728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Friday, 9 October 2015

Israiliyyat dalam Tafsir ; Mau tapi tak mau?


Orang-orang Yahudi sejak zaman dahulu kala telah bergerak dari Mesir ke Timur. Mereka membawa semua tradisi kehidupan yang ada pada mereka. Setelah itu mereka membawa lebih jauh lagi ke Timur hingga ke Babilonia. Kemudian, mereka kembali ke wilayah Kan’an (Palestina) yang mereka akui sebagai tanah air mereka. Dari ujung timur di Babilonia dan dari ujung barat di Mesir mereka membawa apa yang mereka dapat bawa.

Sedangkan Islam mendatangkan apa saja yang dapat didatangkan ke dalam lingkungan Arab-Islam dari semua unsur ini, disamping unsur-unsur yang dibawa oleh agama-agama lain yang masuk ke Jazirah Arab. Agama-agama ini menyampaikan kepada penduduk jazirah ini berita apa saja, atau cerita keagamaan apa saja yang dapat disampaikan. Dan semua ini terus terngiang di telinga para pembaca al-Qur’an dan mereka mencoba untuk memahaminya, sebelum mereka keluar menuju ke sekitar Jazirah mereka baik di Timur maupun  Barat sebagai penakluk. 

Walaupun tidak dikisahkan secara detail, di dalam al-Qur’an sendiri terdapat kisah-kisah yang memiliki titik temu dengan cerita-cerita tersebut . Sehingga ada dari kalangan sahabat Nabi dan para tabi’in yang menceritakan kisah-kisah yang berkembang dari tradisi Yahudi ini dalam menjelaskan pemahaman terhadap al-Qur’an. Inilah yang dinamakan dengan Israiliyyat dalam Tafsir. 

Para sahabat telah menyampaikan kepada Nabi Saw. mengenai kisah-kisah Israiliyyat yang didengar dari orang-orang ahli ktab utamanya Yahudi dan sebagian telah berkembang popular di sekitar mereka. Ada tiga hadis Nabi Saw. yang menjadi dasar boleh tidaknya penggunaan kisah Israiliyyat. 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لأَهْلِ الإِسْلاَمِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ ، وَقُولُوا (آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ)
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Ahli Kitab membaca Taurat dengan mengunakan bahasa ‘Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa arab kepada Umat Islam, maka Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mempercayai Ahli Kitab dan janganlah kalian mendustai mereka, tetapi katakanlah ‘kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kam” (HR. Bukhari)

Dari hadis diatas, dapat jelas diketahui bahwa Nabi Saw. menyuruh sikap tawaqquf dari kisah-kisah Israiliyyat ini, tidak membenarkannya dan tidak mendustakannya. Oleh sebab itu hadis ini bersifat mujmal sehingga masih membutuhkan perincian lebih jauh bagaimana mengaplikasikan Israiliyyat.

بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat. Sampaikan kabar dari Bani Israil, dan tidak perlu merasa berat. Siapa yang berdusta atas namaku, hendaknya dia siapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa Nabi Saw. mengizinkan untuk meriwayatkan cerita-cerita dari Bani Isaril namun tetap dengan kewaspadaan dari riwayat-riwayat dusta yang mengatasnamakan Nabi Saw. Oleh sebab itu, jika dikaitkan dengan hadis pertama, maka hadis ini juga masih membutuhkan penjelasan yang lebih terperinci. 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Umar Ibnu al-Khaththab memberikan satu buku dari Ahli Kitab, lalu Nabi membacanya dan marah, serta bersabda, “Apakah kamu kagum dengan buku ini wahai anak al-Khaththab? Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sungguh yang aku berikan kepada kamu (Alquran) yang terang lagi murni. Janganlah kamu bertanya sesuatupun kepada Ahli Kitab, sehingga mereka mengabarkan kepada kamu yang benar lalu kamu dustai atau mereka kabarkan yang batil lalu kamu benarkan. Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, jika Nabi Musa as. hidup sekarang, tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad)

Dari hadis di atas, ada semacam larangan dari Rasulullah Saw. untuk bertanya tentang kisah-kisah dari Ahli kitab karena adanya kekhawatiran kisah yang benar telah terjadi namun diberi bumbu-bumbu kedustaan dalam penyampaiannya. Jika itu terjadi, maka akan menjadi dosa. Oleh sebab itu hadis ini juga membutuhkan penjelasan, terutama dalam kaitannya dengan dua hadis sebelumnya, apakah mengandung pertentangan atau tidak. 

Dari ketiga hadis diatas, para ahli tidak sepakat dalam memahami hukum penyampaian kisah Israiliyyat, sehingga dalam penjelasan para ulama terjadi perbedaan sikap dan penilaian mereka terhadap Israiliyyat. 

Secara umum  para ulama membagi tiga hukum mengenai hal ini, pertama, jika kisah itu telah diakui kebenarannya dan mendapat informasi pembenaran dari Nabi Saw. atau tidak bertentangan dengan syariat islam, maka dapat diterima. Kedua, jika telah  jelas kebohongannya, tidak sesuai syariat atau tidak masuk akal, maka wajib ditolak. Dan ketiga, jika tidak masuk pada kategori pertama dan kedua, maka sikap tawaqquf adalah sikap yang harus dipilih.

Namun dalam prakteknya, lagi-lagi para ulama tidak sepakat dengan kategori seperti di atas, misalkan dalam menelusuri kesahihan sanad suatu kisah Israiliyyat pasti tidak terlepas dari jarh wat ta’dil tokoh yang meriwayatkannya. Sebut saja misalnya Ka’ab al-Akhbar, seorang tabi’in yang sangat banyak menjadi periwayat kisah-kisah Israiliyyat. Beliau juga adalah seorang tokoh yang walaupun telah memeluk agama Islam, namun tetap setia membaca dan mempelajari Taurat dan sumber-sumber Ahli Kitab lainnya. Jika dilihat dari jarh wat ta’dil dia termasuk tokoh yang kontroversi. Mayoritas ulama ahli sanad menilai bahwa dia adalah tokoh yang ‘adil dan tsiqoh (kredibel), bahkan Imam Muslim memasukkan hadis dari Ka’ab ke dalam kitab shahih nya, begitu juga dengan Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Ulama-ulama tersebut kita sepakati adalah ulama ahli hadis yang faham betul tentang kredibilitas seorang periwayat hadis, pun riwayat tersebut berisi tentang kisah israiliyyat, dan tentu saja kredibilitas yang mereka nilai pada seorang perawi sesuai dengan standart tertentu. Namun penilian kredibilitas tersebut, berbeda dengan sebagain ulama belakangan yang menuduh bahwa Ka’ab adalah seorang pendusta dan tidak dapat diterima riwayatnya, hal ini disampaikan misalnya oleh Ahmad Amin dan Rasyid Ridho. 

Selain perdebatan ke-tsiqah-an para periwayat, banyak ulama belakangan juga seringkali mengkritik tafsir yang terlalu banyak menyajikan kisah israiliyyat, bahkan secara ekstrim mengatakan israiliyyat yang diceritakan oleh para ulama dalam kajian al-Qur’an sangat keluar konteks dari kajian itu sendiri. Pandangan negatif seperti ini adalah bentuk kekhawatiran tidak terbacanya intan dan mutiara yang terkandung dalam al-Qur’an karena tertutupi oleh kisah-kisah Israiliyyat tersebut. Lebih dari itu, bahkan ada kekhawatiran yang sangat berlebihan, misalnya seperti yang disampaikan oleh Abu Zahra bahwa Israiliyyat harus dibuang karena tidak berguna dalam memahami al-Qur’an. Israiliyyat dalam tafsir belakangan juga sering dituduh menurunkan derajat al-Qur’an karena bercampurnya yang hak dan yang batil, yang benar dan yang bohong, serta yang ilmiah dan yang dongeng semata. Kenyataan seperti ini mereka khawatirkan dapat membahayakan Islam sendiri, terlebih pada zaman serba modern ini yang membutuhkan dakwah Islam yang baik.

Di lain pihak ada ulama yang membela adanya kisah Israiliyyat dalam konteks tafsir al-Qur’an, misalnya seperti yang dijelaskan oleh al-Qosimi dalam Mahasinutta’wil-nya bahwa Syekh Burhanuddin al-Biqa’i ad-Dimasyki memperbolehkan menggunakan ayat-ayat dalam kitab suci Ahli Kitab, yakni Taurat dan Injil, apabila hal tersebut ada konfirmasinya dalam al-Qur’an. Jika konfirmasi dari al-Qur’an pun tidak tersedia, al-Biqa’i tetap mempersilahkan penggunaan kisah-kisah tersebut dengan alasan adanya hadis pertama dan kedua seperti yang dijelaskan di atas. Ia juga menyatakan, bahwa inilah yang telah dilakukan oleh para sahabat pada masa lalu. Argumentasi yang digunakan al-Biqa’i dalam hal ini adalah ayat :

قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْراةِ فَاتْلُوها إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ [آل عمران: 93]
Katakanlah: Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah Dia jika kamu orang-orang yang benar".

وَأَنْزَلْنا إِلَيْكَ الْكِتابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِما بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتابِ وَمُهَيْمِناًعليه [المائدة: 48]
dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.

Jadi, maukah anda menggunakan kisah-kisah israiliyyat yang sering digunakan oleh para ulama tempoe doeloe namun banyak dipandang negatif oleh para ulama belakangan?.

Wallahu a’lam. 
  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Israiliyyat dalam Tafsir ; Mau tapi tak mau? Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar