728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Thursday, 21 April 2016

Mengapa bukan “hadza”, tetapi “dzalika” ?


Semasa duduk di bangku kuliah di Jakarta dulu, ada satu pertanyaan sederhana yang bergelayutan di kepala Cak Gopar tentang lafadz “Dzalika-l Kitabu” pada surat al-Baqarah ayat 2. Ayat ini berbunyi : 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Pertanyaannya adalah, mengapa pada ayat ini menggunakan kata “dzalika”, yang mana kata ini adalah isimu-l isyaroh lil-ba’id (isim untuk menunjukkan sesuatu yang jauh). Mengapa tidak menggunakan kata “hadza”, karena kata ini adalah ismu-l isyaroh lil-qorib (isim untuk menunjuk hal yang dekat). Logika yang bergelayutan di kepala Cak Gopar dulu adalah jika menggunakan kata “dzalika”, maka kata “al-Kitab” (mayoritas mufassir memberikan makna “al-Qur’an”) pada lafadz selanjutnya menjadikan seolah-olah al-Qur’an berada jauh, padahal al-Qur’an ini adalah “Hudan lil-Muttaqin”. Apakah untuk mendapatkan hudan (hidayah) dari sumber kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya ini harus menumpuh pemahaman yang begitu rumit dan jauh?.
Otak bebal seperti Cak Gopar ini, tentu haram hukumnya untuk menafsrikan ayat-ayat al-Qur’an sesuai kehendak dan logikanya. Karena ada ancaman dari Nabi Saw. :

مَنْ قَالَ فِيْ القُرْآنِ بِرَأيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
“Siapa yang berbicara tentang al-Qur’an menurut pendapat (rasio)-nya dan ia benar, maka sungguh ia telah salah.”

Lihat, walaupun pendapat tersebut benar, namun jika hal tersebut bersumber dari pendapatnya sendiri, maka sejatinya ia telah salah!. Ya bagaimana mau dibilang benar, wong metode menempuhnya dalam memperoleh pemahaman terhadap al-Qur’an saja salah.
Ancaman yang lebih ngeri :

مَنْ قَالَ فِيْ القُرْآنِ بِرَأيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَه مِنَ النَارِ
“Siapa yang berbicara tentang al-Qur’an menurut pendapatnya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.

Baik, kembali ke pertanyaan awal, kenapa “dzalika”, bukan “hadza” saja ?.
Ada banyak perbedaan mufassirin dalam memberikan penjelasan makna kata “dzalika” pada ayat ini. Diantara perbedaan makna yang diberikan sekaligus penjelasannya tersebut dapat kita simak sebagai berikut :

1. Dzalika-l Kitab (kitab itu) pada ayat ini juga bermakna Hadza-l Kitab (kitab ini), yaitu merujuk kepada Hadza-l Qur’an (al-Qur’an ini). Dan dari bacaan Cak Gopar, sepertinya ini adalah pendapat mayoritas.
Penjelasannya : kata “dzalika” sebenarnya tidak hanya isyaroh lil-ba’id (untuk menunjuk yang jauh) saja, tetapi bisa juga lil-Qarib (untuk menunjuk yang dekat). Karena baik hadza (هذا) ataupun dzalika (ذَلِكَ) yang benar-benar menjadi harfu-l isyaroh adalah terletak pada huruf dza (ذا). Adapun adanya huruf Ha’ pada kata Hadza adalah ungkapan yang dengannya menjelaskan kepada mukhotob sesuatu yang ia akan dapat mengetahuinya bahkan dengan tanpa melihatnyapun. Sedangkan pada kata (ذَلِكَ), huruf lam disini adalah lam ta’kid (lam untuk penekanan dalam menjelaskan), dan huruf kaf setelahnya adalah merujuk kepada mukhotob. Jadi, baik hadza dan dzalika itu tidak berkaitan dengan jauh atau dekat.

2. Dzalika adalah isyaroh yang merujuk kepada surat-surat yang diturunkan di Mekkah dan diturunkan sebelum surat al-Baqarah ini, yang mana surat-surat tersebut bertemakan tentang tauhid, kesyirikan, penetapan Nubuwwah nabi Muhammad dan lain sebagainya. Tentu saja walaupun tidak utuh satu al-Qur’an, beberapa surat tersebut disebut juga sebagai “al-Qur’an” karena memang bagian dari al-Qur’an.  

Sehingga lafadz Dalika-l Kitab mempunyai makna sama seperti seolah-olah dengan ungkapan : (Bagian-bagian) KITAB (al-Qur’an) yang telah turun pada waktu ITU…… tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

3. Dzalika-l Kitabu (Kitab itu) adalah ungkapan yang merujuk kepada janji Allah tentang kitab yang akan Dia turunkan kepada Rasul-Nya pada awal pengutusannya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Muzammil ayat 5 yang menyatakan Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat (Yaitu al-Qur’an). Sehingga, dengan demikian Rasulullah Saw. kepada umatnya mengabarkan : KITAB yang dijanjikan-Nya “ITU”……….. tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

4. Pada potongan ayat Dzalika-l Kitabu (Kitab itu) ini yang menjadi mukhotob adalah Bani Israil. Yang mana mereka telah dikabarkan oleh Nabi Musa as. (dan nabi-nabi terdahulu) tentang akan datangnya utusan Allah Swt. dari keturunan Ismail as. Yang mana Allah Swt. akan memberikannya sebuah kitab. Karena yang menjadi mukhotob pada ayat ini adalah Bani Israil, sehingga seolah-seolah penjelasannya sebagai berikut : wahai Bani Israil, KITAB yang telah telah dikabarkan kepadamu yang akan diturunkan bersama dengan Nubuwwah Muhammad ITU…… tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

5. Kata dzalika yang bermakna “itu” merujuk pada ayat sebelumnya, yaitu kata “Alif lam Mim”. Sehingga pemahamannya seperti berikut : Alif Lam Mim itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Makna Alif Lam Mim juga terjadi banyak perbedaan makna yang diberikan oleh para mufassir.

6. Kata “Dzalika-l Kitab” mengabarkan tentang bahwa al-Qur’an itu ada di Lauh Mahfudz. Allah Swt. berfirman dalam surat az-Zukhruf ayat 4 : Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami. Dengan demikian, kita dapat memahaminya dengan penjelasan bahwa kata ini adalah bentuk pemberian kabar tentang al-Qur’an yang ada di Lauh Mahfudz ITU adalah KITAB yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Masih banyak sekali pendapat para ulama’ tafsir tentang makna kata “Dzalika” pada ayat ini.

Tentang pendapat ini, Cak Gopar pernah bertanya kepada gurunya yang beliau juga adalah seorang mufassir, Prof. Dr. Mehmet Said Simsek, penulis tasir dalam bahasa Turki Hayat Kaynağı Kur'ân Tefsiri. Setelah menjelaskan panjang lebar, beliau lebih condong dengan pendapat bahwa kata dzalika-l kitabu pada ayat ini merujuk kepada Ashlu-l Kitab, yaitu Lauh Mahfudz. Sebab itulah dalam ayat ini menggunakan bentuk isyaroh dengan kata “Dzalika” yang bermakna “Itu”.

Di akhir penjelasannya, Pak Profesor Said Simsek Hoja juga menciprati Cak Gopar dengan mendoakan semoga Cak Gopar kelak menjadi Mufassir. Mendengarnya, setelah meng-amin-kan, Cak Gopar tertawa ngekek-ngekek dalam hati, karena tahu betul bahwa doa untuk Cak Gopar yang seperti itu sepertinya adalah Isyaroh lil-ba’iid jiddan, alias sangat amat jauh sekali untuk direalisasikan!.

Wa-Allahu a’lam bi-s Showab.

Note : mukhotob adalah orang kedua, atau orang yang diajak bicara.

Surabaya, Jum’at penuh berkah,
14 Rojab 1437 H

9.40

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengapa bukan “hadza”, tetapi “dzalika” ? Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar