728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Monday, 11 July 2016

Ketika wahabi unyu-unyu menggugat madzhab

Suasana para santri mengkaji kitab di Pesantren 
Sekitar empat tahun lalu sewaktu masih di Turki, seorang wahabi teman saya (Dia gak mau disebut Wahabi, tapi doyan nge-share Rodja TV, Yufid TV, fatwa Utsaimin, bin Bazz, dll… Lah??), pernah diskusi via Inbox Facebook. Dia mengatakan madzhab itu justru memecah persatuan umat, zaman nabi gak ada madzhab. Harusnya kita langsung saja merujuk kepada al-Qur’an dan Hadits Nabi. (Nah kan, kelihatan cara berfikirnya ala wahabi. Masih ga nyadar kalau kerasukan Wahabi).
Di satu forum, akhirnya kami berjumpa. Singkat cerita, diskusi via inbox yang sebenarnya gak seberapa saya hiraukan itu pun berlanjut.

Saya bertanya kepada teman saya tersebut, Qiro’ah riwayat siapa yang dia pakai dalam membaca al-Qur’an?. Ternyata dia gak faham. Padahal saya mau mengajak dia seperti yang dilakukan oleh Syekh Ramadhan al-Buthi kepada “Muhaddis” Wahabi Syekh Nasaruddin al-Albani seperti yang diceritakan dalam kitab Al-Laa Madzhabiyyah. Tapi sayang teman saya gak nyambung dengan pertanyaan sederhana ini. Akhirnya ga jadi deh pakai siasat yang dulu bikin Syekh al-Albani ketar-ketir bingung menjawab.

Saya pakai pertanyaan lain, saya tanya kembali. Bagaimana status hukum wudhu seorang laki-laki yang bersentuhan kulit dengan perempuan?. Suami-istri misalnya, apakah wudhunya batal?. (Sengaja dengan pertanyaan khilafiyyah).

Seperti mendapat pertanyaan mudah, dia pun enteng menjawab “Hukumnya wudhunya tidak batal”. Dia pun menjelaskan bahwa “pernah dengar” ada hadis, suatu saat Nabi Saw. pernah mencium Siti Aisyah dan tanpa wudhu dulu kemudian beliau langsung Sholat. Jadi betul apa yang dilakukan oleh orang-orang Turki, bersentuhan kulit cowok-cewek tidak membatalkan wudhu, ini baru mengikuti Nabi. (Perlu diketahui pemirsa, di Turki mayoritas bermadzhab Hanafi yang memang berpendapat demikian).

Saya memujinya atas jawaban teman saya tadi, “bagus… kamu benar tentang hadis tersebut”.

Sekarang saya tanya lagi, saya menyodorkan sebuah hadis :

قبلة الرجل امرأته وجسها بيده من الملامسة فمن قبل امرأته أو جسها بيده فعليه الوضوء
Ciuman laki-laki atas istrinya dan menyentuh dengan tangannya adalah termasuk ‘mulamasah’, maka barang siapa mencium istrinya atau menyentuhnya dengan tangannya maka wajib ia berwudhu!”.

Teman saya kaget, kok beda dengan yang dia fahami. Seperti kebiasaan Wahabi unyu-unyu, dia kemudian berusaha mempertanyakan status hadisnya. Saya tahu arahnya akan ke mana, maka saya jawab, Imam Nawawi berpendapat hadis ini Shohih, lain cerita kalau kamu gak percaya dengan Imam Nawawi.

Akhirnya dia diam. Bingung!.

Dia berusaha membuka smartphone, mencari jawaban atas pertanyaan saya. Saya pun memintanya berhenti melakukan itu. “Tolong yang istiqomah dong, katanya mau merujuk kepada al-Qur’an dan hadits. Ini ada dua hadits yang ‘seolah-olah’ bertentangan. Bagaimana cara kamu melakukan sesuai dengan pendapat Nabi?. Ingat, jangan pakai qoul ulama’! Langsung ke hadis Nabi!. Masa Nabi memerintahkan untuk wudhu lagi tapi beliau setelah bersentuhan dengan Siti Aisyah Rha. kok tidak berwudhu.”

Setelah yakin dengan kebingungannya, saya pun menjelaskan, ya begitulah jadinya kalau orang awam seperti kita berlagak mau langsung berhujjah kembali pada al-Qur’an dan hadis dan menafikan Qoul ulama’. Kamu kira para ulama’ madzhab itu gak merujuk kepada al-Qur’an dan Hadits?. Sekelas Imam Bukhari dan Imam Muslim yang kualitas hadis-hadisnya nomer satu aja beliau bermadzhab Syafi’i. Begitu juga dengan para Muhaddis lain seperti Imam Tirmidzi, Imam Baihaqi, Imam Abu Daud dll. Semuanya adalah manusia-manusia yang memilih bermadzhab. Lah apalagi kita!.

Sama seperti ketika kamu mau minum teh, gak mungkin kamu minum langsung dari teko-nya. Mesti kamu tuang dulu ke gelas baru kamu sruput. Isi minumannya ya tetap sama; TEH.
Ikut para ulama’ madzhab itu ya ujung-ujung sama, ngikuti kanjeng Nabi!. Toh jelas sekali mereka itu adalah Warotsatu-l Anbiya’…. Pewaris sah para Nabi.

Dengan cuma modal satu hadis saja jangan berlagak mengeluarkan hujjah. Para imam madzhab hafal di luar kepala ratusan ribu hadis beserta sanad-sanadnya dan kredibilitas setiap orang yang ada dalam silsilah sanad tersebut. Lah kamu?, satu hadis saja susah nerjemahin. *wkwkwkwk*.

Dan yang paling penting, para imam madzhab itu sanad ilmunya nyambung sampai ke Rasulullah Saw.. dan hal ini tercatat rapi dalam literatur ilmu fiqih. Lah kamu?. Dengan bingung karena dua hadis saja mau meruju ke Syekh Google. Kamu sebenarnya mai ikut siapa?.

Jadi kenapa kita harus bermadzhab?. Jawabnya…. Karena madzhab memudahkan kita yang awam ini untuk mengikuti Nabi Saw. menjalankan syariatnya.

Kamu memilih pendapat madzhab Hanafi misalnya, pegang cewek wudhu tidak batal,,,,, ya silahkan. Karena memang begitu hasil ijtihad Imam Hanafi setelah berkecimpung dalam banyak dalil mengenai hal ini. Tentu dalil-dalinya bersumber dari al-Quran-Hadis juga.

Saya berpendapat batal, karena saya adalah pengikut madzhab syafii. Saya memilih pendapat ini karena percaya dengan hasil ijtihad beliau yang juga pastinya berdalil dari al-Quran dan Hadis.
Mudah kan jika ikut madzhab!. Sanad kelimuannya jelas!.

Ini memang debatable, tapi ini adalah wilayah para imam mujtahid. Dan mereka sudah menyelesaikan pembahasan ini.

Diskusi pun selesai dengan cengar-cengir khas wahabi unyu-unyu. 

Silsilah Keilmuan Madzhab Syaifi, nampak bersumber dari Rasulullah Saw.
Silsilah Keilmuan Madzhab Hanafi, juga bersumber dari Rasulullah Saw.
Silsilah sanad keilmuan Nahdlatul Ulama, dari Rasulullah Saw. hingga Hadrotussyeikh KH. Hasyim Asy'ari
Silsilah emas kitab-kitab dalam Madzhab Syafiiyyah
Wallahu a'lam.
  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Ketika wahabi unyu-unyu menggugat madzhab Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar