728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Saturday, 8 October 2016

Mana yang lebih utama, Taat kepada Ulama atau kepada Pemerintah?

Koleksi Kitab Cak Gopar; Marah Labid Lis Syaikh Nawawi al-bantani
Mana yang lebih utama, Taat kepada Ulama atau kepada Pemerintah?
(Kajian Tafsir al-Qur’an Islam Nusantara, Marah Labid li Kasyfi Ma’na Qur’an Majid atas surat an-Nisa ayat 59)

Tulisan ini mengajak bersama-sama mengkaji makna “Taat kepada Ulil Amri” yang sering sebagian dari kita memahami dengan arti “Taat kepada pemimpin”, sebagian memaknai “Taat kepada pemerintah”.

Tak kenal maka tak faham. Agar faham, sejenak kita kenalan dulu dengan empu-nya tafsir.
Namanya masyhur dikenal dengan sebutan Imam Nawawi, pada zamannya, di Arab sana banyak yang menyebutnya dengan Imam Nawawi ats-Tsani, hal ini agar tidak bingung dengan Imam Nawawi penulis kitab Syarh Muslim dari Suriah itu, yang makamnya setahun lalu di-bom teroris Jabhah Nusroh itu lho.

Imam Nawawi yang akan kita bahas tafsirnya ini asli kelahiran Indonesia, di Banten tepatnya. Sebab itu hingga saat ini beliau dikenal dengan sebutan IMAM NAWAWI AL-BANTANI.

Beliau ini tinggal di Mekkah hingga wafatnya. Sebagai seorang yang dikenal alim, komunitas Jawi (orang Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan sekitarnya) yang juga tingga di Mekkah meminta beliau untuk menulis tafsir al-Qur’an. Oleh beliau permintaan ini ditolak mentah-mentah, alasannya Imam Nawawi takut dengan ancaman dua buah hadis yang menyatakan betapa bahayanya orang yang berbicara tentang al-Qur’an atas dasar gagasannya sendiri.

Permintaan komunitas Jawi ini terus berlanjut. Dan akhirnya beliau mengabulkan untuk menulis kitab tafsir al-Qur’an, itu pun beliau lakukan dengan merujuk kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, bukan murni dari pendapat beliau. Jadilah tafsir ini dinamakan MARAH LABID LI KASYFI MA’NA QUR’AN MAJID, yang entah bagaimana di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan TAFSIR AL-MUNIR.

Jadi beliau adalah ulama yang sangat waro’, tidak menulis tafsir berdasarkan gagasan dan pendapat pribadi. Dan tafsirnya ini sangat ISLAM NUSANTARA sekali, ditulis oleh ulama Nusantara, ditulis berdasarkan permintaan komunitas Nusantara yang tinggal di Mekkah.

Hingga kini, banyak lho ulama’-ulama’ Jawa khususnya dan Indonesia Umumnya yang sanad keilmuannya bersambung dari beliau.

Baik cukup itu saja kenalannya. Sekarang mari kita mengkaji bagaimana menurut beliau tentang makna “Ulil Amri” ini.

Mari kita hadirkan ayat yang menjadi kajian kita, surat an-Nisa’ ayat 59…. (Ingat, bukan al-Maidah ayat 51 ya. hehehe).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

Dalam tafsirnya, Imam Nawawi menjelaskan sebagai berikut:

Bahwa ayat ini mengandung empat pokok (ushul) syariat. Yaitu : al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. 
Dari al-Qur’an kita mengetahui salah satu perintah Allah, yaitu seyogyanya kita taat kepada Rasul.
Dan dari as-Sunnah kita mengetahui salah satu perintah Rasul adalah seyogyanya kita taat kepada Allah. Dengan demikian ini klop, inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat ini, “taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)”, yang maksudnya adalah kewajiban untuk mengikuti al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah.
Dari penjelasan Imam Nawawi di atas, saya kira memang jelas, sebagai Muslim kita harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mari kita lanjutkan kajian, siapa itu “Ulil Amri” yang dimaksud ayat ini menurut Imam Nawawi. Berikut secara gamblang dan jelas, tanpa ke sana-sini beliau to the point menjelaskan :
Maksud dari kalimat “Ulil Amri” adalah seluruh Ulama’ dari kalangan Ahl al-Aqd Wa al-Hal, pemegang kebenaran (Umara al-Haq) dan penguasa yang adil (Wulat al-Adl). Adapun penguasa yang jelek (Umara al-Jur) maka ia dikecualikan dari perolehan hak kewajiban taat kepada mereka.
Ok, saya perjelas kembali, dengan bahasa lain yang lebih mudah, Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud “Taatlah kepada Ulil Amri” pada ayat ini, maksudnya adalah “Taatlah kamu kepada para ulama dari kalangan Ahlul Hal wal Aqd (Ahwa)”, yang mana para ulama Ahwa ini adalah pemegang kebenaran dan penguasa yang adil. Tidak bisa tutup mana, ada lho penguasa yang jelek, model semacam ini adalah pengecualin, artinya kita tidak wajib untuk taat kepada mereka.

Sebelum menjelaskan mengapa Imam Nawawi menjatuhkan pilihan bahwa makna Ulil Amri adalah Para Ulama, mari kita simak juga konteks turunnya ayat ini.

Imam Nawawi menjelaskan sebab turunnya ayat ini dengan mengutip dua riwayat. 
Dari Said Ibn Jubair yang menceritakan bahwa Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah Ibn Huzafah al-Sahmi, ketika diutus oleh Nabi Saw. untuk menjadi Amir (pemimpin) pada satu detasemen pasukan.
Sedangkan riwayat dari sahabat Ibn Abbas Ra. bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Khalid Ibn Walid Ra. yang diutus oleh Nabi Saw. menjadi Amir (pemimpin) pada satu detasemen pasukan, sementara di detasemen pasukan tersebut sudah ada Ammar bin Yasar (yang sudah jadi pemimpin pasukan tersebut). Akibatnya keduanya terlibat dalam perselisihan dalam suatu masalah. Maka turunlah ayat ini dan memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri. Dengan demikina, pada konteks ini maksud dari Ulil Amri adalah para pemimpin detasemen.
Ingat ya bro, kalau dilihat konteks turunnya ayat, menurut Imam Nawawi, Ulil Amri adalah para pemimpin detasemen pasukan.

Kembali ke topik sebelumnya, sekarang, mari kita lihat bagaimana penjelasan Imam Nawawi sehingga beliau berpendapat bahwa makna “Ulil Amri” pada ayat ini adalah ulama’. Bukan seperti yang sering kita fahami, bahwa ulil amri adalah penguasa/pemerintah/pemimpin dan lain sebagainya.

Imam Nawawi menjelaskan sebagai berikut :
Para Ulama’ mengatakan bahwa :
  • Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban yang qot’i.
  • Taat kepada Ahl al-Ijma’ (Ulama’ Ahwa -red), juga adalah kewajiban qot’i
  • Adapun taat kepada Umara’ (penguasa) dan para Sultan, mayoritas ulama mengatakan bahwa taat kepada mereka HARAM hukumnya. Hal ini karena mereka hanya memerintah dengan DZALIM. Meskipun ada yang menyatakan bahwa taat kepada mereka wajib, namun hal itu hanya berdasarkan atas sangkaan-sangkaan yang dhaif (lemah).
Sampai di sini kalimat Ulil Amri mengandung arti al-Ijma’.
Ingat ya bro, sekali lagi, menurut Imam Nawawi arti Ulil Amri itu adalah al-Ijma’. Yang mana telah dijelaskan sebelumnya, mereka inilah para ulama’ Ahlul Halli wal Aqdi.

Yang paling menarik bagi saya, adalah kesimpulan terakhir Imam Nawawi mengapa beliau menjatuhkan pilihan bahwa makna Ulil Amri adalah para ulama. Beliau menjelaskan :

وأيضا إن أعمال الأمراء والسلاطين موقوفة على فتاوى العلماء والعلماء في الحقيقة أمراء الأمراء
“Lagi pula segala kebijakan (Amal) penguasa (pemerintah) dan para Sultan itu harus bergantung pada fatwa ulama. Dan Ulama pada hakikatnya adalah penguasa para penguasa (Ummara al-Umara) dan mereka adalah Ulil Amri.”

Kesimpulan :

Jadi kesimpulannya adalah, setelah membaca tafsir Imam Nawawi yang Nusantara banget ini, firman Allah Swt. yang menyeru agar kita taat kepada Ulil Amri adalah perintah agar kita taat kepada Ulama. Taat kepada para Ulama’ itu adalah kewajiban setelah kewajiban taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa Imam Nawawi tidak memaknai Ulil Amri pada ayat ini dengan penguasa atau pemerintah?. Karena menurut beliau, penguasa/pemerintah itu seringkali berbuat dzolim….. sampean-sampean tahu kan contoh pemerintah yang dzolim? Ya seperti yang doyang gusur-gusur rakyatnya sendiri itu lho, yang suka caci-maki ke rakyatnya sendiri itu lho…. *twing-twing, langsung mikir, siapa ya kira-kira… hehehe*.

Toh, para penguasa atau pemerintah itu kan harus taat kepada para ulama’. Dari sini kita tahu, bahwa hakikatnya ulama’-lah yang menguasai para penguasa. Rakyat harus taat kepada pemerintah, pemerintah harus taat kepada ijma’ulama.
Mana yang lebih utama, taat kepada pemerintah atau kepada para ulama’.
Menurut Tafsir Al-Qur’an Islam Nusantara adalah….. Taat kepada Ijma’ Ulama’.

Wa Allahu a’lam

Malang
Menjelang Subuh
9 Oktober 2016
4.08 AM

  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Mana yang lebih utama, Taat kepada Ulama atau kepada Pemerintah? Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar