728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Wednesday, 28 December 2016

Naskh-Mansukh Dalam Tafsir Marah Labid Imam Nawawi Banten


Menelusuri Makna Naskh-Mansukh dari ayat-ayat al-Qur'an prespektif Imam Nawawi.

Term Naskh-Mansukh disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak empat kali, yaitu dalam surah Al-Baqarah: 106, Al-A‘raf: 154, Al-Hajj: 52, dan Al-Jasiyah: 29. Dari akar kata yang digunakan dalam al-Qur’an ini, muncul bebeapa makna, yaitu : pembatalan (al-Ibtal), penghapusan (al-izalah), dan pemindahan (al-Naql).

Dalam uraian berikut, akan dijelaskan bagaimana penjelasan Imam Muhammad Nawawi al-Bantani mengenai term naskh-mansukh dalam penggunaan al-Qur’an dan bagaimana argumen beliau dalam menggunakannya mengenai masalah ini. Kesemuanya ini penulis mengambil kitab tafsir beliau Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Qur’an Majid sebagai rujukan utama.


1. Naskh-Mansukh dalam Al-Baqarah: 106.

Ketika menjelaskan term Naskh dalam surat al-Baqarah ayat 106, beliau menjelaskan ayat maa nansakh min aayatin dengan :

ما نبدل آية إما بأن نبدل حكمها فقط أو تلاوتها فقط أو نبدلهما معاً
Ayat yang telah Kami ganti (berarti) Kami mengganti hukumnya saja, atau mengganti tilawahnya (bacaan) saja, atau mengganti kedua-duanya secaara bersamaan.

Dengan penjelasan berbeda, Imam Nawawi mempertegas penjelasannya dengan menjelaskan:

ما نمحو من آية قد عمل بها، أو نؤخر نسخها فلا نرفع تلاوتها ولا نزيل حكمها

Ayat mana saja yang telah Kami hapuskan, atau akhirnya Kami menggantinya maka Kami tidak menghapuskan tilawahnya (bacaanyan)  dan Kami tidak menghilangkan hukumnya.

Dari penjelasan ini dapat diketahui bagi Imam Nawawi makna Naskh adalah penggantian (Tabdil) atau penghapusan (al-Mahwu).


2. Naskh-Mansukh dalam al-A’raf : 154.

Ketika menjelaskan kalimat Wa fii nuskhaatihaa pada surat al-A’raf ayat 154, Imam Nawawi menjelaskan :
وفي المكتوب فيها
Di dalam yang tertulis pada lauh

Dalam hal ini, nampaknya Imam Nawawi tidak berbeda jauh dengan pendapat para mufasir lain yang mengartikan naskh pada ayat ini dengan : catatan, kutipan atau salinan.


3.  Naskh-Mansukh dalam al-Hajj : 52.

Ketika menjelaskan kalimat Fayansakhullaah pada surat al-Hajj ayat 52, Imam Nawawi menjelaskan dengan dengan makna يزيل (menghilangkan/al-Izalah)  

Sedangkan dalam surat al-Jasiyah ayat 29 yang disebutkan kata inna kunna nastansikhu, Imam Nawawi menjelaskan dengan :
إنا كنا فيما قبل نأمر الملائكة بإثبات أعمالكم في الكتابة
Sesungguhnya Kami berada dalam (perkara) sebelum Kami memerintahkan para malaikat dengan ketetapan amal-amal kalian dalam penulisan.


4. Naskh-Mansukh dalam al-Jasiyah : 29.

Dalam penjelasan term naskh dalam al-Jasiyah ayat 29 ini, Imam Nawawi juga tidak berbeda jauh dengan pendapat para mufassir mengenai arti ayat ini.

Dari uraian penelusuran makna term naskh-mansukh diatas dapat disimpulkan, bahwa menurut Imam Nawawi dalam kitab tafsirnya, makna Naskh adalah mengganti (Tabdil), penghilangan (al-Izalah) atau penghapusan (al-Mahwu).

Terjadi perbedaan pendapat diantara ulama tafsir mengenai jumlah ayat al-Qur’an yang terdapat naskh-mansukh, Imam Suyuti misalnya, mengatakan bahwa ayat-ayat yang dinasakh berjumlah 20 ayat,[1] Imam az-Zarqani menyebutkan hanya ada 7 ayang yang di-naskh,[2] dan Musthafa Zayd mengatakan hanya ada 5 ayat saja,[3] begitu juga ad-Dahlawi yang mengatakan ada 5 ayat yang di-Naskh,[4] dan Sa'ad Jalal yang mengatakan ada 4 ayat yang di-Naskh.[5]

Mengenai berapa jumlah ayat dalam al-Qur’an yang terjadi Naskh-Mansukh, Imam Muhammad Nawawi tidak menjelaskannya secara detail, namun ketika beliau menjelaskan surat al-Baqarah ayat 106 secara tersirat menyebutkan beberapa ayat yang terjadi naskh, beliau menulis:

كنسخ وجوب مصابرة الواحد لعشرة من الأعداء بوجوب مصابرته لاثنين أو في كثرة الأجر
 كنسخ التخيير بين الصوم والفدية بتعيين الصوم أو نأتِ بمثلها في التكليف والثواب
 كنسخ وجوب استقبال صخرة بيت المقدس بوجوب استقبال الكعبة فهما متساويان في الأجر

Pada penjelasan ini, Imam Nawawi memberikan contoh naskh yang terjadi di dalam al-Quran terjadi pada beberapa ayat yang menjelaskan tentang dihapuskannya hukum yang sebelumnya setiap orang wajib bersabar menghadapi sepuluh orang musuh kemudian dirubah dengan  setiap orang wajib bersabar hanya dengan menghadapai dua musuh saja. Kemudian beliau juga memberikan contoh adanya naskh mengenai ditetapkannya kewajiban hukum berpuasa dari yang sebelumnya membolehkan antara memilih membayar fidyah atau berpuasa. Dan terakhir adanya naskh tentang hukum yang tadinya menghadap Baitul Maqdis dan kemudian diganti dengan ayat yang memerintahkan menghadap ke arah Ka’bah.

Dari penjelasan diatas, dari penelitian penulis bahwa ketiga penjelasan tersebut mengarah kepada ayat-ayat sebagai berikut :

PERTAMA

Hukum wajib setiap orang bersabar menghadapi sepuluh musuh diganti (mansukh) dengan setiap orang wajib bersabar menghadapi dua musuh saja.
Penjelasan Imam Nawawi mengenai ini mengarah tentang surat al-Anfal ayat 65 dan 66. Yang mana ayat 66 merupakan nasikh :

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

dan ayat 65 adalah mansukh :

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.

Yang menarik dari hal ini adalah, sebagaimana telah disebutkan di bab sebelumnya, bahwa Imam Nawawi adalah penganut madzhab Syafii. Namun dalam persoalan naskh-mansukh ini Imam Nawawi tidak sepenuhnya berpendapat sama dengan Imam Syafii.

Mengenai naskh-mansukh, Imam Syafii menjelaskan bahwa makna naskh adalah taraka fardahu (meninggalkan kefardhuan) :

وهكذا كلُّ ما نسخ الله، ومعنى (نَسَخَ): تَرَكَ فَرْضَه: كان حقًّا في وقته، وترْكُه حقًّا إذا نسخه الله، فيكون من أدرك فرضَه مُطيعا به وبتركه، ومَن لم يُدْرِك فرضَه مُطيعا باتِّباع الفرْضِ الناسِخ له

“Demikianlah setiap yang telah dinasakh Allah adalah benar pada waktunya dan meninggalkan kefarduan ayat itu juga benar jika telah dinasakh oleh Allah. Arti (nasakh) adalah  meninggalkan  kefarduannya.  Siapa  yang  menjumpai kefarduannya  hendaknya  menaatinya  dan  siapa  yang  tidak menjumpainya  hendaknya menaati dengan cara mengikuti kefarduan yang menasakhnya”

Sebaliknya mengenai naskh-mansukh yang ada dalam surat al-Anfal ayat 65-66 ini Imam Nawawi menjelaskan bahwa kedua ayat ini menjelaskan adanya pilihan (opsi), menurut kemampuan. Sehingga hukum yang berlaku tidaklah tetap. Artinya, naskh dalam perkara ini bukanlah penggantian hukum sebagaimana pendapat Imam Syafii diatas. berikut penjelasan Imam Nawawi mengenai kedua ayat ini :

وهذه الآية دلت على أن ذلك الشرط مفقود في حق هذه الجماعة فلم يثبت ذلك الحكم. وعلى هذا التقدير لم يحصل النسخ ألبتة، فقد أنكر أبو مسلم الأصفهاني النسخ.
أي إن العشرين إن قدروا على مصابرة المائتين بقي ذلك الحكم، وإن لم يقدروا على مصابرتهم، فالحكم المذكور هناك زائل، وهذا يدل على صحة مذهب أبي مسلم


KEDUA

Hukum bolehnya memilih antara berpuasa atau membayar fidyah diganti (mansukh) dengan penetapan hukum wajibnya berpuasa.

Penjelasan Imam Nawawi mengenai ini mengarah tentang surat al-Baqarah ayat 184 dan 185.
Kutipan ayat 184 yang menyatakan adanya pembolehan membayar fidyah bagi orang yang berpuasa (mansukh) adalah :

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah.

Mengenai ayat ini, dengan jelas Imam Nawawi mengatakan hukum yang ada dalam ayat ini dihapus dan diganti (mansukh). Beliau mengatakan :

إن هذه الآية منسوخة وذلك أنهم كانوا في صدر الإسلام مخيَّرين بين الصيام والفدية،  وإنما خيَّرهم الله تعالى بينهما لأنهم كانوا لم يتعودوا الصيام فاشتد عليهم فرخص الله لهم في الإفطار


Adapaun kutipan ayat sebagai nasikh adalah ayat 185 :

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.


KETIGA

3.      Hukum wajibnya menghadap arah Baitul Maqdis sebagai kiblat diganti (mansukh) dengan penetapan wajibnya hukum menghadap ke arah Ka’bah sebagai kiblat.

Penjelasan Imam Nawawi mengenai ini mengarah tentang surat al-Baqarah ayat 115 sebagai mansukh, dan al-Baqarah ayat 144 sebagai nasikh.

Surat al-Baqarah ayat 115 tertulis :

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Pada surat al-Baqarah ayat 143 Imam Nawawi menjelaskan bahwa penetapan Baitul Maqdis sebagai kiblat diganti (mansukh) oleh ketetapan perintah menjadikan Ka’bah sebagai arah kiblat.

Beliau menjelaskan :
إيمانكم بالقبلة المنسوخة وصلاتكم إليها، أي فإن الله لا يضيع تصديقكم بوجوب تلك الصلاة

Adapaun kutipan ayat yang menjadi Nasikh adalah al-Baqarah ayat 144 :

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.

Dari ketiga ayat yang disana terjadi naskh-mansukh menurut isyarat yang diberikan oleh Imam Nawawi ketika menjelaskan surat al-Baqarah ayat 106 di atas, tentu saja tidak berarti bagi Imam Nawawi hanya 3 ayat itu saja yang terjadi nasikh-mansuh.

Dari penelitian yang penulis lakukan, ditemukan beberapa ayat lain dalam tafsir Marah Labid ini yang mana Imam Nawawi menjelaskan adanya Naskh-mansukh. Ayat-ayat tersebut antara lain :


KEEMPAT

Hukum masa iddah bagi istri yang ditinggalkan oleh suami yang meninggal dunia yaitu tinggal di rumah selama satu tahun diganti hukumnya (mansukh) dengan melakukan iddah selama 4 bulan saja.
Penjelasan tentang adanya nasikh-mansuh dalam hal ini dengan jelas disebutkan oleh Imam Nawawi ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 240, yaitu :

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Adapun yang ayat yang menjadi nasikh dengan jelas disebutkan oleh Imam Nawawi yaitu surat al-Baqarah ayat 234 berikut :

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.


KELIMA

Hukum pemberian bagian waris bagi orang dekat yang bersumpah setia telah dihapus (mansukh) dengan pemberian kepada yang mempunyai hubungan kekerabatan saja.

Ayat mansukh dalam hal ini adalah surat al-Nisa ayat 33 :

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang menjadi titik penekanan tentang naskh-mansukh ayat ini terletak pada kata fa’tuhum nasibahum. Imam Nawawi menuliskan, jika fa’tuhum nasibahum diartikan mengarah ke persaudaraan Muslim secara umum, maka ayat ini tidak dimansukh (tidak dihapus). Namun jika kalimat fa’tuhum nasibahum bermakna kekerabatan yang telah didasarkan akad, seperti dengan suami atau istri, maka ayat ini di-mansukh dengan dua ayat, yaitu surat al-Anfal ayat 75 :

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan surat al-Nisa ayat 11, yang mana pada ayat ini telah dibahas secara luas mengenai pembagian waris.

Lebih jelasnya berikut ini penjelasan Imam nawawi ketika menjelaskan adanya mansukh dalam surat al-Nisa; ayat 33 :

وقوله: { فَأاتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ} على الميراث  وهو السدس  فهذه الآية حينئذ منسوخة بقوله تعالى:  {وَأُوْلُواْ ٱلارْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ} (الأنفال: 57) وبقوله تعالى: {يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ}

Dari penelitian yang penulis temukan, hanya ada 5 ayat seperti yang diuraikan di atas yang dengan jelas Imam Nawawi menyatakan adanya naskh-mansukh. Keseluruhan naskh-mansukh dalam tafsir Marah Labid dapat dilihat dalam table berikut :[6]

No
Mansukh
Nasikh
1
Al-Anfal : 65
Al-anfal : 66
2
Al-Baqarah : 184
Al-Baqarah : 185
3
Al-Baqarah : 115
Al-Baqarah : 144
4
Al-Baqarah : 240
Al-Baqarah : 234
5
Al-Nisa : 33
Al-Anfal : 75 dan al-Nisa :11

Wallahu a'lam.




[1] As-Suyuti, al-Itqan, Juz 3, hlm. 60
[2] Az-Zarqani, Manahil al-Irfan, hlm. 415-422
[3] Mustafa Zayd, al-Naskh fi al-Quran al-Karim : Dirasah Tasyri'iyyah Tarikhiyyah Naqdiyyah, Jild 2, (Kairo: Dar al-Yusr, 2007), h.337
[4] ad-Dahlawi, al-Fauz al-Kabr, h.46
[5] Abu Asi, Dirasah fi al-Naskh, hlm. 177
[6] Pencarian ayat-ayat yang terjadi nasih-mansuh dalam tafsir Marah Labid ini dilakukan dengan cara pencarian dengan kitab Marah Labid versi digital dengan keyword : منسوخ  . Dari Keyword ini penulis menemukan beberapa ayat yang membicarakan perdebatan  perbedaan para ulama tentang nasih-mansuh, namun hanya pada kelima ayat ini saja lah yang dengan jelas oleh Imam Nawawi dinyatakan terjadi nasih-mansuh.
  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Naskh-Mansukh Dalam Tafsir Marah Labid Imam Nawawi Banten Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar