728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Wednesday, 5 October 2016

Masa kecil Nabi Adam, apakah ada?


Beberapa hari lalu, seorang mahasiswa bertanya kepada saya. “Pak, apakah Nabi Adam as. itu mengalami masa kecil seperti kita? atau diciptakan langsung dewasa?”.
Di detik pertama saya diam sejenak karena tersedak pertanyaan yang tidak saya sangka ini. Pada beberapa detik kemudian saya menerawang meraba-raba ayat-ayat penciptaan Nabi Adam as.
Akhirnya saya jawab : “Iya, Nabi Adam itu manusia, dan tentu pernah mengalami masa kecil seperti selayaknya manusia”.
Kenapa saya mengatakan seperti itu? Berikut penjelasan saya pada saat itu:

Alasan Pertama :
1.      Karena banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang penciptaan Nabi Adam as. khususnya (dan penciptaan manusia pada umumnya), semua menggunakan lafadz yang berakar dari kata “Kho-la-qo” yang pada ayat-ayat tersebut menjelaskan penciptaan dari aspek material-biologis.
Berbeda dengan ayat-ayat yang menggunakan kata yang berakar dari “Ja-‘a-la”, pada ayat-ayat ini berbicara tentang manusia dari aspek kemanusiaan, status, psokologis dan lain sebagainya.

Jika ayat-ayatnya penciptaan nabi Adm as.banyak  menjelaskan dari aspek material-biologis, berarti selayaknya manusia, nabi Adam pun mengalami proses menua dari anak-anak hingga dewasa.

Sebab itu ada riwayat yang menjelaskan bahwa usia nabi Adam itu 1000 tahun. Jika demikian, maka beliau pernah mengalami usia 900 tahun, 500 tahun, 100 tahun, 50 tahun, 10 tahun dst.

Alasan Kedua :
2.      Contohnya ayat 59 surat Ali Imran :
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah itu seperti Adam.”

Terkait dengan sebab turunnya ayat ini, banyak para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini mem-perumpamakan antara nabi Adam dan Nabi Isa alaihimaa-s-salam dari segi sifat kelahirannya, bahwa keduanya dilahirkan tanpa seorang ayah, nabi Adam lebih dahsyat lagi, tanpa ayah dan tanpa ibu. Jadi perumpamaan ayat ini bukan dari aspek siapa dulu yang diciptakan.

Lanjutan ayatnya dijelaskan :
خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“(Allah) menciptakannya dari tanah, kemudian Allah berfirman : “Jadilah!”, maka jadilah dia.”

Diawali dengan kata “Kho-la-qo”, yang menunjukkan penciptaan material-biologis dari tanah. Kemudian Huruf ha’ dhomir pada ayat ini merujuk kepada nabi Isa as., bahwa ia diciptakan dari tanah. Konklusi yang harus diterima dalam perumpamaan kalimat sebelumnya, berarti nabi Adam juga diciptakan dari tanah.
Sebenarnya doktrin “manusia diciptakan dari tanah” adalah salah satu doktrin dalam agama kita tentang proses penciptaan manusia seluruhnya, bukan hanya Nabi Isa dan Nabi Adam saja.

Yang menarik, pada ujung ayat ini, yaitu kalimat “Kun Fa yakuunu”….

Ketika Allah Swt. berfirman “KUN…. Jadilah!”, maka untuk menjadi YAKUUNU (ada) itu membutuhkan proses. Lihat saja redaksinya, antara kata KUN dan YAKUUNU itu ada FA (kemudian/maka).

Lihat juga pada banyak ayat-ayat tentang penciptaan manusia dalam al-Qur’an, dijelaskan adanya proses dari nuthfah, kemudian jadi ‘alaqoh, lalu jadi mudhghoh, lalu jadi idzhom, kemudian dibungkus dengan lahm (daging), baru ditiupkan ruh, maka jadilah manusia.

Proses ini lah dinamakan YAKUUNU…. Dalam bahasa arab bentuk kalimat seperti ini disebut fi’il mudhori’, menjelaskan yang sedang atau akan terjadi. Jadi, Allah Swt. itu menghargai adanya proses, begitu sunnatullahnya!.

Waktu saya kecil dulu, ketika membaca makna Kun fa yakun saya selalu membayangkan seperti sulap, dari ‘tidak ada’ dengan tidak kurang dari sedetik lalu menjadi ‘ada’. Walaupun tentu Allah Swt. bisa dengan mudah melakukan hal seperti itu, Karena Dia itu Qadirun ala kulli syai’…. Kuasa terhadap segala sesuatu!

Alasan Ketiga :
3.      Apakah ada tafsir yang menjelaskan dengan jelas bahwa nabi Adam pernah menjadi seorang anak?. Ternyata ada (Jawaban ini tidak saya berikan ketika di kelas bersama mahasiswa penanya tadi, tapi saya ketahui seletah menelusuri beberapa kitab tafsir).

Hal ini bisa kita lihat tafsir atas nsurat Maryam ayat 21, Imam Abu Manshur al-Maturidi, ulama top Ahlussunnah wal Jamaah tersebut dalam kitabnya Ta’wilaat Ahlis Sunnah : Tafsir al-Maturidi ketika menjelaskan mukjizat nabi Isa as. yang dilahirkan tanpa ayah, Imam al-Maturidi memberikan contoh dengan gamblang menjelaskan seperti berikut :

للأنبياء الذين كانوا من قبل: إنه يخلق ولدًا بلا أب ولا أم

“Bagi para nabi sebelumnya : sesungguhnya Dia menciptakan SEORANG ANAK tanpa ayah dan ibu”.

Dan kita tahu, dari sekian banyak nabi yang diciptakan tanpa seorang ayah dan ibu itu hanya satu, yaitu Nabi Adam as. dan dengan jelas Imam Maturidi menjelsakan dengan lafadz WALAD,,,, alias ANAK!.

Kemudian pertanyaan berlanjut dari mahasiswa lain. “Lalu apa saja yang pernah dialami Nabi Adam pada masa kecilnya?”.

Tapi berhubung jari saya sudah capek untuk ngetik terlalu panjang, dan malam semakin larut.... so kapan-kapan saja jawaban atas pertanyaan ini saya tulis beberapa hari lagi insya Allah.

Wallahu a'lam bish-Showaab.

Malang, 
Rabu, 05102016
9.55 PM


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

6 blogger-facebook:

  1. Maa syaa Alloh! Mendalam banget pembahasannya, Ustadz.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.... semoga bermanfaat. :)

      Delete
  2. Bagaimana dengan hawa apakah mengalami masa keci?

    ReplyDelete
  3. baru saja saya menjelaskan jawaban ini pada teman saya, namun saya ragu apakah benar atau salah.. awalnya saya berpikir bahwa nabi Adam di surga itu ketika kanak2, dan saat beliau dewasa beliau kesepian dan Allah menciptakan Hawa sebagai teman Adam, namun kapan manusia berdosa ? ketika Nabi Adam dan Hawa memakan buah Kuldi (buah Pengetahuan) dan saat itulah mereka telanjang dan berlaku dosa pada diri mereka...

    maka dari sejarah itu jadilah saat ini juga, ketika saya masih anak2 dosa tidak berlaku bagi saya, namun ketika saya sudah balig, dosa berlaku bagi saya.. ini menandakan bahwa kutukan buah kuldi di tubuh kita juga terjadi..

    ReplyDelete

Item Reviewed: Masa kecil Nabi Adam, apakah ada? Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar