728x90 AdSpace

Baru Dicoret
Tuesday, 4 July 2017

Tusuk Gigi dan Ke-Tidak ikhlas-an yang samar


Dulu, waktu Cak Gopar masih kuliah dan tentunya masih ber-body kurus dan ganteng menawan, setiap kali selesai sarapan di Warteg Ucup, makan siang di Warsun Ujang dan makan Malam di Rumah Makan Padang Sabana di samping kampus (Maklum, mahasiswa kaya, gak pernah nge-mie kayak kamu… iya kamu! wkwkwk), selalu saja mengambil tusuk gigi dengan dua episode.

Episode pertama, apalagi jika bukan untuk nyari sisa-sisa daging rendang yang nyangkut di sela-sela gigi Cak Gopar yang memang renggang, dan kadang juga gak ada yang nyangkut, tapi hanya kebiasaan saja untuk cari-cari sisa makan di situ wkwkwk.

Episode kedua, Cak Gopar mengambil beberapa tusuk gigi untuk kemudian disimpan diselipkan di bagian khusus di dompet yang sudah usang. Perbuatan ini tidak lain, buat jaga-jaga jika nanti makan di restorant yang tidak menyediakan tusuk gigi atau pas lagi di kosan kemudian dapat kiriman berkat dari tetangga yang mengadakan tasyakuran, atau bahkan ketika lagi santai leyeh-leyeh daripada nganggur, tusuk gigi simpanan di dompet akan berguna untuk membersihkan kotoran hitam yang nyempil di ujung jempol kaki. Pokoknya, jika persediaan tusuk gigi di dompet sudah menipis, di warung manapun Cak Gopar makan, maka bak peluru dalam senapan, tusuk gigi akan disimpannya rapi di dompet. Keyakinannya tetap sama, tusuk gigi tersebut itu pasti akan bermanfaat kelak.

Bertahun-tahun kegiatan yang istiqomah Cak Gopar lakukan ini berhenti karena satu kejadian ajaib, ketika Cak Gopar sowan ke Kiyai Dullah, pengasuh pondok Margi Dhowo yang bertahun-tahun lalu ia nyantri di pondok itu.

Setibanya di ndalem kiyai Dullah, remang-remang cak Gopar mendengar suara kiyainya yang sedang membaca kitab. Cak Gopar pun mendekati asal suara, ternyata di ndalem tersebut ada beberapa puluh santri sedang duduk bersila memangku kitab kuning sembari memberi makna pego dari hasil uraian Kiyai Dullah yang duduk di dampar terdepan. Cak Gopar pun ikut duduk bersila di bagian paling belakang. Beberapa menit kemudian Cak Gopar tahu bahwa yang sedang dikaji itu adalah kitab Nashaihul Ibad-nya Syekh Nawawi Banten.

Cak Gopar sendiri sebenarnya sudah tidak asing dengan kitab ini, di tempat yang sama di ndalem Kiyai Dullah beberapa tahun yang lalu, Cak Gopar juga mengaji kitab tersebut, bahkan mungkin sudah 3 kali khatam. Namun entah, dari pembacaan Kiyai Duladi kali ini terasa beda, tiap kalimatnya mengandung pemahaman hikmah bagi jiwa Cak Gopar.

Tibalah pada keterangan tentang cerita yang masyhur ketika Hujjatul Islam Imam Ghazali, yang dikisahkan amal-amal baiknya yang segudang selama di dunia ternyata tak dilirik oleh Sang Maha Kuasa. Untung saja ada amal yang dianggap remeh, ketika dulu di suatu saat Imam Ghazali membiarkan seekor lalat nongkrong di tepi wadah tinta yang ia sedang gunakan untuk menulis. Lalat itu kemudian  meneguk tinta karena kehausan. Ternyata amalan yang dikira remeh ini, “membiarkan dan tidak mengusir lalat yang sedang minum”, justru menjadi kunci diterimanya amal-amal Imam Ghazali yang lain. Jangan anggap remeh amal kecil!.

Ketika Kiyai Dullah menjelaskan tema ini, saat itu juga mata Cak Gopar bertatapan langsung dengan mata kiyai Dullah yang duduk di depan. Seperti disetir dengan energi mistik tertentu oleh Kiyai, tema kajian tersebut tiba-tiba membawa ingatan Cak Gopar pada amal-nya ketika di warung; nyimpen tusuk gigi.

Dengan entah energi mistik yang bagaimana, Cak Gopar mendadak mendapat pencerahan, bahwa setiap pemilik warung manapun yang meletakkan tusuk gigi di meja makan warungnya, tidak lain niatnya adalah HANYA untuk orang yang beli makan di warungnya!!!. Bukan dipake untuk orang yang makan di warung lain, bukan untuk berkat dari tasayakuran orang lain, dan tentu bukan untuk membersihkan kotoran di ujung jempol kaki!!!.

Bagaimana perasaan pemilik warteg atau warsun, jika ternyata tusuk gigi yang selama ini diletakkan di meja ternyata tidak digunakan semestinya. Iya kalau hanya sekali dan cuma sebatang tusuk gigi mungkina mereka ikhlas-ikhlas saja. Tapi kalau ada banyak orang yang modelnya sama dengan Cak Gopar? Dan perbuatan terbut rutin dilakukan?. Apa iya bisa menjamin keikhlasan pemilik warung.
Remeh memang,,,, tapi bisa jadi di hati terselubung pemilik warung tersirat sedikit ketidak relaan yang samar.

Namun Gusti Allah Sang Penguasa setiap hati, tahu betul apa yang tersirat dan tersamar dalam lintasan hati hamba-Nya!.

Tiba-tiba Cak Gopar gemeteran, terbayang jika amal-amalnya di dunia yang sedikit ini, tidak diterima Karena sering “nyuri” tusuk gigi dari warung itu.

Waduh….. tobat Cak!!!

***


“Dan siapa yang mengerjakan amal jelek yang beratnya cuma setitik atom-pun, sungguh dia akan mendapat balasannya”. (Terjemah bebas QS. al-Zalzalah 8)


  • Komentar dengan ID Blogger
  • Komentar dengan Akun Facebook

0 blogger-facebook:

Post a Comment

Item Reviewed: Tusuk Gigi dan Ke-Tidak ikhlas-an yang samar Rating: 5 Reviewed By: Cak Gopar