, keturunan beliau menjadi orang-orang yang senantiasa mendirikan sholat.
Lantas bagaimana dengan kita? Kita sering mengeluh atas ujian keimanan yang diberikan Allah kepada kita. Dan jelas ujian yang kita terima sangat tak sebanding ujian Nabi Ibrahim. Tapi apakah di tengah ujian kita…. Kita masih memperhatikan keluarga kita? Sudahkah keluarga kita kita ingatkan dengan sholat? Sudah kah kita mengingatkan keluarga kita untuk senantiasa meninggalkan perkara-perkara maksiat?
Persediaan makan dan minum Siti Hajar telah habis, bayi Ismail menangis kehausan. Ibunda Siti Hajar kembali ditimpa kesedihan. Beliau membutuhkan air untuk puteranya. Ia melihat diseberang sana nampak seperti lembah berair, beliau berlari kecil menuju ke tempat tersebut, namun tak dijumpainya air. Beliau melihat ke bukit yang ada di sana terdapat air, ia pun berlari-lari kecil, ternyata tak juga ia temui air. Hal ini beliau lakukan hingga 7 kali. Kejadian ini hingga saat ini selalu dikenang yang kemudian dikenal dengan sa’i dan termasuk dalam rangkaian ritual ibadah haji, berlari-lari kecil antara bukit shofa dan marwa.

Hingga pada akhirnya Siti Hajar melihat di sisi bayi, turun seorang malaikat yang menyiapkan sebuah sumber air. Air memancar begitu deras, Siti Hajar pun membendung air yang memancar itu sembari berujar dengan bahasa Ibrani zami.. zami…zami…zami… yang berarti berkumpullah-berkumpullah….. mengharap agar air tersebut tidak melebar dan berkumpul. Air ini hingga saat ini masih dapat dinikmati oleh jutaan manusia sejak zaman Nabi Ismail hingga detik ini, yang dikenal dengan Air Zamzam.
 
Ilustrasi ka'bah di masa lampau
Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa kita memang tidak akan lepas dari ujian Allah yang menguji keimanan kita. Jika Siti Hajar berusaha berlari kesana kesini mencari air, maka kita juga dituntut untuk berusaha mendapatkan solusi dari setiap masalah yang kita hadapi, karena boleh jadi masalah-masalah tersebut adalah salah satu bentuk ujian untuk kita lewati.
Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim diizinkan oleh Allah untuk pergi mengunjungi keluargnya; Siti Hajar dan Ismail alaihissalam. Di temuinya, Ismail sudah mampu untuk berjalan dengan langkah-langkah kecil. Nabi Ibrahim telah disiapkan dengan ujian lagi.
Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putera kesayangannya itu. Beliau masih ragu atas mimpi ini. Kejadian mimpi ini terjadi tepat pada tanggal 8 dzulhijjah yang disebut dengan hari Tarwiyyah.
Setelah mimpi yang sama terjadi 3 kali dalam tidurnya, esoknya Nabi Ibrahim pun memahami bahwa mimpi tersebut adalah perintah dari Allah untuk menyembelih puteranya sendiri. Pemahaman ini terjadi pada tanggal 9 dzulhijjah, yang dikenal dengan hari Arafah.
Nabi Ibrahim pun berdialog dengan puteranya, dialog ini diabadikan dalam al-Qur’an : 
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Setelah nabi Ismail setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya dan menjawab dengan jawaban luar biasa yang penuh dengan kesabaran. Mereka berdua pun pergi kesebuah bukit untuk menjalan perintah Allah, menyembeliha nabi Ismail as. Tempat ini saat ini dinamakan Jabal Qurban yang terletak di kawasan Mina.
Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih puteranya, saat itulah puncak ujian nabi Ibrahim. Seketika dengan kuasa Allah, Allah menggantinya dengan kambing untuk dikurbankan.
Puncak ujian keimanan yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan puteranya tentu sangat jauh lebih berat dibanding semua ujian yang pernah kita terima.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah penyembelihan ini adalah bahwa seringkali dalam hidup yang kita jalani kita membutuhkan pengorbanan, insya Allah di hari Idul Adha sebentar lagi ini kita akan menyembelih kambing ataupun sapi, namun dalam ritual tersebut jangan lupa untuk mengetuk hati kita masing-masing untuk menyembelih sifat-sifat kehewanan yang ada dalam diri kita. Sungguh setiap dari kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, marilah kita sembelih sifat-sifat kehewanan berupa takabbur, sombong, pamer egoisme dan lain sebagainya.

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Belajar dari nabi Ibrahim (Part2); mengorbankan keikhlasan dalam ujian Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar