728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Saturday, 9 July 2016

Nasyid Qomarun : Sebuah Tafsir atas Pujian Kepada Nabi Tertampan

Saya adalah orang yang percaya bahwa kekuatan musik apapun, itu terletak pada isi liriknya. Apalagi musik-musik tersebut adalah syair-syair Arab yang mana sejak zaman dahulu syair adalah kehidupan sehari-hari yang teramat penting dalam budaya bangsa Arab. Untuk memacu perang, mereka mengawalinya dengan syair penuh semangat, untuk menjilat seorang tokoh, mereka juga menggunakan syair, dan masih banyak lagi kekuatan syair dalam bahasa Arab. Sehingga, bagi saya alunan musik pengiring, nada dan intonasi pembacaannya adalah nomer sekian untuk memikat pendengarnya.

Pada tulisan ini saya ingin mencoba mengais hikmah dari sebuah nasyid karya seorang pemuda Arab ganteng nan penuh senyum, Mushtofa Athef, nasyidnya berjudul Qomarun. Musthofa Athef merilis album nasyid keagamaan Qomarun ini di Mesir pada tahun 2014. Pada acara launching album ini, banyak para hadirin yang semangat ikut melantunkannya sembari meneteskan air mata atau paling tidak matanya berkaca-kaca seolah tenggelam dalam makna nasyid ini.

Ketika pertama kali mendengar nasyid ini, saya yakin nasyid ini akan segera booming. Musthofa Athef dalam beberapa video juga seringkali melantunkan nasyid Qomarun di hadapan para Habaib Yaman dan para Ulama al-Azhar. Dengan itu semua, tak perlu waktu lama akhirnya nasyid ini pun popuear di komunitas-komunitas pembacaan Sholawat,,,, sampai-sampai Habib Syech pun beberapa kali juga turut melantunkannya.

Pada awal nasyidnya, dengan suara hening, tak ada lantunan musik gaduh, hanya iringan nada seruling yang teramat keciiiil sekali yang nyaris tak terdengar, seolah suara seruling ini ditiup dari kedalaman hati, Musthofa Athef menjelaskan muqaddimah pujiannya atas keindahan Rasulullah Saw.

وأجمل منك لم تر قط عين - وأجمل منك لم تلد النساءُ
خلقت مبرءاً من كل عيبِ - كأنك قد خُلِقت كما تشاءُ
Tak satupun mata pernah melihat yang lebih tampan darimu
Tak seorang wanitapun pernah melahirkan yang lebih tampan darimu
Engkau diciptakan terbebas dari semua aib
Seolah-olah engkau dicipta sebagaimana yang engkau inginkan

Rujukan atas kesaksian tampannya Rasulullah bisa kita dapatkan dari para sahabatnya. Abu Hurairah Ra. pernah mengatakan Saya belum pernah melihat paras wajah setampan Rasulullah Saw. Seolah-olah cahaya mentari berjalan menelusuri wajahnya. (HR. Tirmidzi).

Ar-Rabi' binti Mu'awwidz pernah diminta untuk menjelaskan tentang ketampanan Rasulullah Saw. beliau pun menjelaskan : Wahai Anakku, seandainya kamu melihat beliau, maka itu berarti kamu sedang melihat matahari terbit. (HR. ad-Darimi). Kiasan-kiasan para sahabat tentang ketampanan Rasulullah Saw. sangat banyak, singkatnya, sebagaimana diceritakan oleh istri beliau Aisyah Rha. Rasulullah saw. adalah orang yang wajahnya paling tampan dan kulitnya paling bercahaya di antara yang lain. (HR. Al-Baihaqi).

Kemudia Musthofa Athef menyeru orang yang dicucurinya dengan pujian tersebut. Ia menyerunya beberapa kali dengan panggilan Qomarun…

Qomarun sendiri adalah bahasa arab yang berarti Rembulan. Namun rembulan pada syair ini bukanlah bulan yang setiap malam kita saksikan bergantung indah di langit yang gelap gulita itu, tidak. Rembulan di sini merujuk kepada kekasih teragung yang paling dicintai oleh seluruh umat Islam di dunia ini, dialah Baginda Rasulullah Saw. ini sebagaimana yang ditegaskannya diujung seruannya bahwa Qomarun adalah Sidnaa-n-Nabiy… Nabi Pemimpin kami!.

Kenapa dalam nasyid ini beliau dipanggil dengan panggilan rembulan?. Hal ini menarik, saya menyusuri kitab-kitab syamail yang menjelaskan tentang sebutan nama-nama Rasulullah Saw., namun saya tak menemukan bahwa Qomarun adalah salah satu dari nama yang dipautkan kepada beliau. Yang saya dapati justru beliau Saw. disimbolkan dengan Purnama (al-Badru), sebagaimana syair Thola’al Badru Alaina yang digunakan sewaktu menyambut kedatangan beliau ketika hijrah ke Madinah. Juga ada potongan syair Anta Syamsun Anta Badrun (Engkaulah marahari, engkaulah purnama) yang sangat popular di Indonesia.

Hanya ada satu riwayat yang saya temukan seorang sahabat menkiyaskan Rasulullah Saw. dengan rembulan. Hal ini sebagaimana cerita Abu Ishaq, suatu saat sahabat al-Barra’ ditanya oleh seseorang, apakah benar paras Rasulullah Saw. itu seperti pedang yang berkilau?. Sahabat al-Barra’ pun tegas menjawab… Laa, bal mitslu al-Qomar, Tidak tetapi beliau bagaikan rembulan!. (HR. Bukhari).

Imam al-Qusthullani dalam kitab al-Mawahib, menukil ucapan Syekh Abu Bakar ibn Al-Arabi dalam kitab Ahkamu-l Qur’an menjelaskan, bahwa Allah Swt. sejatinya memiliki seribu nama, dan begitu pula Nabi Muhammad Saw. memiliki seribu nama. Dengan pernyataan ini, Imam al-Qusthullani pun memberikan syarh atas ucapan ini, beliau menulis: Setiap nama yang dikehendaki dengan sifat-sifat pujian, apabila demikian halnya… maka setiap sifat tersebut adalah sebuah nama bagi Rasulullah Saw.

Qomarun adalah simbol bagi kecantikan, keindahan, cahaya ter-terang di langit malam yang dapat kita saksikan dan simbol-simbol mempesona lainnya. Dengan penjelasan Imam al-Qusthullani di atas, maka sangat amat sah sekali mensifati Rasulullah Saw. dengan seruan Duhai Rembulan!.
Pujian pun berlanjut, Musthofa Athef seolah tak kuasa lagi untuk menggambarkan sang kekasih dengan simbol-simbol kecantikan. Tegas ia menyeru Wa Jamiil…. Duhai yang tampan rupawan.

Penjelasan ungkapan Wa Jamil…. Duhai yang tampan rupawan ini cukuplah penjelasan saya tentang ketampanan Rasulullah Saw. di atas. Namun ada satu hal yang sangat penting untuk dikethui, bahwa ketampanan Rasulullah Saw. ini berbeda dengan Nabi Yusuf as. yang juga dikenal dengan ketampanannya. Perbedaannya terletak, bahwa paras tampan Nabi kita Muhammad Saw. bila dipandang oleh seorang perempuan maka tidak menimbulkan hasrat aneh-aneh, hal ini berbeda dengan ketampanan Nabi Yusuf yang membuat semua perempuan di lingkungan istana tak kuat menahan diri hingga terjadilah kisah yang diabadikan dalam al-Quran tentang Siti Zulaikha yang tak tahan untuk menahan hasrat kepada nabi Yusuf.

Kemudian Musthofa Athef melanjutkan ombak pujiannya dengan menuturkan :
وكف المصطفي كالورد نادي .. وعطرها يبقي اذا مست ايادي
Dan talapak tangan manusia pilihan ini bak mawar yang sangat harum
Dan keharumannya lekat di setiap tangan yang menyentuhnya

Bagi saya, pada potongan syair ini mengandung makna dhohir dan juga makna hakikat. Makna dhohir yang saya maksud adalah sebagaiaman kesaksian para sahabat bahwa memang tubuh Rasulullah Saw. itu sangat harum dan wangi. Bahkan, saking wanginya Rasulullah Saw. sampai-sampai Ummu Sulaim mengambil botol dan berupaya memasukkan keringat Rasulullah Saw. yang sedang tidur siang. Ketika ditanya, Ummu sulaim menjawab bahwa keringatnya mau dijadikan parfum, karena wanginya adalah wangi terbaik. (HR. Muslim).

Adapun makna hakikat yang saya tangkap, keharuman yang lekat bagi yang tersentuh dengan kulit Rasulullah Saw. adalah keberkahan dari Rasulullah Saw. Lihatlah kisah Ukasyah Ra. yang ingin memukul Rasulullah Saw. dengan tongkat kayu secara langsung… padahal itu dilakukannya hanya sebagai alasan agar kulit tubuhnya dapat menempel dengan kulit tubuh mulia Rasulullah Saw., Ukasyah menjelaskan dengan tersentuhnya kulitnya tersebut sebagai wasilah agar Allah Swt. menjauhkannya dari api neraka. Dan masih banyak lagi kisah seperti ini yang mengharap keberkahan dari segala hal yang pernah disentuh atau dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Dengan makna demikian, sah lah jika Musthofa Athef melanjutkan pujiannya sebagai berikut :

وعم ناولها كل العبادي .. حبيب الله يا خير البرا
Dan pemberian beliau melimpah kepada para hamba Allah
Duhai Kekasih Allah, Duhai manusia terbaik!

Bagaimana tidak melimpah, dari sirah nabi, kita tahu betul bahwa seluruh hidupnya Rasulullah Saw. senantiasa berpikir untuk kepentingan umatnya. Sampai sakaratul maut pun dengan lirih beliau menyeru umatnya….. betapa melimpahnya kasih sayang mewah ini yang diberikan Sang Qomar kepada seluruh manusia. Bagaimanapun gelap yang menyertai manusia, maka Rembulan tak pandang bulu untuk menyinarinya.

ولا ظل له بل كان نورا .. تنال الشمس منه والبدورا
Beliau tak memiliki bayangan karena beliau adalah cahaya
Bahkan matahari dan purnama mendapatkan cahaya darinya

Mungkin banyak dari kita menyangka kalimat ini adalah ungkapan majas. Namun ternyata apa yang dikatakan Musthofa Athef bahwa Rasulullah Saw. tak berbayang adalah ungkapan yang berdasar. Hal ini sebagaimana penjelasan Sahabat beliau Ibnu Abbas Ra. yang mengatakan :

لم يكن للنبى صلى الله عليه وسلم ظل ، ولم يقم مع الشمس قط إلا غلب ضوؤُه ضوءَ الشمس،
 ولم يقم مع سراج قط إلا غلب ضوء السراج .
Sosok Rasulullah Saw. tidak ada bayangannya. Jika beliau berdiri sedangkan matahari bersinar, maka sinar yang terpancang dari beliau mengalahkan sinarnya matahari. Begitu pula jika beliau berdiri di tengah cahaya lampu, maka cahaya beliau lebih terang daripada cahayanya lampu.

Musthofa Athef melanjutkan nasyidnya, kali ini adalah ungkapan pujian bercampur syukur atas adanya Rasulullah Saw.

ولم يكن الهدي لولا ظهوره .. وكل الكون انار بنور طه

Tak kan ada petunjuk hidayah jika beliau tak dilahirkan
Alam seluruhnya menjadi terang karena cahaya Sang Thoha

Rasulullah Saw. adalah wasilah bagi seluruh manusia untuk mengenal ajaran agama Islam. Sebab itu sudah selayaknya kita bersyukur atas nikmat dijadikannya kita sebagai umat Rasulullah Saw. Dengan cahaya Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. inilah maka seluruh dunia terkena penerangan.

Akhirnya…

Bagaimana aku tak memujimu duhai Rasulullah…. Jika PenciptaMu dan para malaikat pun bersholawat kepadamu.

Saksikanlah duhai Rasuuulll….. aku bersholawat kepadamu…. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidini wa Habibina wa Syafi’inaa…. Muhammadin ibn Abdillah.

Wallahu a’lam.

Sejenak, mari kita mendengarkan alunan nasyid Qomarun berikut ini……


  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Nasyid Qomarun : Sebuah Tafsir atas Pujian Kepada Nabi Tertampan Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar